Tuesday, May 26, 2020

Melebihi Seperempat Abad: Hidup laksana bianglala

Rasanya tidak pernah siap menyambut pertambahan usia di bulan kelima setiap tahunnya. Kali ini 26 di tanggal 26, membuat terdiam cukup lama di sepertiga malam yang entah kenapa terasa berbeda. Hening, sunyi dan tenang yang membuat rasa debar membuncah dalam dada. Berkontemplasi tentang apa saja yang telah terjadi, tentang mimpi-mimpi yang selalu dikendalikan oleh ambisi. Perihal berdamai dengan masa lalu, kembali membuka hati dan mengikhlaskan apa yang memang sudah pergi, harusnya kini bisa jauh lebih sederhana.

Hidup laksana bianglala ❤️

Baca juga: 

Tentang tua dan mendewasa 

Memegang kendali akan ekspektasi

Melebihi seperempat abad, banyak kekhawatiran yang kian menumpuk bersama ekpektasi yang kini bisa lebih terkendali. Setidaknya belajar dari tahun sebelumnya, ketika sangat ketakuan diterpa quarter life crisis. In the end, everything is fine. All is falling into place. Sesuai apa yang sudah Allah gariskan dan Allah ijinkan untuk terjadi.

Malu rasanya sama Allah, tak terhitung nikmat yang diberikan setiap harinya tapi terus dan terus merasa kurang. Masih susah sekali untuk bisa setia melebihkan syukur. Padahal dengan melebihi seperempat abad, harusnya jadi lebih paham bahwa merasa kurang tidak akan pernah menambah nikmat. Justru dengan merasa cukup dan penuh syukur, nikmat akan semakin berlipat.

Berkawan dengan gagal  

Melebihi seperempat abad, ingin ini itu banyak sekali. Beberapa mimpi tereliminasi dengan sendirinya karena merasa diri ini tidak akan mampu menggapai. Semakin rumit pertimbangan dalam mengambil keputusan. Takut akan banyak hal, padahal belum juga dieksekusi. Alhasil, beberapa rencana hanya berakhir wacana karena terlalu ciut dengan resiko yang masih sekedar dalam bayangan. Harusnya tidak begitu, justru melebihi seperempat abad jadi lebih berani merangkul gagal untuk jadi kawan. Agar takut tak berani datang menghinggapi untuk merealisasikan mimpi. Bukankah jauh lebih merugi jika tak pernah merasakan nikmatnya gagal sama sekali? 

Bertambah usia, jauh lebih bijaksana 

Melebihi seperampat abad, bukan lagi tentang apa yang sudah kamu dapat. Tapi lebih kepada apa saja yang sudah kamu berikan dan apa manfaat yang sudah kamu bagikan untuk sekitar. Bukan tentang memperkaya diri sendiri dan abai akan hak orang lain di rezeki yang dititipkan Allah. Bukan pula membanggakan jabatan ataupun membanding-bandingkan kekayaan diri yang semakin memupuk sifat kufur dalam dada. Padahal tiap rezeki yang diberikan Allah pasti akan dimintai pertanggungjawaban. Ah, semakin bertambah usia semoga jauh lebih bijaksana dalam berucap, bersikap dan tentunya bertindak. Sungguh malu, bertambah tua namun tidak mendewasa.  

Tak perlu tergesa-gesa, nikmati saja

Melebihi seperempat abad, terus berdoa agar bisa mengikhlaskan masa lalu. Berdamai dengan kecewa karena ditinggalkan atau patah hati karena dikhianati. Sebab untuk sembuh adalah sebuah pilihan. Remuk yang mengunci hati membuat takut untuk kembali membuka hati. Pun tanpa kepastian tidak akan dikecewakan ataupun disakiti kembali. Namun jelas satu yang pasti, niat baik yang diingkari memberikan pelajaran bahwa ada hal yang lebih baik dari Allah telah siap menanti. Bukankah kesedihan dan kekecewaan haruslah dicukupkan? Tak baik juga jika terus-terusan.

Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku – Umar bin Khattab

Melebihi seperempat abad, memang usia siap berumah tangga untuk wanita. Pun banyak teman dan sahabat sepermainan yang sudah punya jagoan kecil masing-masing, Semakin pula diburu dengan pertanyaan kapan dan siapa yang akan melengkapkan separuh hati.  Tenang, kenapa harus tergesa-gesa ? Menikah bukanlah kompetisi, tapi komitmen membagi hidup dengan seseorang yang pasti sangat menghargai pasangannya untuk seumur hidup. Nikmati saja masa yang ada sekarang, memperbaiki diri sembari terus berusaha membuka hati.

Jangan salah, tidak semua orang bisa melepaskan masa lalu semudah membalikkan telapak tangan. Ada yang berusaha sangat keras menyibukkan diri untuk bisa lupa bahwa hatinya telah dikhianati. Ada yang bahkan kehilangan kepercayaan dan kecintaan pada dirinya sendiri karena terlalu bodoh percaya pada janji yang hanya tinggal janji. Melebihi seperempat abad, semoga hati ini bisa dilengkapkan di waktu terbaik. Saat keduanya sama-sama siap untuk berbagi cinta dan merajut cerita dalam satu atap. Tentunya dengan penuh berkah dari Allah.

Hidup laksana bianglala

Melebihi seperempat abad, semakin paham bahwa hidup ini laksana bianglala. Ada saat berada di atas, jadi lebih pandai melebihkan syukur atas nikmat yang jumlahnya tak akan bisa untuk dihitung. Ada saat berada di tengah-tengah, jadi lebih mawas diri bahwa apa-apa yang dimiliki saat ini adalah sementara, bahkan bisa hilang dalam sekejap. Maka apa gunanya menggenggam terlalu erat hingga lupa untuk berbagi?

Sementara saat berada di bawah, jadi lebih paham bahwa ujian yang datang tidak akan melebihi kapasitas diri. Ujian juga bisa berarti Allah merindukan kita untuk lebih mendekatkan diri padaNya. Pun saat masa-masa berada di bawah bisa lebih memaknai bahwa perjuangan dan kerja keras tidak akan pernah mengkhianati hasil. Tenang, akan selalu ada pelangi setelah hujan badai. Tenang, akan selalu  ada kemudahan menyertai kesulitan yang datang. Tenang ada Allah, kalau Allah sudah menghendaki, apapun pasti jadi.

Turning 26 on May 26th ❤️

Melebihi seperempat abad, terima kasih tak terhingga untuk keluarga yang begitu tulus memberikan cinta tanpa pamrih. Terima kasih selalu menjadi rumah paling nyaman untuk pulang. Semoga makin banyak kebaikan dan cinta di tahun 26, terus semangat memperbaiki diri dan menebar kebaikan untuk sekitar!

Salam sayang penuh cinta dari Naris dan Tata ❤️

Wednesday, May 20, 2020

#CeritakuDariRumah untuk Tetap Kreatif dan Produktif selama Pandemi Covid-19

Tetap kreatif dan produktif di masa-masa sulit seperti sekarang ini adalah pilihan. Apalagi bosan dan penat terus mengintai bersama anjuran untuk #dirumahsaja dan PSBB yang entah kapan akan berakhir. PSBB merupakan pembatasan sosial berskala besar bukan pembatasan sosial bohong-bohongan yang diplesetkan oleh salah satu warganet di twitter sebagai ungkapan kekesalan melihat warga +62 yang sekarang terlihat abai dengan peraturan pemerintah. Apalagi larangan mudik yang sekarang tinggallah wacana. Sedih rasanya melihat banyak yang sudah membanjiri pusat berbelanjaan atau bahkan nekat mudik ke kampung halaman walaupun jelas-jelas kurva covid-19 di Indonesia masih terus naik. Dengan keapatisan dan tindakan yang jauh dari kata bijaksana, untuk mendapatkan kurva covid19 yang melandai rasanya membutuhkan waktu lebih lama lagi. 

Bosan #dirumahsaja mendorong nafsu kembali nongkrong dan ngemall susah untuk dibendung lagi. Padahal bosan tentu bisa dikendalikan dengan melakukan hal-hal kreatif sehingga diri ini menjadi lebih produktif, daripada hanya sekedar rebahan. Efek rebahan yang berlebihan jelas juga tidak sehat bahkan bisa membuat badan pegal-pegal.

Jadi, bagaimana bisa tetap kreatif dan produktif selama masa pandemi covid-19?

Di postingan kali ini, saya ingin berbagi mengenai 5 hal yang bisa dilakukan #cukupdarirumah untuk bisa tetap mengembangkan kreativitas dan meningkatkan produktifitas diri. Agar setelah pandemi covid-19 berakhir (aamiin ya Allah), ada value positif yang bisa didapatkan. Skill yang naik kelas ataupun skill baru yang didapatkan. Beruntungnya lagi bisa membangun bisnis baru yang tidak hanya menguntungkan diri sendiri, tapi juga memberi kebaikan untuk sekitar. 

1. Mengatur workspace yang nyaman untuk #workfromhome lebih maksimal

Anjuran bekerja dari rumah juga saya rasakan, awal-awal WFH yang begitu dadakan sejak pertengahan bulan Maret, membuat saya tidak bisa fokus maksimal karena workspace yang belum tertata dengan baik. Apalagi pekerjaan yang dikerjakan dari rumah kali ini membutuhkan fokus dan konsentrasi tinggi. Deadline paper untuk publikasi dari bos besar yang dekat sekali menuntut saya segera berbenah mengatur workspace jadi senyaman mungkin.

Not (yet) my workspace, but my dream workspace 😁

Kalau nyaman versi saya yang penting ada kipas angin supaya udara lebih sejuk jadi tidak terlalu panas. Ada stopkontak untuk laptop dan juga hp. Yang terakhir harus dilengkapi dengan tempat duduk yang nyaman dan tegak agar bisa lebih fokus dan konsentrasi. Oiya, bisa tutup pintu juga ya biar lebih tenang dan meredam keramaian di luar. Eh, ini sih kalau saya karena tidak bisa fokus kerja saat suasana bising 😁

2. Melakukan hobi untuk sejenak refreshing dari pekerjaan dan mewujudkan #worklifebalance

Anjuran #WFH sebenarnya banyak enaknya. Namun ada juga tidak enaknya karena jam kerja yang terlampau bebas jadi lebih seringnya saya dikerjain sama pekerjaan. Alangkah baiknya jika mengatur jam kerja sesuai dengan jam kantor. Apabila pekerjaan belum selesai saat jam kerja berakhir, maka kerjakan keesokan harinya. Lembur boleh saja sih, apabila keadaan urgent seperti deadline dadakan yang seringkali bos besar berikan. Usahakan jangan lembur sih tapi, bisa dicicil pekerjaannya sebagai antisipasi, karena menurut saya sayang sekali waktunya bisa digunakan untuk refreshing dengan kegiatan “ringan” lainnya.

Kegiatan ringan itu adalah melakukan hobi seperti ngeblog atau eksekusi resep masakan. Selama anjuran #dirumahsaja, sudah 10 artikel terbit di kontemplasi asa. Cukup produktif menurut saya meskipun belum bisa merealisasikan one day one post. Namun setidaknya bisa balance antara bekerja dan melakukan hobi kan ya, hehe. Oiya, selain itu saya juga beberapa kali mengikuti kelas online untuk bisa terus update informasi terkini dan tentunya menambah wawasan. Selanjutnya, saya menuliskan hasil dari kelas online di kontemplasi asa agar lebih banyak lagi yang mendapatkan manfaatnya.

Baca juga: 

Menilik kondisi terkini pengelolaan limbah B3 medis dan SRT infeksius covid-19

Oiya, selama bulan Ramadhan ini saya sudah eksekusi beberapa resep masakan. Resep yang mudah-mudah sih untuk takjil pelengkap buka puasa. Mulai kue cubit, donat anti bantet, bakwan crispy, pentol bakar, pisang goreng yummy, dan tempe mendoan super enak. Ah mention makanan siang-siang kok lebih berasa enaknya ya? Lol.

Ngeblog sudah, masak juga sudah. Belum lengkap rasanya tanpa buku bacaan untuk suplemen wawasan diri. Saya sebut sebagai suplemen karena kontribusi dari buku bacaan dalam meningkatkan wawasan diri jadi lebih bijaksana untuk memahami kehidupan yang sedang berjalan. Selama bulan Ramadhan ini sudah 3 buku yang bisa saya selesaikan. Dua buku karangan Tere Liye, Selena dan Nebula. Satu buku lagi karangan Ardhi Mohamad berjudul What’s so wrong about your life. Masih ada 2 buku karangan Wira Nagara, distilasi alkena dan disforia inersia, untuk menemani libur singkat lebaran. So nice, kan?

3. Menyempatkan diri untuk olahrasa dan olahraga

Beruntungnya masih diberikan kesempatan untuk bisa bertemu bulan penuh kemuliaan, Bulan Ramadhan, jadi bisa memaksimalkan olahrasa. Olahrasa merupakan ilmu untuk mengontrol emosi, perasaan, dan hati agar bisa merasa bahagia meskipun dalam kondisi serba sulit seperti sekarang ini. Olahrasa bisa dilakukan dengan mendekatkan diri pada Sang Pemilik Kehidupan, mematuhi semua perintahNya dan menjauhi apa yang jelas dilarang olehNya.

Pas banget nih bulan Ramadhan bisa lebih memakismalkan ibadah, baik ibadah wajib maupun sunah. Sayang banget kan bulan penuh kemuliaan disia-siakan hanya untuk rebahan ataupun kegiatan yang tidak berfaedah sama sekali. Pun bisa jadi bulan untuk banyak berbagi kebaikan lewat sedekah berbuka, makan sahur, bingkisan lebaran ataupun infaq yang lainnya. Banyak berbagi kebaikan berarti berbagi bahagia untuk yang lainnya. Bahagia itu nular lho, pasti bahagia kan lihat yang lainnya bahagia?  Jadi makin banyak yang ikut berbagi kebaikan dan bahagia untuk sekitar.

Selain olahrasa, menyempatkan olahraga juga perlu agar jiwa raga tetap sehat. Apalagi setelah seharian hanya di depan laptop, perlu sejenak untuk stretching dan melakukan workout ringan. Tidak perlu yang berat-berat. Cukup yang ringan saja, seperti sit-up, back-up, squat jump, ataupun yoga.

4. Mencoba hal baru dengan mengembangkan budidaya lidah buaya

Selama pandemi covid19, saya mencoba hal baru dengan membantu ayah mengembangkan budidaya lidah buaya yang ada di lantai atas rumah. Sudah dari 3 tahun lalu ayah merintis budidaya lidah buaya untuk terapi penyakit ibu. Hingga saat ini lidah buaya ayah sudah sebanyak lebih dari 120 pohon dengan ukuran jumbo bisa mencapai berat sekitar 900 gram sampai 1 kg per pelepah.

Berawal dari banyaknya lidah buaya yang dipanen setiap harinya, maka kakak saya memberikan ide untuk membuka toko online di shopee. Saya pun juga ingin mempromosikan mengenai banyak manfaat yang bisa didapatkan dari konsumsi tanaman super baik lidah buaya melalui instagram. Akhirnya lahirlah akun instagram @natalovera.store berisi foto-foto dan informasi mengenai lidah buaya. Selain itu, sudah terbentuk juga toko online di shopee dengan nama Natalovera Store untuk area Jakarta sekitarnya, dan Natalovera.store Madiun untuk area timur dan tengah Pulau Jawa.

Happy shopping natalovers di Shopee Natalovera 🌱

Sudah hampir dua bulan membuka toko online di shopee dan gencar melakukan promosi di instagram, akun toko Natalovera.store Madiun sudah menjadi star seller. Alhamdulillah, begitu senangnya saya mengetahui banyak orang yang mengonsumsi lidah buaya. Lebih bahagia lagi mengetahui kalau banyak customer yang mulai budidaya sendiri lidah buaya di rumah. Hal ini berarti banyak yang sudah paham mengenai manfaat lidah buaya dan mulai menjadikan lidah buaya untuk konsumsi hairan.

Kindly follow @natalovera.store 😁❤️
Kindly follow @natalovera.store 😁❤️

Teman-teman juga ingin budidaya lidah buaya? Tenang jangan khawatir, @natalovera.store punya banyak bibit kualitas super. Bisa main ke ignyaa yak, follow juga sangat boleh hehe #sekalianpromosi

5. Meluangkan waktu untuk membantu keluarga

Membantu keluarga selepas WFH juga bisa jadi salah satu refreshing. Kata ayah biar tidak spaneng alias terlalu serius. Kebetulan Ramadhan kali ini saya membantu kakak yang baru saja melahirkan untuk menjaga dua keponakan saya, Nariswari dan Samantha. Senang sekali setelah dua tahun tidak bertemu akhirnya bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan mereka.

Saya punya kesempatan untuk menjadi teman belajar, mengajari mereka untuk berkreasi dengan melukis, membuat kreasi origami, membuat mozaik warna-warni serta membacakan buku-buku dongeng. Menyenangkan sekali belajar sambil bermain bersama duo krucil meskipun juga sangat menguji kesabaran. Wajar namanya juga anak kecil.

Saya banyak belajar dari naris dan tata. Cepat sekali tertawa bahagia padahal satu menit yang lalu menangis kencang. Pun mereka juga mudah memaafkan padahal baru saja saya marah-marah dan sudah senyum-senyum manja minta dipangku. Selalu gemas melihat tingkah laku mereka yang seperti tidak ada capeknya, selalu full energy. Lol.

Sekian #ceritakudarirumah selama masa pandemi covid-19. Sederhana namun penuh makna dan ada manfaat dari setiap hal yang dilakukan.  Pun tentunya bisa tetap kreatif dan produktif di masa-masa sulit seperti sekarang ini. 

Ramadhan hanya tinggal beberapa hari meninggalkan kita. Masih ada kesempatan untuk bisa memaksimalkan ibadah dan terus berbagi manfaat serta kebaikan di hari-hari terakhir menjelang hari kemenangan. Apalagi di era digital seperti sekarang ini mudah sekali untuk berbagi kebaikan. Salah satunya bisa melalui dompet dhuafa, yaitu lembaga amil zakat yang sudah terpercaya sejak 27 tahun lalu. Oiya, jangan lupa juga untuk bayar zakat yaa teman-teman 😊

Yuk, siapkan hati dalam menyambut kemenangan yang sesungguhnya. Menang melawan nafsu dan ego diri yang lebih sering melambung tinggi. Terlebih saat masa-masa pandemi seperti sekarang ini. Tidak apa kalau tidak bisa mudik lebaran kali ini, yang penting keluarga di kampung halaman aman, sehat dan bahagia. Silaturahmi lewat online dulu yaaa, yuk bersatu #bersinergilawancovid19. Stay healthy and stay away from covid-19 ~ 

Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition "Ceritaku dari Rumah" yang diselenggarakan oleh Ramadhan Virtual Festival dari Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan.

Yuk langsung ikutan #CeritakuDariRumah 😁

Monday, May 18, 2020

Menilik Kondisi Terkini Pengelolaan Limbah B3 Medis dan SRT Infeksius Covid-19

Covid-19, topik yang terus menjadi bahasan dari akhir bulan Januari 2020 hingga sekarang. Mulai dari anjuran #stayathome di Busan hingga diteruskan untuk #workfromhome ketika sudah sampai di tanah air. Saat awal-awal berkembangnya covid-19 di Busan hampir tiap malam insomnia karena terlalu insecure. Terus update informasi dan paper penelitian yang membahas tentang perkembangan mutasi virus Sars-Cov2. Apalagi Februari lalu, case covid19 di Busan jumlahnya terus naik hingga mencapai angka ribuan hanya dalam kurun waktu 2 minggu. 

Sesampainya di Indonesia tanggal 2 Maret, baru ada 2 pasien terkonfirmasi positive covid19. Jumlahnya masih terus naik sampai sekarang dan  update hingga tanggal 15 Mei 2020, ada sebanyak 16.496 confirmed positive case, 1.076 meninggal dan 3.803 orang dinyatakan sembuh. Persebaran Covid19 tidak main-main rasanya, total di seluruh dunia sebanyak 4,53 juta orang terinfeksi covid-19, 1,63 juta telah sembuh dan 307 ribu meninggal dunia.


Sudah lebih dari 2 bulan sejak kembali ke tanah air, bersyukur senantiasa diberikan nikmat sehat dan bisa lebih intense berkumpul sama keluarga karena diberlakukan #WFH. Bosan? Wajar kok, nikmati saja bosannya nanti kalau udah bosan “bosan” pasti balik rajin lagi. Mencoba membiasakan semua anjuran untuk memutus rantai penyebaran covid19, termasuk physical distancing, anjuran di rumah, cuci tangan pakai sabun, tidak pergi ke tempat-tempat umum dulu. Berat memang apalagi untuk para extrovert, karena ambivert seperti saya lebih teradaptasi untuk stay di rumah karena emang mager buat keluar-keluar. Ehe. Tapi bukankah semua jadi biasa kalau sudah terbiasa ?

Baca juga: 

Ironi Permasalahan Sampah di Indonesia - Optimiskah Menuju Indonesia Bebas Sampah 2020? 

Well, selama anjuran #stayathome di masa pandemi seperti sekarang ini satu yang menjadi concern saya, yaitu mengenai pengelolaan limbah mulai dari limbah cair dan juga limbah padat. Di tengah pandemi seperti ini bisa bayangkan betapa beresikonya pahlawan kebersihan yang bekerja dalam mengelola limbah setiap harinya, mulai dari pengumpulan, penyimpanan sampai dengan pemrosesan akhir. Belum lagi limbah yang berasal dari kegiatan penanganan pasien covid-19 (positive+ pasien dalam pengawasan (PDP)) dikategorikan dalam limbah infeksius dan masuk kategori limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun). Sehingga dalam penanganan mulai dari pengumpulan dan pengelolaannya harus sesuai dengan peraturan limbah B3. Bisa bayangkan juga sebanyak apa limbah B3 baik dari RS (medis) ataupun sampah rumah tangga (SRT) yang dihasilkan ribuan pasien terkonfirmasi positif dan PDP yang jumlahnya juga sudah puluhan ribu sampai sekarang.

Beruntungnya saya bisa mengikuti webinar pada tanggal 28 april lalu yang diadakan oleh IATL ITB bersama Bappenas, Kesehatan Lingkungan Kementrian Kesehatan, dan DLH Provinsi Jakarta. Ada juga dari PT.Jasa Medivest sebagai perusahaan pengelola limbah B3 dan juga Nexus3 Foundation. 

Diskusi yang begitu komplit dan menarik serta informasi yang sangat bermanfaat rasanya sayang kalau hanya sampai di saya saja. Setelah terkendala waktu akhirnya bisa saya tuliskan di kontemplasi asa supaya banyak yang tahu kondisi terkini pengelolaan limbah khususnya limbah dari rumah sakit dan SRT yang terinfeksi covid19. Pun agar lebih aware lagi tentang apa yang harus dilakukan dalam pengelolaan sampah di  masa pandemi seperti sekarang ini.


Kebijakan pengelolaan limbah B3 menjadi agenda prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Termasuk diantaranya adalah pembangunan fasilitas pengolahan limbah B3 medis dan limbah B3 terpadu. Target pembangunan dilakukan di 4 wilayah diantaranya Sumatera, Sulawesi, Jawa Timur dan Kalimantan dengan perkiraan biaya mencapai 4.6 triliun rupiah. Tujuan extra pembangunan fasilitas pengolahan limbah B3 dikarena untuk memenuhi kapasitas pengolahan limbah B3 hingga mencapai 26.880 ton/tahun serta bisa mengurangi biaya transportasi untuk pengolahan limbah B3.


Bagaimana klasifikasi limbah dan regulasi yang mengatur?

Limbah terbagi menjadi limbah padat dan cair. Masing-masing limbah padat terdiri dari limbah padat B3 medis dan limbah padat domestik. Sementara limbah cair terbagi menjadi limbah cair B3 dan limbah cair domestik. Limbah padat domestik, limbah padat B3 dan limbah cair B3 diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PermenLHK) No.P-56/2015 mengenai Tata cara dan Persyaratan Teknis Pengelolaan Limbah B3 dari Fasilitas  Pelayanan Kesehatan (Fasyankes). Sementara itu, limbah cair domestik diatur dalam PermenLHK No.P-68/2015 tentang baku mutu limbah cair domestik.

Mengacu pada timbulan sampah per pasien di China (kapasitas pembuangan limbah medis meningkat hingga menjadi 6.067 ton/hari), menggunakan skenario intervensi mencapai 8.580 ton/hari belum termasuk status ODP yang berada di rumah. Timbulan yang dikonversi ke jumlah pasien, rata-rata untuk pasien terinfeksi menyumbang sebanyak 14.3 kg/hari.

Pengelolaan Air Limbah Spesifik Covid19 dari Fasyankes

Air limbah spesifik covid19 yang berasal dari Fasyankes merupakan semua air buangan termasuk tinja yang berasal dari kegiatan penanganan pasien Covid-19 (kemungkinan mengandung mikroorganisme khususnya virus Corona), bahan kimia beracun, darah dan cairan tubuh lain, serta cairan yang digunakan dalam kegiatan isolasi pasien meliputi cairan dari mulut dan/atau hidung atau air kumur pasien. Air cucian alat kerja, alat makan dan minum pasien dan/atau cucian linen, juga termasuk dalam limbah infeksius yang berbahaya bagi kesehatan.


Unit proses pada instalasi pengolahan air limbah (IPAL) sekurang-kurangnya terdiri dari proses sedimentasi awal, proses biologis (aerob dan/atau anaerob), sedimentasi akhir, penanganan lumpur . Pada pengolahan air limbah sekarang diberikan unit desinfeksi pada effluent air limbah yang sudah diolah desinfeksi dengan klorinasi (dosis disesuaikan agar mencapai sisa klor 0,5 ppm). Nah, pengukuran unit proses desinfeksi air limbah dengan kandungan sisa klor pada kisaran 0,5 ppm sekurang-kurangnya sekali dalam sehari

Harus dipastikan semua parameter kualitas air limbah hasil pengolahan memenuhi baku mutu air limbah domestik, meliputi parameter derajat keasaman (pH), Biochemical Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), Total Suspended Solid (TSS), Minyak dan lemak, amoniak, total coliform dan debit yang dilakukan sekurang-kurangnya setiap 1 minggu sekali.

Pengelolaan Limbah Domestik Padat Spesifik Covid19 dari Fasyankes

Limbah padat khusus diklasifikasikan sebagai masker sekali pakai, sarung tangan bekas, tisu/kain yang terkontaminasi (mengandung cairan/droplet dari hidung dan mulut). Untuk pengumpulan limbah domestik padat, disediakan wadah di lokasi yang mudah dijangkau orang, yaitu untuk limbah padat organik, non organik dan limbah padat khusus.


Untuk limbah padat organik dan non organik disimpan di Tempat Penyimpanan Sementara (TPS) sampah/limbah domestik paling lama 1x24 jam untuk kemudian dibawa oleh Dinas Kebersihan. Sementara itu, limbah padat khusus di simpan di TPS sampah/limbah B3 dengan perlakukan seperti limbah B3 infeksius.

Pengelolaan Limbah B3 Padat Spesifik Covid19 dari Fasyankes

Limbah B3 padat khusus termasuk masker bekas, sarung tangan bekas, perban bekas, tisu bekas, plastik  bekas minuman dan makanan, kertas bekas makanan dan minuman, alat suntik bekas, set infus bekas, dan alat pelindung diri (APD) bekas. Dilakukan disinfeksi menggunakan Klorin 0.5%, Lysol, karbol dll,  setelah selesai menggunakan wadah/bin. Selain itu, sampah/limbah B3 medis yang telah diikat juga dilakukan desinfeksi menggunakan desinfektan klorin 5% sebelum diangkut ke pengolah. Pengangkutan dilakukan menggunakan alat transportasi khusus limbah dan petugas juga harus menggunakan APD.

Limbah infeksius dari Fasyankes paling lama disimpan selama 2 hari. Pemusnahan dilakukan dengan menggunakan insenerator suhu pembakaran min 800o C atau menggunakan autoclave dengan shredder. Residu dimasukkan dalam TPS B3 untuk kemudian diserahkan ke Pengelola Limbah B3. Berdasarkan data yang ada, data limbah infeksius yang diolah insinerator terus mengalami peningkatan mencapai 4500 kg pada bulan Maret 2020 untuk limbah APD dan limbah Medis. Belum lagi hasil pembakaran yang dihasilkan oleh proses insinerasi berupa residu abu mencapai 585 kg pada bulan Maret 2020. Data residu limbah infeksius sendiri harus ditangani dengan prosedur penanganan limbah B3. Bisa dibayangkan masih sebanyak itu abu yang dihasilkan dan harus diperlakukan khusus sesuai dengan prosedur B3.



Saya sepakat dengan penuturan dari Ibu Yuyun Ismawati dari Nexus3 Foundation bahwasanya incinerator yang ada di RS-RS saat ini sebagian besar tidak memenuhi syarat dalam pembakarannya. Hal ini dikarenakan incinerator yang berfungsi dengan “benar” beroperasi pada suhu 850oC di ruangan pertama dan lebih dari 1200oC di ruangan kedua. Sedangkan faktanya sebagian fasilitas pengolah limbah B3 adalah tungku bekar, bukanlah incinerator. Hal lainnya yang perlu dipertimbangkan adalah residu yang dihasilkan, asap yang mengandung banyak kandungan kimia beracun.  Belum lagi residunya yang juga bersifat toxic. Perlu dilakukan pengecekan terhadap lingkungan sekitar mengenai paparan dari pembakaran dengan “tungku bakar”. Jangan sampai berusaha meminimalisir bahaya namun justru membuat bahaya yang lebih besar dengan merusak lingkungan secara tidak sadar.

Bagaimana dengan limbah Infeksius dari ODP di Rumah Tangga?

Seperti yang kita tahu ODP atau orang dalam pemantauan, adalah seseorang yang memiliki gejala panas badan atau gangguan saluran pernapasan ringan, dan pernah menggunjungi atau tinggal di daerah yang diketahui merupakan daerah penularan virus covid19. Berdasarkan surat edaran Menteri LHK Np.2/PSLB3/3/2020 mengenai Pengelolaan Limbah Infeksius (B3) dan SRT dari penanganan Covid19, limbah infeksius dari ODP di rumah tangga seperti masker, sarung tangan dan baju pelindung diri dikumpulkan dalam wadah tertutup bertuliskan limbah infeksius. Setelah itu mengangkut pada pengolahan limbah B3. Selanjutnya petugas dinas LH mengambil dari sumber dan mengangkut ke lokasi pengumpulan sebelum ke pengolah limbah B3.


Namun faktanya saya sebagai mantan ODP Maret lalu (kebetulan pulang dari Korea Selatan saat case covid2019 disana tertinggi nomor dua di dunia dan setelah hari ke 10 karantina mandiri saya terkena demam  + flu akibat minum es dan kecapekan lembur. Tenang, Alhamdulillah hasilnya negative setelah pemeriksaan di rumah sakit rujukan covid19 di Madiun. Sampai sekarang juga Alhamdulillah sehat 😊), anjuran mengenai pengumpulan dan pengelolaan limbah tidak disampaikan baik dari pihak rumah sakit ataupun pihak puskesmas yang sempat visit dan pendataan ke rumah. Kalau saya sendiri selama karantina mandiri mengisolasi diri di lantai 2, terpisah dengan ayah dan ibu yang ada di lantai 1. Benar-benar pakai masker kalau ada keperluan turun ke bawah. Sementara untuk sampah saya pisahkan di kantong plastik sendiri. Antisipasi saja meskipun sudah negative takutnya sebagai carrier virus covid19 nya. Huhuhu.

Nah, bagaimana dengan sampah RT dan sampah sejenis RT?

Menurut peraturan, masker sekali pakai dari orang sehat, sebelumnya dirobek/dipotong/digunting dan dikemas rapi sebelum dibuang ke tempat sampah untuk mencegah penyalahgunaan dari orang-orang tidak bertanggung jawab. Pemerintah daerah setempat juga menyediakan tempat sampah/drop box khusus masker di ruang publik. Mengenai drop box khusus masker ini yang saya belum pernah ketemu,eh apa juga karena saya tidak pernah keluar ya. Rasanya begitu, semoga memang sudah ada drop box di tempat umum sehingga bisa dieksekusi sesuai peraturan yang berlaku.

Untuk antisipasi penyebaran covid19, sampah yang telah dimasukkan dalam kantong sampah diikat rapat lalu dilakukan desinfeksi. Hal ini untuk meminimalisir resiko penularan pada para pahlawan kebersihan mulai dari proses pengangkutan, penyimpanan ataupun pengolahan sampah. Mereka ini yang sering terlupakan, padahal jasanya jelaslah sangat besar dengan pekerjaan yang begitu penuh resiko. Terimakasih banyak saya sampaikan beserta salam hormat dan salam sehat untuk para pahlawan kebersihan dalam bidang pengelolaan limbah, baik limbah padat ataupun cair. Sukses sehat selalu! 


Banyak sekali tantangan dalam implementasi dan rencana pengelolaan limbah medis yang sudah diterapkan dalam peraturan. Situasi sulit seperti sekarang ini menuntut kerjasama dari semua pihak, meskipun tidak dipungkiri juga memerlukan kesiapan dalam jumlah keseterdiaan sarana dan prasarana. Selain itu, perlu pertimbangan yang matang dalam melakukan seleksi teknologi untuk pengolahan limbah infeksius covid19 baik yang berasal dari rumah sakit ataupun dari rumah tangga. Mulai dari jumlah sampah yang bisa diolah, biaya, jenis sampah dan juga operasi serta maintenance dari teknologi tersebut. Jangan sampa asal pilih teknologi yang berakhir tidak efektif atau justru terlalu berlebihan dan memberikan dampak yang buruk ke lingkungan sekitar.


Last but not least, berikut ini adalah skema adaptasi pengelolaan sampah kota dan covid19 yang disampaikan oleh Bu Yuyun dari Nexus3 foundation mulai dari pengumpulan, penyimpanan dan pengelolaan sampah. Masuk juga di dalamnya mengenai skenario daur ulang sampah sampah organik. Semoga dalam masa pandemi covid19 seperti sekarang ini bisa lebih bijak lagi dalam menghasilkan sampah setiap harinya. Minimalisir produksi sampah dengan menggunakan barang-barang tidak sekali pakai. 

Yuk, saling bersinergi #bersatulawancovid19. Sekian, semoga bermanfaat. Sehat sehat selalu happy readers ~


Monday, May 11, 2020

Mencari Asuransi Kesehatan Terbaik? Yuk, Simak Ciri-cirinya

Asuransi kesehatan di zaman sekarang menjadi salah satu kebutuhan wajib yang harus dimiliki. Apalagi dalam kondisi pandemic covid 19 seperti sekarang ini, kesehatan harus menjadi prioritas utama yang diperhatikan. Asuransi kesehatan ini berguna sebagai proteksi dini jika di kemudian hari jatuh sakit dan memerlukan biaya untuk berobat atau perawatan.

Bagaimana cara memilih asuransi kesehatan terbaik?

Tenang, mudah banget kok caranya. Apalagi sekarang ini banyak sekali perusahaan asuransi yang menawarkan produknya dengan berbagai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Nah agar bisa mendapatkan manfaat yang maksimal, tentunya kita harus jeli dalam memilih produk asuransi kesehatan terbaik.  Untuk mendapatkan asuransi kesehatan terbaik, ketelitian menjadi salah satu kunci yang perlu diperhatikan. Kita tidak boleh gegabah dan asal pilih dalam membeli asuransi kesehatan karena beberapa produk ada yang ditawarkan dengan manfaat yang berbeda-beda.

Berikut beberapa ciri-ciri asuransi kesehatan dikatakan baik dan layak untuk dibeli, yuk-yuk simak penjelasan di bawah ini ~

1. Menerapkan sistem pembayaran cashless

Hal yang perlu diperhatikan pertama kali ketika membeli asuransi kesehatan adalah mengenai manfaat sistem pembayarannya. Secara umum, manfaat dari asuransi kesehatan dibagi menjadi dua jenis, yaitu asuransi kesehatan reimburse dan asuransi kesehatan cashless. Sebaiknya kita memilih asuransi kesehatan cashless. Alasannya untuk jenis ini kita akan lebih dimudahkan dalam urusan pembayaran, Dalam asuransi kesehatan cashless, kita tidak perlu membayar seluruh biaya kesehatan terlebih dahulu agar bisa berobat atau mendpatkan perawatan kesehatan. Biaya berobat atau perawatan rumah sakit akan dibayarkan oleh perusahaan asuransi dengan nasabah cukup menunjukkan kartu asuransi tanpa harus membayar uang muka lagi.

2. Memiliki jaringan rumah sakit yang luas

Masih menyambung poin sebelumnya, sistem pembayaran tunai hanya berlaku jika digunakan untuk berobat atau perawatan di rumah sakit yang sudah menjadi rekanan perusahaan asuransi pilihan. Oleh karena itu, agar lebih mudah dan nyaman berobat dimanapun lewat sistem pembayaran cashless, sebaiknya kita memilih produk asuransi kesehatan dengan jaringan rumah sakit yang luas. Sebaliknya, jika produk asuransi yang dibeli tidak bekerjasama dengan rumah sakit yang telah kita pilih sebaiknya membeli asuransi kesehatan dengan sistem pembayaran reimbursement, yang mana mewajibkan kita untuk membayar terlebih dahulu seluruh biaya perawatan.


3. Tidak memiliki limit untuk setiap perawatan.

Terdapat batas limit atau batas jumlah maksimum klaim biaya perawatan pada asuransi kesehatan. Perusahaan asuransi biasanya menerapkan dua jenis limit, yaitu limit gabungan semua perawatan dan limit per perawatan. Salah satu ciri asuransi kesehatan yang baik adalah menerapkan limit gabungan semua perawatan, dimana biaya setiap perawatan tidak ada limit. Hal ini tentu akan memudahkan nasabah dalam berobat selama limit total masih tersedia.

4. Menyesuaikan dengan plafond dan premi

Dalam mendapatkan asuransi kesehatan yang terbaik, penting untuk menyesuaikan kondisi keuangan dengan plafond dan premi asuransi. Hal penting yang perlu diketahui, semakin mahal harga kamar rumah sakit, maka semakin mahal juga harga plafond dan premi asuransi yang harus dibayarkan oleh nasabah.

5. Memprioritaskan rawat inap

Sebaiknya kita fokus memilih asuransi kesehatan yang bisa menanggung biaya rawat inap karena biasanya pengeluaran jenis ini cenderung lebih besar ketika dirawat di rumah sakit. Perusahaan asuransi yang baik biasanya memiliki dua manfaat pada produk asuransi kesehatannya, yaitu manfaat rawat inap dan rawat jalan. Nah hal ini bisa kita temukan pada asuransi Astra lewat Astra Life yang menawarkan manfaat dasar, seperti rawat inap, rawat jalan, dan pembedahan. Selain itu, kita juga bisa mendapatkan manfaat tambahan, seperti maternity, perawatan gigi, dan perawatan mata. Sehingga produk dari asuransi Astra bisa menjadi pertimbangan bagi kita yang sedang mencari produk asuransi kesehatan terbaik dari ilovelife.co.id bagi diri sendiri maupun keluarga.

Nah, sekarang sudah tahu kan ciri-ciri asuransi kesehatan terbaik. Mengingat pentingnya asuransi kesehatan untuk diri sendiri dan orang-orang tersayang tentunya harus pilih yang terbaik ya. Masa iya buat yang tersayang mau asal pilih? 


Sehat- sehat semuanya, stay away from covid19 yes, this too shall pass soon ~ 

Saturday, May 2, 2020

Menjadi Perempuan Berdaya dan Memberikan Peran Maksimal dalam Berkarya

Pendidikan bukan hanya untuk memperoleh ilmu tetapi juga untuk membentuk moral. Sepenggal pesan dari Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, yang hari lahirnya diperingati sebagai hari Pendidikan Nasional. Pendidikan pada masa penjajahan Belanda menjadi hal yang begitu eksklusif untuk keluarga priyayi dan orang asli Belanda. Melalui Perguruan Taman Siswa yang digagas oleh beliau, para penduduk pribumi bisa mengenyam pendidikan yang sama dengan orang-orang kaya dan kasta yang lebih tinggi. 


Berkat kegigihan beliau dalam memperjuangkan pendidikan Indonesia, saat ini kita bisa mengenyam pendidikan dengan begitu mudah melalui beragam akses pendidikan yang dapat kita tempuh. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita bersungguh-sungguh dan terus semangat dalam meneruskan perjuangan pendidikan para pejuang terdahulu. 

Pentingnya pendidikan jelas sangat terasa dalam memberikan pengaruh pada pembangunan bangsa. Pun peran perempuan dalam kemajuan pendidikan menjadi faktor penting yang tidak dapat dipisahkan. Bapak Proklamasi Indonesia, Ir. Soekarno, juga menyampaikan bahwa “Perempuan merupakan tiang negara”.


Hal ini berarti perempuan menjadi pondasi utama dalam mencetak peradaban bangsa yang maju dengan pendidikan sebagai alat tempurnya. Perempuan, dalam hal ini Ibu, menjadi agen pendidik pertama dan memiliki andil besar dalam pengembangan potensi anak. Eits, tapi bukan berarti hanya Ibu yang punya tugas mendidik dalam keluarga, ayah juga berpengaruh dalam proses pendidikan anak.


Melihat pentingnya peran perempuan dalam mewujudkan kemajuan pendidikan tidak serta merta memudahkan para perempuan untuk bisa menempuh pendidikan tinggi. Realita yang ada bahwa perempuan selalu dipandang sebelah mata. Pendidikan untuk perempuan hanya dianggap sebagai formalitas belaka karena pada akhirnya perempuan hanya mengurus urusan dapur, sumur, kasur ketika sudah berkeluarga. Padahal ketiga urusan itu akan selesai dengan sangat baik dengan pendidikan sebagai bekal untuk perempuan yang mengerjakannya. 

Aspek pendidikan untuk perempuan juga berpengaruh dalam segala hal. Bahkan ketika perempuan memilih menjadi ibu rumah tangga. Emansipasi wanita terus digaungkan dari jaman penjajahan Belanda sampai sekarang ini. Tidak hanya R.A. Kartini, pahlawan pejuang emansipasi wanita yang mewujudkan kesetaraan perempuan dalam mendapatkan pendidikan. Banyak tokoh perempuan lainnya yang juga mempunyai peranan besar dalam memperjuangkan kesetaraan gender serta memperkuat peran perempuan. 

Ada Dewi Sartika yang mendirikan sekolah pertama untuk perempuan di Bandung. Selain itu dalam dunia jurnalistk ada Rohana Kudus, wartawan asal Padang yang gencar menulis tentang kesetaraan gender di koran. Banyak sekali tokoh pejuang wanita lainnya yang terus berjuang memperkuat peran wanita dengan pendidikan yang dimiliki guna mendukung pembangunan negeri. Termasuk saya yang akan terus melanjutkan studi karena masih ada banyak hal yang harus dipelajari.

Benarkah stereotip gender menjadi halangan perempuan menempuh pendidikan tinggi?
Keputusan saya untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi berdasar pada kebutuhan untuk terus belajar dan mempelajari ilmu yang lebih luas. Sepakat sekali dengan pesan Ki Hajar Dewantara di awal postingan ini, bahwa pendidikan sejatinya tidak hanya tentang ilmu tapi juga pembentukan moral. Pun wadah untuk mendapatkan banyak pengalaman dan juga pelajaran berharga. Meskipun presentase perempuan yang melanjutkan pendidikan tinggi kecil, apalagi untuk bidang engineering yang saya tempuh. Hal tersebut sama sekali tidak membuat saya gentar. Maju sekolah terus, pantang mundur!

Perjuangan nyata untuk menyelesaikan pendidikan Strata 2 di Korea Selatan, Sept 2019 (photo credits: luckycaesar.com)
Baca juga: 

Pendidikan tinggi masih dianggap sebagai hal mewah bagi perempuan. Entah karena stereotip gender yang mengakar pada budaya masyarakat atau stereotip yang berkembang lainnya sehingga membuat ketidakpercayaan diri perempuan untuk menuntut pendidikan tinggi. Anggapan bahwa nantinya perempuan hanya bertanggung jawab dalam urusan domestik rumah tangga membuat sebagian perempuan kurang termotivasi untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Pandangan lainnya mengenai budaya yang berkembang di masyarakat bahwa menikah patut untuk diprioritaskan oleh perempuan dibanding dengan melanjutkan ke pendidikan tinggi. Apalagi kalau perempuan tersebut sudah memasuki usia matang untuk menikah. Sejak dulu, perempuan selalu dilanda tekanan dan ekspektasi sosial yang tinggi. Mulai dari usia menikah, cara bersikap, model pakaian hingga hal penting mengenai keputusan melanjutkan pendidikan tinggi. 

Istilah “menjadi perawan tua” sering dikaitkan apabila perempuan terlalu mengejar pendidikan sehingga lupa menikah dan akibatnya menjadi perawan tua. Belum lagi banyak yang bilang kalau laki-laki cenderung takut menikahi perempuan dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Mungkin saja takut kalau perempuan menjadi lebih dominan dalam “mengontrol” rumah tangga. Ataupun alasan lainnya yang memang tidak mau perempuan lebih tinggi dalam hal pendidikan dibandingkan dirinya.


Pemikiran yang sangat kuno, mungkin begitu yang ada di pikiran teman-teman. Tetapi memang benar begitu adanya. Melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi memang harus dengan banyak pertimbangan. Belum lagi jika keluarga, kerabat atau lingkungan sekitar yang tidak begitu supportive dengan masalah pendidikan. Selain butuh niat yang kuat, mental sekuat baja pun juga harus senantiasa dilatih.

Bagaimana kesempatan menempuh pendidikan untuk kaum perempuan di Indonesia?
Pencapaian kapabilitas perempuan dalam berbagai bidang diukur dengan menggunakan Indeks Pemberdayaan Gender (IPG). Data dari BPS menunjukkan terus terjadi peningkatan IPG selama kurun waktu 8 tahun terakhir dan rekap data terakhir tahun 2018 sebesar 72.1%. Dalam indeks yang lebih luas, pembangunan manusia di Indonesia terus mengalami kemajuan. Pada tahun 2019, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia mencapai 71,92%, meningkat sebesar 0,53 poin atau tumbuh sebesar 0,74% persen dibandingkan tahun 2018.


Kualitas manusia dalam IPM diukur dalam dimensi pendidikan, kesehatan dan juga ekonomi. Komponen pembentuk IPM yang digunakan adalah umur harapan hidup mewakili dimensi kesehatan, angka harapan lama sekolah serta rata-rata lama sekolah yang mewakili dimensi pendidikan, dan pengeluaran konsumsi untuk mewakili dimensi ekonomi. Nilai IPM wanita mengalami peningkatan lebih cepat dibandingkan dengan IPM laki-laki pada tahun 2018, yaitu sebesar 0.87% (IPM perempuan) dan 0.77% (IPM laki-laki).

Peningkatan performa dalam sektor pendidikan menjadi upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan menjadi hal pokok untuk membentuk kapabilitas manusia yang lebih luas dan memainkan peranan dalam mewujudkan pertumbuhan serta pembangunan yang berkelanjutan.

Harapan lama sekolah (HLS) merupakan salah satu analisis statistik yang digunakan untuk mengukur kualitas pendidikan. Anak-anak yang berusia 7 tahun pada 2019 memiliki harapan dapat menikmati pendidikan selama 12,95 tahun (hampir setara dengan masa pendidikan untuk menamatkan jenjang Diploma I). Lebih lama 0,04 tahun dibandingkan dengan yang berumur sama pada tahun 2018.

Hal ini berarti terjadi peningkatan dalam lama penempuhan pendidikan dari pada tahun sebelumnya. Sementara itu, penduduk usia 25 tahun ke atas secara rata-rata telah menempuh pendidikan selama 8,34 tahun (hampir setara dengan masa pendidikan untuk menamatkan jenjang kelas IX). Lebih lama 0,17 tahun dibandingkan tahun sebelumnya. 

Sementara itu, HLS perempuan pada tahun 2018 sebesar 12,99%  dan laki-laki sebesar 12,84%. Pencapaian yang relatif hampir sama ini menandakan bahwa kesetaraan pembangunan dalam aspek pendidikan dapat diwujudkan secara merata dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. 


Selain HLS, rata-rata lama sekolah juga menggambarkan capaian pendidikan jangka panjang yang didefiniskan sebagai jumlah tahun yang digunakan oleh laki-laki dan perempuan usia 25 tahun ke atas dalam menjalani pendidikan formal. Berdasarkan data dari BPS, pada tahun 2018 rata-rata pendidikan yang dijalani oleh laki-laki sekitar 8.62 tahun dan perempuan 7.72 tahun. Hal ini berarti rata-rata pendidikan laki-laki 1 tahun lebih lama dibandingkan dengan perempuan. Lama pendidikan perempuan ke jenjang yang lebih tinggi perlu ditingkatkan agar tercapai kesetaraan dalam aspek pendidikan.

Bagaimana peningkatan kualitas pendidikan bisa memperkuat peran perempuan dalam berkarya? 
Peningkatan kualitas pendidikan tentu dapat memperkuat peran perempuan dalam mendukung pembangunan negeri. Hal ini bisa dilihat dengan peningkatan presentase perempuan yang bekerja sebagai tenaga professional sebesar 0.72 poin menjadi 47.02% pada tahun 2018. Tidak hanya itu, perempuan juga menjadi pemeran utama dalam industri ekonomi kreatif dengan presentase 53.68%. Sektor ekonomi kreatif cukup signifikan dalam mendukung perekonomian Indonesia. Pada tahun 2018, sektor ekonomi kreatif menyumbang sebanyak Rp 1.105 triliun ke PDB dan mampu menyerap lebih dari 17-18 juta tenaga kerja.


Dari sisi kepemilikan usaha ekonomi kreatif, hasil sensus ekonomi tahun 2016 jumlah pengusaha perempuan masih mendominasi sebesar 54.96% dibanding dengan pengusaha laki-laki di ekonomi kreatif sebesar 45.04%. Selain itu, pada tahun 2011-2016 tercatat pertumbuhan tenaga kerja perempuan sebanyak 9%. 

Dominasi perempuan pada industri ekonomi kreatif (IEE) disebabkan karena IEE lebih bersifat dinamis dan juga fleksibel sehingga memungkinkan perempuan mengambil peran ganda dengan tetap bekerja dan berkarya di tengah kesibukan lainnya baik sebagai pekerja ataupun ibu rumah tangga. Keberadaan industri ekonomi kreatif ini sangat membantu dalam pemberdayaan perempuan dan memperkuat peran perempuan dalam mendukung kemajuan negeri. Pun pendidikan tidak bisa dipungkiri juga mengambil peran krucial dalam mendukung perempuan untuk bisa terus berkarya dan bekerja cerdas.

Jadi, bagaimana menjadi perempuan berdaya dan memberikan peran maksimal dalam berkarya?
Tanpa pendidikan, tentu tidak ada pondasi kuat untuk bisa berkarya dengan hasil maksimal. Pendidikan juga ibarat kunci untuk membuka pintu-pintu kesempatan dalam pengembangan diri. Sebagai perempuan yang terus belajar dan berkarya, terdapat 5 tips yang menurut saya patut untuk dilakukan agar bisa menjadi perempuan yang dapat memberikan banyak peran kebaikan untuk sekitar.


1. Terus belajar dan berkarya
Never stop learning!  Karena sejatinya hidup ini adalah bangku pendidikan tanpa akhir. Terus belajar hingga kehidupan di dunia berhenti. Apalagi di era digital seperti sekarang ini, semakin banyak dan mudah akses untuk belajar. Banyak platform-platform edukasi untuk mendukung pendidikan yang berkualitas dan bisa dijangkau oleh semua pihak. 


Salah satu diantaranya adalah EduCenter dengan konsep One Stop Education of Excellence menjadi pusat edukasi terbesar di Indonesia dengan lebih dari 20 institusi pendidikan ternama. Tidak hanya itu, ternyata terdapat beberapa kursus selain pelajaran di sekolah yang akan membantu mengembangkan kecerdasan, kreatifitas serta beberapa aktivitas khusus lainnya, seperti ballet dan bela diri. Program yang sangat bagus untuk mengembangkan beragam potensi yang dimiliki oleh anak, tidak hanya mempelajari ilmu-ilmu di bangku sekolah formal saja.

2. Berani mengambil peluang
Banyak peluang yang sebenarnya datang dalam kehidupan kita. Namun seringkali terlewat begitu saja karena kurangnya keberanian dan juga kesiapan untuk menghadapinya. Alhasil kita melewatkan kesempatan belajar banyak hal baru dari peluang yang tidak kita manfaatkan dengan baik. Keberanian dalam mengambil peluang ini perlu sekali dilatih dan diterapkan dalam diri agar banyak hal baru yang bisa  dipelajari. Namun tentunya keberanian itu harus disertai dengan persiapan dan tekad diri untuk terus belajar dalam menaklukan peluang-peluang yang menghampiri. 


Baca juga:

3. Berani keluar dari zona nyaman
Zona nyaman bagi saya adalah zona minim untuk berkembang, zona stagnan, zona yang tidak akan membuat kita bisa upgrade kemampuan diri. Kenapa begitu? Yes, karena saat berada di zona nyaman tidak ada tantangan untuk belajar hal-hal baru. Semuanya serba enak, serba bikin nyaman. 


Apa yang kamu harapkan dari tempat yang nyaman? Pasti akan terlena dengan ritme kenyamanan yang senantiasa disuguhkan. Sebaliknya, dengan keluar dari zona nyaman bisa terus meningkatkan kemampuan diri, naik “kelas”. Pun bisa melatih ketangguhan diri karena saya yakin zona tidak nyaman akan penuh dengan tantangan demi menguji kemampuan yang dimiliki.

4. Maju terus! Pantang menyerah terhadap kegagalan yang terjadi
Lebih baik mencoba lalu gagal daripada tidak pernah mencoba sama sekali karena takut gagal. Kegagalan yang terjadi merupakan batu loncatan untuk bisa melompat lebih jauh lagi. Meskipun tidak mudah berdamai dengan kegagalan-kegagalan yang terjadi, yakin dan bulatkan tekad untuk terus maju. Pantang menyerah dengan kegagalan-kegagalan yang terjadi, maju terus mencoba!


5. Tetap berikan penghargaan atas pencapaian diri
Setelah bersusah payah, jatuh bangun berjuang dengan target dan peluang yang ada, jangan lupa untuk memberikan penghargaan atas kerja keras dan pencapaian diri. Berikan self-reward dengan hal-hal yang sederhana. Sesederhana makan es krim, coklat, movie time ataupun sekedar jalan-jalan sejenak ke taman, pantai dan tempat sejuk lainnya. Last but not least, pastikan tetap memberikan ruang dan reward pada diri sendiri seiring dengan terus berusaha dan belajar untuk meningkatkan kemampuan diri.


Baca juga: 

Sekian opini dan tips dari saya mengenai pentingnya pendidikan dalam mendukung peran perempuan lebih berdaya dalam berkarya. Bersyukur sekali atas kesempatan untuk bisa mengenyam pendidikan. Betapa beruntung juga dapat terus belajar dan upgrade kemampuan diri  sehingga bisa memberikan peran maksimal dalam berkarya dan berkreasi. Pun ilmu yang dimiliki bisa menjadi jalan untuk membaktikan diri ke beragam jalan kebaikan di sekitar. Terus semangat belajar untuk bisa menjadi salah satu motor penggerak perbaikan bangsa. Ganbatte!

#pendidikan #peranperempuan #perempuanberdaya #perempuanberkarya #educenterid 

Referensi:
Sirclo. 2020. Dominasi Perempuan dalam Sektor Ekonomi Kreatif Indonesia.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. 2019. Pembangunan Manusia Berbasus Gender 2019.
Badan Pusat Statistik 2010-2018.

COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES