Saturday, May 2, 2020

Menjadi Perempuan Berdaya dan Memberikan Peran Maksimal dalam Berkarya

Pendidikan bukan hanya untuk memperoleh ilmu tetapi juga untuk membentuk moral. Sepenggal pesan dari Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, yang hari lahirnya diperingati sebagai hari Pendidikan Nasional. Pendidikan pada masa penjajahan Belanda menjadi hal yang begitu eksklusif untuk keluarga priyayi dan orang asli Belanda. Melalui Perguruan Taman Siswa yang digagas oleh beliau, para penduduk pribumi bisa mengenyam pendidikan yang sama dengan orang-orang kaya dan kasta yang lebih tinggi. 


Berkat kegigihan beliau dalam memperjuangkan pendidikan Indonesia, saat ini kita bisa mengenyam pendidikan dengan begitu mudah melalui beragam akses pendidikan yang dapat kita tempuh. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita bersungguh-sungguh dan terus semangat dalam meneruskan perjuangan pendidikan para pejuang terdahulu. 

Pentingnya pendidikan jelas sangat terasa dalam memberikan pengaruh pada pembangunan bangsa. Pun peran perempuan dalam kemajuan pendidikan menjadi faktor penting yang tidak dapat dipisahkan. Bapak Proklamasi Indonesia, Ir. Soekarno, juga menyampaikan bahwa “Perempuan merupakan tiang negara”.


Hal ini berarti perempuan menjadi pondasi utama dalam mencetak peradaban bangsa yang maju dengan pendidikan sebagai alat tempurnya. Perempuan, dalam hal ini Ibu, menjadi agen pendidik pertama dan memiliki andil besar dalam pengembangan potensi anak. Eits, tapi bukan berarti hanya Ibu yang punya tugas mendidik dalam keluarga, ayah juga berpengaruh dalam proses pendidikan anak.


Melihat pentingnya peran perempuan dalam mewujudkan kemajuan pendidikan tidak serta merta memudahkan para perempuan untuk bisa menempuh pendidikan tinggi. Realita yang ada bahwa perempuan selalu dipandang sebelah mata. Pendidikan untuk perempuan hanya dianggap sebagai formalitas belaka karena pada akhirnya perempuan hanya mengurus urusan dapur, sumur, kasur ketika sudah berkeluarga. Padahal ketiga urusan itu akan selesai dengan sangat baik dengan pendidikan sebagai bekal untuk perempuan yang mengerjakannya. 

Aspek pendidikan untuk perempuan juga berpengaruh dalam segala hal. Bahkan ketika perempuan memilih menjadi ibu rumah tangga. Emansipasi wanita terus digaungkan dari jaman penjajahan Belanda sampai sekarang ini. Tidak hanya R.A. Kartini, pahlawan pejuang emansipasi wanita yang mewujudkan kesetaraan perempuan dalam mendapatkan pendidikan. Banyak tokoh perempuan lainnya yang juga mempunyai peranan besar dalam memperjuangkan kesetaraan gender serta memperkuat peran perempuan. 

Ada Dewi Sartika yang mendirikan sekolah pertama untuk perempuan di Bandung. Selain itu dalam dunia jurnalistk ada Rohana Kudus, wartawan asal Padang yang gencar menulis tentang kesetaraan gender di koran. Banyak sekali tokoh pejuang wanita lainnya yang terus berjuang memperkuat peran wanita dengan pendidikan yang dimiliki guna mendukung pembangunan negeri. Termasuk saya yang akan terus melanjutkan studi karena masih ada banyak hal yang harus dipelajari.

Benarkah stereotip gender menjadi halangan perempuan menempuh pendidikan tinggi?
Keputusan saya untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi berdasar pada kebutuhan untuk terus belajar dan mempelajari ilmu yang lebih luas. Sepakat sekali dengan pesan Ki Hajar Dewantara di awal postingan ini, bahwa pendidikan sejatinya tidak hanya tentang ilmu tapi juga pembentukan moral. Pun wadah untuk mendapatkan banyak pengalaman dan juga pelajaran berharga. Meskipun presentase perempuan yang melanjutkan pendidikan tinggi kecil, apalagi untuk bidang engineering yang saya tempuh. Hal tersebut sama sekali tidak membuat saya gentar. Maju sekolah terus, pantang mundur!

Perjuangan nyata untuk menyelesaikan pendidikan Strata 2 di Korea Selatan, Sept 2019 (photo credits: luckycaesar.com)
Baca juga: 

Pendidikan tinggi masih dianggap sebagai hal mewah bagi perempuan. Entah karena stereotip gender yang mengakar pada budaya masyarakat atau stereotip yang berkembang lainnya sehingga membuat ketidakpercayaan diri perempuan untuk menuntut pendidikan tinggi. Anggapan bahwa nantinya perempuan hanya bertanggung jawab dalam urusan domestik rumah tangga membuat sebagian perempuan kurang termotivasi untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Pandangan lainnya mengenai budaya yang berkembang di masyarakat bahwa menikah patut untuk diprioritaskan oleh perempuan dibanding dengan melanjutkan ke pendidikan tinggi. Apalagi kalau perempuan tersebut sudah memasuki usia matang untuk menikah. Sejak dulu, perempuan selalu dilanda tekanan dan ekspektasi sosial yang tinggi. Mulai dari usia menikah, cara bersikap, model pakaian hingga hal penting mengenai keputusan melanjutkan pendidikan tinggi. 

Istilah “menjadi perawan tua” sering dikaitkan apabila perempuan terlalu mengejar pendidikan sehingga lupa menikah dan akibatnya menjadi perawan tua. Belum lagi banyak yang bilang kalau laki-laki cenderung takut menikahi perempuan dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Mungkin saja takut kalau perempuan menjadi lebih dominan dalam “mengontrol” rumah tangga. Ataupun alasan lainnya yang memang tidak mau perempuan lebih tinggi dalam hal pendidikan dibandingkan dirinya.


Pemikiran yang sangat kuno, mungkin begitu yang ada di pikiran teman-teman. Tetapi memang benar begitu adanya. Melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi memang harus dengan banyak pertimbangan. Belum lagi jika keluarga, kerabat atau lingkungan sekitar yang tidak begitu supportive dengan masalah pendidikan. Selain butuh niat yang kuat, mental sekuat baja pun juga harus senantiasa dilatih.

Bagaimana kesempatan menempuh pendidikan untuk kaum perempuan di Indonesia?
Pencapaian kapabilitas perempuan dalam berbagai bidang diukur dengan menggunakan Indeks Pemberdayaan Gender (IPG). Data dari BPS menunjukkan terus terjadi peningkatan IPG selama kurun waktu 8 tahun terakhir dan rekap data terakhir tahun 2018 sebesar 72.1%. Dalam indeks yang lebih luas, pembangunan manusia di Indonesia terus mengalami kemajuan. Pada tahun 2019, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia mencapai 71,92%, meningkat sebesar 0,53 poin atau tumbuh sebesar 0,74% persen dibandingkan tahun 2018.


Kualitas manusia dalam IPM diukur dalam dimensi pendidikan, kesehatan dan juga ekonomi. Komponen pembentuk IPM yang digunakan adalah umur harapan hidup mewakili dimensi kesehatan, angka harapan lama sekolah serta rata-rata lama sekolah yang mewakili dimensi pendidikan, dan pengeluaran konsumsi untuk mewakili dimensi ekonomi. Nilai IPM wanita mengalami peningkatan lebih cepat dibandingkan dengan IPM laki-laki pada tahun 2018, yaitu sebesar 0.87% (IPM perempuan) dan 0.77% (IPM laki-laki).

Peningkatan performa dalam sektor pendidikan menjadi upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan menjadi hal pokok untuk membentuk kapabilitas manusia yang lebih luas dan memainkan peranan dalam mewujudkan pertumbuhan serta pembangunan yang berkelanjutan.

Harapan lama sekolah (HLS) merupakan salah satu analisis statistik yang digunakan untuk mengukur kualitas pendidikan. Anak-anak yang berusia 7 tahun pada 2019 memiliki harapan dapat menikmati pendidikan selama 12,95 tahun (hampir setara dengan masa pendidikan untuk menamatkan jenjang Diploma I). Lebih lama 0,04 tahun dibandingkan dengan yang berumur sama pada tahun 2018.

Hal ini berarti terjadi peningkatan dalam lama penempuhan pendidikan dari pada tahun sebelumnya. Sementara itu, penduduk usia 25 tahun ke atas secara rata-rata telah menempuh pendidikan selama 8,34 tahun (hampir setara dengan masa pendidikan untuk menamatkan jenjang kelas IX). Lebih lama 0,17 tahun dibandingkan tahun sebelumnya. 

Sementara itu, HLS perempuan pada tahun 2018 sebesar 12,99%  dan laki-laki sebesar 12,84%. Pencapaian yang relatif hampir sama ini menandakan bahwa kesetaraan pembangunan dalam aspek pendidikan dapat diwujudkan secara merata dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. 


Selain HLS, rata-rata lama sekolah juga menggambarkan capaian pendidikan jangka panjang yang didefiniskan sebagai jumlah tahun yang digunakan oleh laki-laki dan perempuan usia 25 tahun ke atas dalam menjalani pendidikan formal. Berdasarkan data dari BPS, pada tahun 2018 rata-rata pendidikan yang dijalani oleh laki-laki sekitar 8.62 tahun dan perempuan 7.72 tahun. Hal ini berarti rata-rata pendidikan laki-laki 1 tahun lebih lama dibandingkan dengan perempuan. Lama pendidikan perempuan ke jenjang yang lebih tinggi perlu ditingkatkan agar tercapai kesetaraan dalam aspek pendidikan.

Bagaimana peningkatan kualitas pendidikan bisa memperkuat peran perempuan dalam berkarya? 
Peningkatan kualitas pendidikan tentu dapat memperkuat peran perempuan dalam mendukung pembangunan negeri. Hal ini bisa dilihat dengan peningkatan presentase perempuan yang bekerja sebagai tenaga professional sebesar 0.72 poin menjadi 47.02% pada tahun 2018. Tidak hanya itu, perempuan juga menjadi pemeran utama dalam industri ekonomi kreatif dengan presentase 53.68%. Sektor ekonomi kreatif cukup signifikan dalam mendukung perekonomian Indonesia. Pada tahun 2018, sektor ekonomi kreatif menyumbang sebanyak Rp 1.105 triliun ke PDB dan mampu menyerap lebih dari 17-18 juta tenaga kerja.


Dari sisi kepemilikan usaha ekonomi kreatif, hasil sensus ekonomi tahun 2016 jumlah pengusaha perempuan masih mendominasi sebesar 54.96% dibanding dengan pengusaha laki-laki di ekonomi kreatif sebesar 45.04%. Selain itu, pada tahun 2011-2016 tercatat pertumbuhan tenaga kerja perempuan sebanyak 9%. 

Dominasi perempuan pada industri ekonomi kreatif (IEE) disebabkan karena IEE lebih bersifat dinamis dan juga fleksibel sehingga memungkinkan perempuan mengambil peran ganda dengan tetap bekerja dan berkarya di tengah kesibukan lainnya baik sebagai pekerja ataupun ibu rumah tangga. Keberadaan industri ekonomi kreatif ini sangat membantu dalam pemberdayaan perempuan dan memperkuat peran perempuan dalam mendukung kemajuan negeri. Pun pendidikan tidak bisa dipungkiri juga mengambil peran krucial dalam mendukung perempuan untuk bisa terus berkarya dan bekerja cerdas.

Jadi, bagaimana menjadi perempuan berdaya dan memberikan peran maksimal dalam berkarya?
Tanpa pendidikan, tentu tidak ada pondasi kuat untuk bisa berkarya dengan hasil maksimal. Pendidikan juga ibarat kunci untuk membuka pintu-pintu kesempatan dalam pengembangan diri. Sebagai perempuan yang terus belajar dan berkarya, terdapat 5 tips yang menurut saya patut untuk dilakukan agar bisa menjadi perempuan yang dapat memberikan banyak peran kebaikan untuk sekitar.


1. Terus belajar dan berkarya
Never stop learning!  Karena sejatinya hidup ini adalah bangku pendidikan tanpa akhir. Terus belajar hingga kehidupan di dunia berhenti. Apalagi di era digital seperti sekarang ini, semakin banyak dan mudah akses untuk belajar. Banyak platform-platform edukasi untuk mendukung pendidikan yang berkualitas dan bisa dijangkau oleh semua pihak. 


Salah satu diantaranya adalah EduCenter dengan konsep One Stop Education of Excellence menjadi pusat edukasi terbesar di Indonesia dengan lebih dari 20 institusi pendidikan ternama. Tidak hanya itu, ternyata terdapat beberapa kursus selain pelajaran di sekolah yang akan membantu mengembangkan kecerdasan, kreatifitas serta beberapa aktivitas khusus lainnya, seperti ballet dan bela diri. Program yang sangat bagus untuk mengembangkan beragam potensi yang dimiliki oleh anak, tidak hanya mempelajari ilmu-ilmu di bangku sekolah formal saja.

2. Berani mengambil peluang
Banyak peluang yang sebenarnya datang dalam kehidupan kita. Namun seringkali terlewat begitu saja karena kurangnya keberanian dan juga kesiapan untuk menghadapinya. Alhasil kita melewatkan kesempatan belajar banyak hal baru dari peluang yang tidak kita manfaatkan dengan baik. Keberanian dalam mengambil peluang ini perlu sekali dilatih dan diterapkan dalam diri agar banyak hal baru yang bisa  dipelajari. Namun tentunya keberanian itu harus disertai dengan persiapan dan tekad diri untuk terus belajar dalam menaklukan peluang-peluang yang menghampiri. 


Baca juga:

3. Berani keluar dari zona nyaman
Zona nyaman bagi saya adalah zona minim untuk berkembang, zona stagnan, zona yang tidak akan membuat kita bisa upgrade kemampuan diri. Kenapa begitu? Yes, karena saat berada di zona nyaman tidak ada tantangan untuk belajar hal-hal baru. Semuanya serba enak, serba bikin nyaman. 


Apa yang kamu harapkan dari tempat yang nyaman? Pasti akan terlena dengan ritme kenyamanan yang senantiasa disuguhkan. Sebaliknya, dengan keluar dari zona nyaman bisa terus meningkatkan kemampuan diri, naik “kelas”. Pun bisa melatih ketangguhan diri karena saya yakin zona tidak nyaman akan penuh dengan tantangan demi menguji kemampuan yang dimiliki.

4. Maju terus! Pantang menyerah terhadap kegagalan yang terjadi
Lebih baik mencoba lalu gagal daripada tidak pernah mencoba sama sekali karena takut gagal. Kegagalan yang terjadi merupakan batu loncatan untuk bisa melompat lebih jauh lagi. Meskipun tidak mudah berdamai dengan kegagalan-kegagalan yang terjadi, yakin dan bulatkan tekad untuk terus maju. Pantang menyerah dengan kegagalan-kegagalan yang terjadi, maju terus mencoba!


5. Tetap berikan penghargaan atas pencapaian diri
Setelah bersusah payah, jatuh bangun berjuang dengan target dan peluang yang ada, jangan lupa untuk memberikan penghargaan atas kerja keras dan pencapaian diri. Berikan self-reward dengan hal-hal yang sederhana. Sesederhana makan es krim, coklat, movie time ataupun sekedar jalan-jalan sejenak ke taman, pantai dan tempat sejuk lainnya. Last but not least, pastikan tetap memberikan ruang dan reward pada diri sendiri seiring dengan terus berusaha dan belajar untuk meningkatkan kemampuan diri.


Baca juga: 

Sekian opini dan tips dari saya mengenai pentingnya pendidikan dalam mendukung peran perempuan lebih berdaya dalam berkarya. Bersyukur sekali atas kesempatan untuk bisa mengenyam pendidikan. Betapa beruntung juga dapat terus belajar dan upgrade kemampuan diri  sehingga bisa memberikan peran maksimal dalam berkarya dan berkreasi. Pun ilmu yang dimiliki bisa menjadi jalan untuk membaktikan diri ke beragam jalan kebaikan di sekitar. Terus semangat belajar untuk bisa menjadi salah satu motor penggerak perbaikan bangsa. Ganbatte!

#pendidikan #peranperempuan #perempuanberdaya #perempuanberkarya #educenterid 

Referensi:
Sirclo. 2020. Dominasi Perempuan dalam Sektor Ekonomi Kreatif Indonesia.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. 2019. Pembangunan Manusia Berbasus Gender 2019.
Badan Pusat Statistik 2010-2018.

23 comments:

  1. maaksih sharingnya, lengkap sekali

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir mbak tira, semoga bermanfaat ya mbak 😊

      Delete
  2. Aku pernah dekat dengan dunia perempuan yang hanya sampai tingkat pendidikan menengah. Sedihnya, rendahnya tingkat pendidikan tersebut menjadikannya mudah direndahkan dan memperoleh kekerasan fisik maupun verbal. Nggak bisa melawan, karena merasa lemah, nggak bisa apa-apa.

    Semoga semakin banyak perempuan yang memperoleh akses pendidikan. Jika pun nggak bisa memperoleh pendidikan formal, setidaknya mempunyai ketrampilan yang akan membuat para perempuan produktif dan berdaya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huhu iyaa mbaak, saya juga pernah mendengar curhatan langsung mirip seperti itu. Miris sekali rasanya ya mbak. .

      Aamiin, iyaa mbak. . Semoga makin banyak juga perempuan yg peduli dan sadar akan pentingnya pendidikan, karena pada dasarnya perubahan yg terjadi tergantung pada kesadaran diri masing" 😊

      Delete
  3. Sedih kalau masih mikir wanita ga usah tinggi2 sekolah krn urusannya jg nanti ke dapur dan kasur, dan ga trima bgt dianggap alasan klo wanita pendidikan lbh tinggi kebanyakan pria akan takut, justru wanita berpendidikan tinggi untuk mengajarkan anak2nya kelak dan dan itu salah satu untuk bangsa jg, dan pria hrs nya tingkatin kualitas diri klo wanitanya lbh tinggi.. eh jadi panjang gini ��

    ReplyDelete
  4. Uda banyak perempuan2 hebat di sekitar kita. Sayangnya laki2 masih banyak yang berpemikiran primordial. Di dunia kerja pun masih banyak perilaku diskrimintatif pada perempuan.
    Dan perempuan pun banyak yg bersikap primordial pada sesama perempuan. Mereka cenderung lebih menghargai laki2, terutama orang2 tua.

    Perlu kesadaran dari kaum perempuan sendiri untuk menyadari bahwa perempuan bukan kaum terbelakang. Lelaki pun banyak yang tak mengenyam pendidikan tinggi.

    ReplyDelete
  5. Sangat bermanfaat Lus. Terimakasih ilmu nya 👍🏽

    ReplyDelete
  6. Tulisan yang sangat lengkap dengan beberapa fakta sebagai bukti pendukung, saya jadi teringat jaman skripsi harus membuat bagian bab 1 yakni latar belakang dengan aspek-aspek seperti contoh tulisan diatas hehe.

    Membahas soal stereotipe perempuan yang terkesan hanya sebagai media pembantu dalam kehidupan kok kayaknya miris yaa. Memang sejatinya di masa kini perempuan harus semakin giat belajar, berkarya, dan lebih berani dalam menjalani kehidupan supaya stereotipe buruk di masa lalu bisa segera hilang dan perempuan-perempuan di masa depan pun juga semakin berkualitas ekonomois tingkat tinggi :D

    ReplyDelete
  7. Yesss tetap semangat pokoknya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Segala kesulitan pasti ada jalan keluarnya ya..

    ReplyDelete
  8. sedih banget baca datanya

    apalagi kalo dicompare data bahwa 42,3% kekerasan yang dialami perempuan adalah pembatasan pasangan. JIka kesehariannya perempuan mengalami kekerasan seperti itu, bagaimana dia bisa mendorong agar keturunannya mampu bertindak lebih

    ReplyDelete
  9. Masya Allah, keren dirimu, Mbak. Jujur saja, saya juga pengen bisa kuliah dan menempuh pendidikan tinggi, namun memang sejak awal kondisi ekonomi nggak memungkinkan. Pas udah nikah dan ada kesempatan (plus izin dari suami), saya ragu apakah saya bisa membagi waktu buat kuliah dan menemani anak-anak yang masih kecil. Akhirnya saya urungkan dulu impian itu, mungkin suatu saat ada waktunya :)

    ReplyDelete
  10. Mirisnya, masih banyak yang beranggapan bahwa sekolah itu yang penting dapat ijazah. Makanya jual beli ijazah masih rame aja. Makanya yang bergelar tinggi pun kadang ya...gitu deh.
    Padahal yang mesti dikejar itu ilmunya ya. Dan itu berlangsung seumur hidup.

    ReplyDelete
  11. MasyaAllah, Barakallah keren banget mbak S2 di KorSel. Setuju banget mbak, menjadi perempuan yang berdaya seharusnya mesti mau keluar dari zona zaman. Sebagai IRT, saya gak mau hanya menghabiskan waktu di rumah dengan pekerjaan rumah or sekedar nonton saja. Aku juga mesti upgrade ilmmu, walaupun kadang ilmu baru yang didapat malah bikin puyeng. Xixixi...

    ReplyDelete
  12. Salut dengan pencapaiannya Mbak. Udah bisa lulus S2 di Korsel. Memang iya perempuan perlu pendidikan tinggi agar saat mendidik anak bisa jadi generasi terbaik. Nice post, makasih sharingnya.

    ReplyDelete
  13. Setuju sekali mbak Lucky.. dalam prakteknya peran perempuan memang pegang peranan penting dalam segala hal. Ngga usah jauh-jauh, efek pandemic yang membuat KBM dipindah kerumah dengan iatilah school from home atau learn from home... Peran ibu sangat dominan disini. Ibu dituntut belajar cepat dan serba bisa. Bisa ngga bisa, harus bisa.. ngga ada pilihan lain.. tetap semangat.. !

    ReplyDelete
  14. Sepakat, perempuan memang harus berpendidikan tinggi karena dia adalah guru pertama bagi anaknya.

    Saya selalu salut pada para perempuan yang sudah menikah, memiliki anak namun masih penuh semangat menempuh pendidikan formal. Dan suka sedih kalau ada yang berkomentar buat apa perempuan sekolah tinggi-tinggi, apalagi kalau yang berkomentar juga sesama perempuan

    ReplyDelete
  15. Peran perempuan si setiap lini kehidupan ini sungguh sangat penting.
    Yang katanya makhluk lemah, justru perempuan adalah makhluk terkuat.
    Tak satupun laki2 yang di test alat simulasi kontraksi melahirkan bisa kuat, rata2 menyerah.


    Semangat...

    ReplyDelete
  16. Aku selalu bersyukur punya orangtua yang berpikir harus sekolah setinggi mungkin untuk mencapai apa pun yang kamu inginkan. Apalagi mamaku yang berprinsip, perempuan itu harus punya penghasilan sendiri makanya harus sekolah setinggi mungkin. Perempuan itu harus sekolah tinggi, karena kalau jadi ibu, dialah orang pertama yang jadi guru untuk anaknya. Oh ya, mamaku termasuk perempuan yang telat menikah karena sekolah dan bekerja.
    Insya Allah, aku akan seperti orangtuaku ke tiga anak perempuanku.

    ReplyDelete
  17. Setuju mbak.. keluar dari zona nyaman dan berani ambil peluang adalah beberapa kunci meraih kesuksesan

    ReplyDelete
  18. yesss, betul! terus belajar dan berkarya :D women will!

    ReplyDelete
  19. Perempuan berdaya bisa dengan banyak hal, salah satunya adalah dengan semangat belajar dan tidak ragu memperbaiki diri yang bisa dilakukan kapanpun dan dimana pun

    ReplyDelete
  20. Banyak bnget yg di contohkn dr YG terdahulu y kak pendidikan untuk perempuan juga berpengaruh dalam segala hal. Bahkan ketika perempuan memilih menjadi ibu rumah tangga.

    ReplyDelete
  21. Lengkap sekali ulasannya, Mbak Lucy.
    Salut dengan Mbak Lucy yang bisa mengejar keinginan untuk studi ke luar negeri. Semoga saya juga bisa mengikuti jejakmu ya, Mbak.

    Salam hangat. :)

    ReplyDelete

COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES