Monday, June 1, 2020

Bersinergi Mewujudkan Pelestarian #AirUntukKehidupan di Masa Pandemi

New Normal, dua kata yang akan sangat sering didengar akhir-akhir ini. Entah sebagai bentuk positif ataupun justru terlalu optimis ingin bisa melanjutkan kehidupan “normal” di tengah pandemi covid19 yang sampai sekarang belum ada titik terangnya di Indonesia. Kurva covid19 yang terus meningkat, anjuran physical distancing yang tidak seefektif awal-awal ditetapkan. Hingga pelanggaran lainnya karena rasa bosan #dirumahaja dan desakan ekonomi sehingga banyak warga yang tidak mengindahkan anjuran pemerintah. Belum lagi sudah banyak para nakes yang tumbang karena positif terpapar covid19.

Saya pribadi tidak bisa membayangkan apabila terus begini kondisinya. Ekonomi yang sudah jalan merangkak, para pengusaha yang merumahkan banyak karyawannya dan menjual asset sampai miliaran rupiah. Belum lagi kalau bertemu kondisi sulit lainnya pasti keadaan jadi jauh tidak lebih mudah. Salah satu contohnya seperti perubahan iklim dari musim penghujan ke kemarau. Nah mumpung sekarang masih awal Juni, sekitar 3 bulanan lagi akan bertemu dengan bulan September yang  konon katanya punya kepanjangan “Sat-satnya sumber” alias sumber yang mengering .

Baca juga:

Menuju 100% target air bersih dan sanitasi sehat 2019

Bertepatan dengan menghadapi era New Normal, semoga saat itu juga kondisinya lebih baik dari kondisi sekarang. Maka harus menyiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi musim kemarau di era pasca atau masih dalam pandemi covid19. Ada beberapa kiat yang bisa dilakukan untuk menyiapkan diri menghadapi musim kemarau. Pun saya berkesempatan mengikuti talkshow Ruang Publik yang diselenggarakan oleh KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) untuk berbagi inspirasi dengan serial perubahan iklim mengenai #AiruntukKehidupan berjudul “Antisipasi ancaman bencana kekeringan 2020” pada tanggal 22 Mei lalu. Penjelasan yang begitu detail dan jelas diberikan oleh dua narasumber super keren, yaitu Bapak Muhammad Reza sebagai Koordinator Koalisi Rakyat untuk Hak Atas Air (KRuHA) dan Cak Purwanto dari Kelompok Masyarakat Peduli Air yang tergabung di Yayasan Air Kita Jombang, Jawa Timur.

Bagaimana kondisi air bersih di Indonesia?

Berdasarkan hasil pemodelan KLHS Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 yang dikeluarkan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, tutupan hutan diperkirakan berkurang menjadi 38% di tahun 2045 dari 50 persen luas lahan total Indonesia di tahun 2017. Hal tersebut yang akan semakin memicu terjadinya kelangkaan air, khususnya pada wilayah dengan tutupan hutan sangat rendah seperti Jawa, Bali dan Nusa Tenggara.

Proporsi luas wilayah krisis air secara nasional diproyeksikan akan meningkat menjadi 9.6% di tahun 2045. Hal ini akibat ketidakseimbangan neraca air karena kondisi daerah hulu tangkapan air yang kritis serta eksplorasi air tanah yang berlebihan terutama di daerah perkotaan. Krisis air diprediksi dapat mengancam hampir 10% wilayah Indonesia yang setara dengan dua kali luas pulau Jawa. Kritisnya kuantitas air juga disertai dengan menurunnya kualitas air secara signifikan.

Salah satu masalah kekeringan terjadi di Jombang, Jawa Timur. Dari waktu ke waktu minimal terhadap 6 kecamatan di Jombang setiap tahunnya dinyatakan krisis air bersih. Cak Purwanto dari Yayasan Air Kita Jombang, Jawa Timur menjelaskan bahwa ada ada 3 faktor yang memberikan pengaruh besar terjadinya kekeringan di Jombang.

Faktor pertama, secara global perubahan iklim memberikan pengaruh terjadinya kekeringan di Jombang. Perubahan ikim ini tidak secara alamiah namun ada kaitannya dengan aktivitas manusia yang merubah bentang alam. Seperti perusakan tampungan air alami untuk kegiatan industry guna mengejar pertumbuhan ekonomi sehingga keseimbangan lingkungan terganggu. 

Faktor kedua, dilihat dari faktor geologi Jombang yaitu faktor kondisi tanah di daerah yang mengalami kekeringan.

Faktor ketiga, oknum yang merusak lingkungan. Terutama adanya kerusakan hutan yang berpengaruh pada sumber mata air di daerah-daerah yang kekeringan tersebut.

Bapak Reza dari KRuHA pun berbagi pandangan terkait krisis air yang terjadi. Krisis air sudah mengemuka bahkan sejak lama. Tidak hanya dalam satu negara namun sudah mencakup situasi global. Air yang bersifat dinamis dapat mempengaruhi kondisi satu tempat ke tempat lainnya dalam skala yang lebih luas. Hal ini dikarenakan air sebagai penghubung kehidupan, bahkan pulau-pulau pun dihubungkan dengan perairan.

Ada dua pandangan mengenai krisis air yang disampaikan oleh Bapak Reza. Pertama, krisis air yang terjadi karena kelangkaan, Meskipun air diproduksi secara ilmiah oleh alam dan harusnya dengan jumlah tidak berubah karena adanya siklus air. Kedua, krisis air terjadi karena ketidakadilan. Krisis air yang terjadi di Indonesia tentu berbeda dengan krisis air yang terjadi di negara lainnya yang sangat lembab. Pun situasi global juga sangat mempengaruhi krisis air di negara tersebut, termasuk politik air, perilaku masyarakat terhadap air dan juga situasi iklim. Politik air berkaitan dengan cara pandang terhadap krisis air yang terjadi. Krisis air terjadi karena tidak disiplin dalam pemakaian air, sehingga membutuhkan mekanisme pasar atau mekanisme harga untuk mendisiplinkan pemakaian air.

Krisis air dianggap sebagai kesalahan manajemen air, termasuk masalah privatisasi air. Politikasi air yang terjadi termasuk pelanggaran HAM akan penggunaan air. Hal ini karena banyak solusi dan alternatif yang bisa dilakukan namun tidak kunjung ditangani secara serius dan sistematis. Sehingga menyebabkan bencana kekeringan yang sebenernya sudah terjadi berkali-kali. Sebanyak 65% bencana yang terjadi terkait air dan telah terjadi berulang.

Politik mempengaruhi bagaimana air diberlakukan sebagai barang ekonomi ataupun barang sosial. Di Indonesia dengan kondisi relatif lembab dan curah hujan tinggi memiliki jatah air yang sangat besar dan sebenarnya sangat cukup. Jatah air untuk orang Indonesia sebesar 9 kali lipat dari rata-rata jatah air dunia. Namun faktanya, sebanyak 119 juta orang Indonesia yang tidak mendapatkan akses air bersih dan sanitasi. Dampaknya penyakit-penyakit yang membunuh akibat buruknya air sanitasi. Sebanyak 100 ribu anak rata-rata tiap tahun meninggal dan Indonesia menempati tingkat kematian tertinggi di ASEAN. Belum termasuk stunting akibat faktor buruknya air dan sanitasi.

Banyak fakta yang mencengangkan bahwa sejak 2012 Jawa sebagai pusat konsentrasi penduduk paling besar di Indonesia lalu NTT, NTB dan Bali sudah mengalami defisit neraca air dan diperparah oleh aktivitas ekstraktif. Bukan hanya pertambangan mineral yang rakus air namun juga meracuni air karena merombak ekosistem alami air. Hal ini menyebabkan daya tampung rusak namun di sisi lain komersialisasi air tinggi di NTT. Banyak perusahaan dibiarkan menyedot air tanah dan menjual rata-rata dengan harga tinggi. Bapak Reza menyebutkan bahwa di Kupang, pengeluaran untuk air jauh di luar ketentuan sebesar 0.5% per rumah tangga atau bahkan ada sampai yang 60%. 

Sebenarnya mana yang lebih efektif: Bendungan vs Pipanisasi?

Pertambangan pun sudah menjadi isu lama. NTT sebenernya mempunyai cukup air namun distribusi alaminya tidak merata. Sehingga butuh pendekatan kebijakan, artinya daerah yang menyimpan air harus dilindungi tidak dibangun apapun. Sementara untuk daerah yang defisit air bisa dilakukan pendekatan teknologi dengan pipanisasi. Namun pipanisasi di NTT kondisinya masih buruk, namun kondisi pasar air yang sangat tinggi. Belum meratanya akses air bersih ini masih menjadi masalah yang perlu untuk segera diselesaikan. Mengingat bahwa kebebasan terhadap akses air bersih menjadi salah satu pilar penting untuk kehidupan sehat yang berkelanjutan.

Seberapa efektif program 1000 waduk yang dijalankan tahun 2014 oleh Presiden Jokowi dalam mengatasi krisis air yang terjadi?

Bapak Reza mengemukakan bahwa program 1000 waduk justru menjadi sumber masalah yang baru. Saya pun sepakat dengan apa yang dipaparkan karena krisis air yang menyebabkan kekeringan di Indonesia memanglah terjadi karena pengelolaan atau manajemen air yang masih jauh dari kata baik. Bapak Reza pun menuturkan bahwa salah kelola yang terjadi ini dilegitimasi oleh kebijakan-kebijakan pemerintah. Kebijakan yang merupakan hasil praktek pelanggaran HAM yang dilegitimasi dan menyebabkan bencana hidrometerologi dinyatakan olej MK sebagai pelanggaran konstitusi. Sehingga  UU Air No. 7 tahun 2004 dibatalkan oleh MK.

Kebijakan pemerintah justru lebih mengarah ke hidrosentrik, sehingga lebih seperti tukang bangunan air dengan pembangunan waduk-waduk. Daerah-daerah yang mempunyai ketahanan air alami justru dihancurkan dan dibangun waduk. Contoh paling nyata, pegunungan Kendeng di daerah sekitar DAS Juwana yang lebar sungainya sudah banyak menyusut. Tiap tahun selalu terjadi banjir saat musim penghujan dan kekeringan saat musim kemarau. Pegunungan Kendeng sebagai tampungan air alami, salah satunya waduk putih. Namun kondisinya sekarang justru dijadikan sebagai daerah tambang dan sudah dinyatakan MK sebagai bentuk pelanggaran.

Bapak Reza juga menyampaikan bahwa potensi kekeringan dan dampaknya jelas akan lebih parah saat pandemi covid19 seperti sekarang ini. Bencana selanjutnya adalah kebijakan pemerintah yang kurang nyambung dengan kondisi yang terjadi sehingga respon negara kurang tepat sasaran dalam menyelesaikan masalah. Perlu sekali dilakukan koreksi kebijakan untuk menanggapi permasalahan krisis air yang tentunya akan menambah masalah saat kondisi pandemi seperti saat ini.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk lebih siap menghadapi musim kemarau di masa pandemi?

Sebelum melakukan apapun, perlu menanamkan niat untuk bisa sepenuh hati melakukan usaha pelestarian air, apalagi menilik krisis air yang terjadi di masa pendemi sekarang ini pasti akan jadi lebih berat. Banyak hal sederhana yang sebenarnya bisa kita lakukan. #Cukupdarirumah bisa bersinergi membantu pelestarian air guna menghadapi musim kemarau yang akan datang. Hal-hal sederhana pelestarian air selama #stayathome mengacu pada prinsip 4 R, yaitu Reduce, Reuse, Recycle dan Replant.

1. Reduce, yaitu mengurangi pemakaian air dengan menggunakan air sesuai kebutuhan.

Minimalisasi penggunaan air bisa dilakukan dengan tidak membiarkan kran air terus menyala saat mencuci tangan dengan sabun ataupun saat menggosok gigi menggunakan gelas ataupun wadah air dari pada dari kran air secara langsung. Membiarkan kran terus menyala selama 1 menit berarti telah membuang sia-sia 1 galon air. Selain itu, penghematan air juga bisa dilakukan dengan memasang eco-friendly sanitary tools seperti water closet (WC), jet washer ataupun shower sehingga bisa lebih menghemat air dari pada sanitary tools biasanya. Selain itu, penting sekali untuk secara berkala mengecek apakah ada kebocoran pada pipa.

Mencuci dengan menggunakan mesin cuci dapat berperan juga dalam menghemat pemakaian air bersih dibandingkan dengan mencuci manual. Hal ini dikarenakan saat menggunakan mesin cuci bisa diatur penggunaan air sesuai dengan kebutuhan jumlah baju yang dicuci. Namun apabila tetap mencuci manual, pemilihan detergen yang tepat, detergen sekali bilas misalnya, juga bisa mempengaruhi jumlah pemakaian air. DIsarankan untuk memilih detergen yang ramah lingkungan guna menghemat penggunaan air untuk membilas pakaian.

2. Reuse, yaitu menggunakan kembali air yang sekiranya masih bisa digunakan

Prinsip reuse dalam pelestarian air ini bisa dilakukan dengan menggunakan air cucian beras untuk menyiram tanaman. Air cucian beras yang biasanya langsung dibuang ke saluran pembuangan ini faktanya mengandung beberapa nutrisi yang dibutuhkan untuk menunjang kesuburan tanaman. Air cucian beras mengandung 90% karbohidrat yang berupa pati, vitamin, mineral serta beberapa vitamin. Karbohidrat dalam jumlah yang tinggi akan membantu proses terbentuknya hormon pertumbuhan pada tumbuhan, berupa auksin, giberelin dan alarin.

Selain pemanfaatan air cucian beras, saya juga menggunakan air bekas cucian tas/sepatu/baju untuk menyiram halaman depan rumah saat musim kemarau. Penyiraman halaman rumah ini untuk mengurangi potensi debu terbang saat disapu. Saat ini masih banyak orang yang menggunakan air bersih untuk menyiram halaman rumah.

3. Recycle, yaitu melakukan pengolahan terhadap air limbah menjadi layak digunakan

Penggunaan air bekas wudhu yang dialirkan ke kolam filter air dan selanjutnya menuju kolam ikan bisa menjadi penerapan prinsip recycle. Kolam filter air ini cukup diberikan filter air sederhana seperti susunan batu besar, pecahan genting, karbon aktif dan juga sabut kelapa. Sewaktu SMA dulu saya pernah memanfaatkan kulit singkong dan kulit kacang tanah sebagai bahan dasar karbon aktif yang digunakan untuk penjernih air. Penggunaan karbon aktif ini bisa menyerap racun dan juga bakteri yang terkandung dalam air limbah. 

Penerapan prinsip recycle selanjutnya adalah rain water harvesting atau panen air hujan untuk bisa digunakan dalam kegiatan sehari-hari atau bahkan bisa digunakan sebagai air minum. Pemanfaatan air hujan ini bisa menjadi solusi efektif untuk mencegah banjir, kekeringan serta memenuhi kebutuhan akan air yang berkualitas.

Para petani bisa memanen air hujan dengan membuat sumur atau kolam di sekitar lahan pertanian. Nah saat musim kemarau datang, air yang telah ditampung dapat menjadi alternatif untuk sumber pengairan. Prinsip dasar penampungan air hujan adalah dengan mengalirkan air hujan yang jatuh di permukaan atap bangunan melalui talang air untuk dialirkan ke tangki penampung. Limpasan air dari tangki penampung yang telah penuh lalu di salurkan ke sumur resapan.

Cak Purwanto bersama Yayasan Air Kita Jombang juga berfokus dalam pelestarian air, terutama pemanfaatan air hujan. Yayasan Air Kita Jombang, Jatim merupakan lembaga non profit sejak 2017 yang bergerak di bidang keagamaan, sosial, pendidikan non formal untuk anak-anak dengan fokus tujuan utama untuk sosialisasi pemanfaatan air hujan khususnya sebagai air minum. 

Ritual unik yang dilakukan oleh anak-anak Yayasan Air Kita seperti panen air hujan, guna mencegah perubahan iklim serta melestarikan sumber daya air. Yayasan Air Kita termasuk salah satu kelompok yang dalam kurun waktu hampir 4 tahun terakhir terus mensosialisasikan manfaat air hujan untuk air minum. Teman-teman Yayasan Air Kita langsung melakukan sosialisasi kepada masyarakat dengan masuk ke kampung-kampung, sekolah, ataupun kampus.

Yayasan Air Kita membagi masyarakat dalam beberapa kelompok belajar untuk belajar kelompok formal dan kesenian. Terdapat materi tambahan yang diberikan selain materi pokok untuk sekolah. Materi tambahan tersebut khusus untuk membahas pentingnya pelestarian air tanah maupun air hujan. Sudah terbentuk pula kelompok kesenian bernama Republik Air Indonesia. Kelompok ini khusus untuk menyuarakan pentingnya pelestarian lingkungan dan air melalui jalur kesenian wayang beber.  Kegiatan yang dilakukan Yayasan Air Kita lainnya adalah sholawatan air hujan untuk menyuarakan pentingnya air, memanfaatkan air hujan, serta memanfaatkan sebaik-baiknya sumber air dengan bijaksana.

Selain Yayasan Air Kita, ada juga komunitas kandang udan di desa Bunder, Klaten (Jawa Tengah) yang melakukan pengolahan air hujan menjadi air siap minum. Caranya ialah menampung air hujan yang turun langsung dari langit atau air hujan dialirkan dari talang ke bak-bak penampung. Kemudian air hujan disaring dengan busa ataupun kain untuk menghilangkan debu atau kotoran yang tercampur. Cara lain untuk menghilangkan debu atau kotoran dengan mendiamkan air hujan.

Kemudian, air hujan dimasukkan ke dalam dua tabung plastik yang aman digunakan (ada label foodgrade) dan saling terhubung seperti bejana berhubungan. Selanjutnya air di dua tabung dialiri listrik DC (proses elekktrolisis) yang bertujuan untuk mengatur tingkat pH air hujan. Pengolahan air hujan bisa dilihat lebih detail pada video berikut:

4. Replant, yaitu melakukan usha penanaman untuk memperkaya air dalam tanah

Prinsip replant ini bisa membantu dalam proses recovery kesediaan air tanah yang kian lama kian menipis akibat ulah manusia yang merusak lingkungan. Penanaman pohon ini dimaksudkan agar akar pohon bisa mengikat air dalam tanah dan menjadi daerah resapan yang dapat memenuhi kebutuhan hidup manisa dan makhluk hidup lainnya.

Selain penanaman pohon, pembuatan lubang biopori yang berfungsi sebagai sumur resapan juga bisa memperkaya kesediaan air tanah. Cara membuat lubang biopori ini sangatlah mudah yaitu dengan membuat lubang berdiameter 10 cm dengan kedalaman 1 m. Lubang tersebut selanjutnya diisi dengan sampah-sampah organik sehingga selain berfungsi sebagai resapan air, Biopori juga bisa menjadi wadah pembentukan kompos. Kompos yang terbentuk ini kemudian dapat menunjang kehidupan tanah yang seterusnya mampu menciptakan pori-pori di dalam tanah. Sampah organik yang dapat dikomposkan di dalam biopori diantaranya sampah taman dan kebun berupa dedaunan atau ranting pohon,  dan sampah dapur berupa sisa-sisa sayuran.

Biopori memiliki manfaat untuk menjaga keberadaan air tanah dan kelestarian mata air. Untuk kawasan yang memiliki lahan terbuka yang sempit, pembuatan biopori ini bisa menjadi alternatif penyerapan air hujan guna mencegah terbentuknya genangan. Selain itu biopori juga dapat meningkatkan aktivitas mikroorganisme serta makhluk hidup dalam tanah sehingga kesehatan tanah dan perakaran tumbuhan sekitarpun meningkat.

Cak Purwanto juga menyampaikan bahwa untuk bisa tetap melestarikan air perlu adanya sinergi antar semua elemen. Mulai dari masyarakat, komunitas penggerak pelaku pegiat lingkungan sampai pemerintah dan instansi pembuat kebijakan. Harus ada satu titik tengah dan satu komitmen untuk bisa menyelesaikan permasalahan krisis air yang terjadi saat ini.

Last but not least, Bapak Reza menekankan bahwa perubahan paradigma mengenai krisis air sangat penting baik untuk pemerintah ataupun masyarakat. Namun, perubahan perilaku green lifestyle tidak akan memberikan efek yang signifikan jika tidak ada perubahan kebijakan dari pemerintah. Fakta dan data sudah terpampang nyata dengan prediksi yang valid, namun sayangnya belum didukung dengan kebijakan yang ada. Saat ini yang diperlukan adalah tindakan kongkrit di masyarakat yang harapannya bisa memaksa negara untuk berubah. Pemerintah sebagai pembuat kebijakan harus merubah pola pembangunan dan pola ekonominya menjadi lebih ramah air. Jangan semua dirusak, dialihfungsikan dan hanya mengejar profit saja.

Sekian, sekelumit cerita dan sharing ilmu yang saya dapatkan setelah mengikuti talkshow ruang publik bersama KBR dan dua narasumber super inspiratif. Semoga bermanfaat dan juga menginspirasi teman-teman untuk terus bersinergi dalam mewujudkan pelestarian #airuntukkehidupan. Pun kita semua bisa lebih siap dan tidak kaget lagi menyambut musim kemarau yang akan datang apalagi di masa pandemi covid-19 seperti sekarang ini. Terus semangat lestarikan air, stay healthy, stay hydrated and stay away from covid19 too!

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Kalian juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog “Perubahan Iklim” yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya bisa selengkapnya lihat di sini ya. Yuk ikutaan juga, biar makin banyak yang terinspirasi untuk peduli mendukung pelestarian #airuntukkehidupan ~

Referensi: 

Idhom, A.M. 2019. Cara Memanfaatkan Air Hujan, Memanen dan Mengolah Jadi Air Minum. www.tirto.id. diakses pada tanggal 31 Mei 2020

Tuesday, May 26, 2020

Melebihi Seperempat Abad: Hidup laksana bianglala

Rasanya tidak pernah siap menyambut pertambahan usia di bulan kelima setiap tahunnya. Kali ini 26 di tanggal 26, membuat terdiam cukup lama di sepertiga malam yang entah kenapa terasa berbeda. Hening, sunyi dan tenang yang membuat rasa debar membuncah dalam dada. Berkontemplasi tentang apa saja yang telah terjadi, tentang mimpi-mimpi yang selalu dikendalikan oleh ambisi. Perihal berdamai dengan masa lalu, kembali membuka hati dan mengikhlaskan apa yang memang sudah pergi, harusnya kini bisa jauh lebih sederhana.

Hidup laksana bianglala ❤️

Baca juga: 

Tentang tua dan mendewasa 

Memegang kendali akan ekspektasi

Melebihi seperempat abad, banyak kekhawatiran yang kian menumpuk bersama ekpektasi yang kini bisa lebih terkendali. Setidaknya belajar dari tahun sebelumnya, ketika sangat ketakuan diterpa quarter life crisis. In the end, everything is fine. All is falling into place. Sesuai apa yang sudah Allah gariskan dan Allah ijinkan untuk terjadi.

Malu rasanya sama Allah, tak terhitung nikmat yang diberikan setiap harinya tapi terus dan terus merasa kurang. Masih susah sekali untuk bisa setia melebihkan syukur. Padahal dengan melebihi seperempat abad, harusnya jadi lebih paham bahwa merasa kurang tidak akan pernah menambah nikmat. Justru dengan merasa cukup dan penuh syukur, nikmat akan semakin berlipat.

Berkawan dengan gagal  

Melebihi seperempat abad, ingin ini itu banyak sekali. Beberapa mimpi tereliminasi dengan sendirinya karena merasa diri ini tidak akan mampu menggapai. Semakin rumit pertimbangan dalam mengambil keputusan. Takut akan banyak hal, padahal belum juga dieksekusi. Alhasil, beberapa rencana hanya berakhir wacana karena terlalu ciut dengan resiko yang masih sekedar dalam bayangan. Harusnya tidak begitu, justru melebihi seperempat abad jadi lebih berani merangkul gagal untuk jadi kawan. Agar takut tak berani datang menghinggapi untuk merealisasikan mimpi. Bukankah jauh lebih merugi jika tak pernah merasakan nikmatnya gagal sama sekali? 

Bertambah usia, jauh lebih bijaksana 

Melebihi seperampat abad, bukan lagi tentang apa yang sudah kamu dapat. Tapi lebih kepada apa saja yang sudah kamu berikan dan apa manfaat yang sudah kamu bagikan untuk sekitar. Bukan tentang memperkaya diri sendiri dan abai akan hak orang lain di rezeki yang dititipkan Allah. Bukan pula membanggakan jabatan ataupun membanding-bandingkan kekayaan diri yang semakin memupuk sifat kufur dalam dada. Padahal tiap rezeki yang diberikan Allah pasti akan dimintai pertanggungjawaban. Ah, semakin bertambah usia semoga jauh lebih bijaksana dalam berucap, bersikap dan tentunya bertindak. Sungguh malu, bertambah tua namun tidak mendewasa.  

Tak perlu tergesa-gesa, nikmati saja

Melebihi seperempat abad, terus berdoa agar bisa mengikhlaskan masa lalu. Berdamai dengan kecewa karena ditinggalkan atau patah hati karena dikhianati. Sebab untuk sembuh adalah sebuah pilihan. Remuk yang mengunci hati membuat takut untuk kembali membuka hati. Pun tanpa kepastian tidak akan dikecewakan ataupun disakiti kembali. Namun jelas satu yang pasti, niat baik yang diingkari memberikan pelajaran bahwa ada hal yang lebih baik dari Allah telah siap menanti. Bukankah kesedihan dan kekecewaan haruslah dicukupkan? Tak baik juga jika terus-terusan.

Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku – Umar bin Khattab

Melebihi seperempat abad, memang usia siap berumah tangga untuk wanita. Pun banyak teman dan sahabat sepermainan yang sudah punya jagoan kecil masing-masing, Semakin pula diburu dengan pertanyaan kapan dan siapa yang akan melengkapkan separuh hati.  Tenang, kenapa harus tergesa-gesa ? Menikah bukanlah kompetisi, tapi komitmen membagi hidup dengan seseorang yang pasti sangat menghargai pasangannya untuk seumur hidup. Nikmati saja masa yang ada sekarang, memperbaiki diri sembari terus berusaha membuka hati.

Jangan salah, tidak semua orang bisa melepaskan masa lalu semudah membalikkan telapak tangan. Ada yang berusaha sangat keras menyibukkan diri untuk bisa lupa bahwa hatinya telah dikhianati. Ada yang bahkan kehilangan kepercayaan dan kecintaan pada dirinya sendiri karena terlalu bodoh percaya pada janji yang hanya tinggal janji. Melebihi seperempat abad, semoga hati ini bisa dilengkapkan di waktu terbaik. Saat keduanya sama-sama siap untuk berbagi cinta dan merajut cerita dalam satu atap. Tentunya dengan penuh berkah dari Allah.

Hidup laksana bianglala

Melebihi seperempat abad, semakin paham bahwa hidup ini laksana bianglala. Ada saat berada di atas, jadi lebih pandai melebihkan syukur atas nikmat yang jumlahnya tak akan bisa untuk dihitung. Ada saat berada di tengah-tengah, jadi lebih mawas diri bahwa apa-apa yang dimiliki saat ini adalah sementara, bahkan bisa hilang dalam sekejap. Maka apa gunanya menggenggam terlalu erat hingga lupa untuk berbagi?

Sementara saat berada di bawah, jadi lebih paham bahwa ujian yang datang tidak akan melebihi kapasitas diri. Ujian juga bisa berarti Allah merindukan kita untuk lebih mendekatkan diri padaNya. Pun saat masa-masa berada di bawah bisa lebih memaknai bahwa perjuangan dan kerja keras tidak akan pernah mengkhianati hasil. Tenang, akan selalu ada pelangi setelah hujan badai. Tenang, akan selalu  ada kemudahan menyertai kesulitan yang datang. Tenang ada Allah, kalau Allah sudah menghendaki, apapun pasti jadi.

Turning 26 on May 26th ❤️

Melebihi seperempat abad, terima kasih tak terhingga untuk keluarga yang begitu tulus memberikan cinta tanpa pamrih. Terima kasih selalu menjadi rumah paling nyaman untuk pulang. Semoga makin banyak kebaikan dan cinta di tahun 26, terus semangat memperbaiki diri dan menebar kebaikan untuk sekitar!

Salam sayang penuh cinta dari Naris dan Tata ❤️

Wednesday, May 20, 2020

#CeritakuDariRumah untuk Tetap Kreatif dan Produktif selama Pandemi Covid-19

Tetap kreatif dan produktif di masa-masa sulit seperti sekarang ini adalah pilihan. Apalagi bosan dan penat terus mengintai bersama anjuran untuk #dirumahsaja dan PSBB yang entah kapan akan berakhir. PSBB merupakan pembatasan sosial berskala besar bukan pembatasan sosial bohong-bohongan yang diplesetkan oleh salah satu warganet di twitter sebagai ungkapan kekesalan melihat warga +62 yang sekarang terlihat abai dengan peraturan pemerintah. Apalagi larangan mudik yang sekarang tinggallah wacana. Sedih rasanya melihat banyak yang sudah membanjiri pusat berbelanjaan atau bahkan nekat mudik ke kampung halaman walaupun jelas-jelas kurva covid-19 di Indonesia masih terus naik. Dengan keapatisan dan tindakan yang jauh dari kata bijaksana, untuk mendapatkan kurva covid19 yang melandai rasanya membutuhkan waktu lebih lama lagi. 

Bosan #dirumahsaja mendorong nafsu kembali nongkrong dan ngemall susah untuk dibendung lagi. Padahal bosan tentu bisa dikendalikan dengan melakukan hal-hal kreatif sehingga diri ini menjadi lebih produktif, daripada hanya sekedar rebahan. Efek rebahan yang berlebihan jelas juga tidak sehat bahkan bisa membuat badan pegal-pegal.

Jadi, bagaimana bisa tetap kreatif dan produktif selama masa pandemi covid-19?

Di postingan kali ini, saya ingin berbagi mengenai 5 hal yang bisa dilakukan #cukupdarirumah untuk bisa tetap mengembangkan kreativitas dan meningkatkan produktifitas diri. Agar setelah pandemi covid-19 berakhir (aamiin ya Allah), ada value positif yang bisa didapatkan. Skill yang naik kelas ataupun skill baru yang didapatkan. Beruntungnya lagi bisa membangun bisnis baru yang tidak hanya menguntungkan diri sendiri, tapi juga memberi kebaikan untuk sekitar. 

1. Mengatur workspace yang nyaman untuk #workfromhome lebih maksimal

Anjuran bekerja dari rumah juga saya rasakan, awal-awal WFH yang begitu dadakan sejak pertengahan bulan Maret, membuat saya tidak bisa fokus maksimal karena workspace yang belum tertata dengan baik. Apalagi pekerjaan yang dikerjakan dari rumah kali ini membutuhkan fokus dan konsentrasi tinggi. Deadline paper untuk publikasi dari bos besar yang dekat sekali menuntut saya segera berbenah mengatur workspace jadi senyaman mungkin.

Not (yet) my workspace, but my dream workspace 😁

Kalau nyaman versi saya yang penting ada kipas angin supaya udara lebih sejuk jadi tidak terlalu panas. Ada stopkontak untuk laptop dan juga hp. Yang terakhir harus dilengkapi dengan tempat duduk yang nyaman dan tegak agar bisa lebih fokus dan konsentrasi. Oiya, bisa tutup pintu juga ya biar lebih tenang dan meredam keramaian di luar. Eh, ini sih kalau saya karena tidak bisa fokus kerja saat suasana bising 😁

2. Melakukan hobi untuk sejenak refreshing dari pekerjaan dan mewujudkan #worklifebalance

Anjuran #WFH sebenarnya banyak enaknya. Namun ada juga tidak enaknya karena jam kerja yang terlampau bebas jadi lebih seringnya saya dikerjain sama pekerjaan. Alangkah baiknya jika mengatur jam kerja sesuai dengan jam kantor. Apabila pekerjaan belum selesai saat jam kerja berakhir, maka kerjakan keesokan harinya. Lembur boleh saja sih, apabila keadaan urgent seperti deadline dadakan yang seringkali bos besar berikan. Usahakan jangan lembur sih tapi, bisa dicicil pekerjaannya sebagai antisipasi, karena menurut saya sayang sekali waktunya bisa digunakan untuk refreshing dengan kegiatan “ringan” lainnya.

Kegiatan ringan itu adalah melakukan hobi seperti ngeblog atau eksekusi resep masakan. Selama anjuran #dirumahsaja, sudah 10 artikel terbit di kontemplasi asa. Cukup produktif menurut saya meskipun belum bisa merealisasikan one day one post. Namun setidaknya bisa balance antara bekerja dan melakukan hobi kan ya, hehe. Oiya, selain itu saya juga beberapa kali mengikuti kelas online untuk bisa terus update informasi terkini dan tentunya menambah wawasan. Selanjutnya, saya menuliskan hasil dari kelas online di kontemplasi asa agar lebih banyak lagi yang mendapatkan manfaatnya.

Baca juga: 

Menilik kondisi terkini pengelolaan limbah B3 medis dan SRT infeksius covid-19

Oiya, selama bulan Ramadhan ini saya sudah eksekusi beberapa resep masakan. Resep yang mudah-mudah sih untuk takjil pelengkap buka puasa. Mulai kue cubit, donat anti bantet, bakwan crispy, pentol bakar, pisang goreng yummy, dan tempe mendoan super enak. Ah mention makanan siang-siang kok lebih berasa enaknya ya? Lol.

Ngeblog sudah, masak juga sudah. Belum lengkap rasanya tanpa buku bacaan untuk suplemen wawasan diri. Saya sebut sebagai suplemen karena kontribusi dari buku bacaan dalam meningkatkan wawasan diri jadi lebih bijaksana untuk memahami kehidupan yang sedang berjalan. Selama bulan Ramadhan ini sudah 3 buku yang bisa saya selesaikan. Dua buku karangan Tere Liye, Selena dan Nebula. Satu buku lagi karangan Ardhi Mohamad berjudul What’s so wrong about your life. Masih ada 2 buku karangan Wira Nagara, distilasi alkena dan disforia inersia, untuk menemani libur singkat lebaran. So nice, kan?

3. Menyempatkan diri untuk olahrasa dan olahraga

Beruntungnya masih diberikan kesempatan untuk bisa bertemu bulan penuh kemuliaan, Bulan Ramadhan, jadi bisa memaksimalkan olahrasa. Olahrasa merupakan ilmu untuk mengontrol emosi, perasaan, dan hati agar bisa merasa bahagia meskipun dalam kondisi serba sulit seperti sekarang ini. Olahrasa bisa dilakukan dengan mendekatkan diri pada Sang Pemilik Kehidupan, mematuhi semua perintahNya dan menjauhi apa yang jelas dilarang olehNya.

Pas banget nih bulan Ramadhan bisa lebih memakismalkan ibadah, baik ibadah wajib maupun sunah. Sayang banget kan bulan penuh kemuliaan disia-siakan hanya untuk rebahan ataupun kegiatan yang tidak berfaedah sama sekali. Pun bisa jadi bulan untuk banyak berbagi kebaikan lewat sedekah berbuka, makan sahur, bingkisan lebaran ataupun infaq yang lainnya. Banyak berbagi kebaikan berarti berbagi bahagia untuk yang lainnya. Bahagia itu nular lho, pasti bahagia kan lihat yang lainnya bahagia?  Jadi makin banyak yang ikut berbagi kebaikan dan bahagia untuk sekitar.

Selain olahrasa, menyempatkan olahraga juga perlu agar jiwa raga tetap sehat. Apalagi setelah seharian hanya di depan laptop, perlu sejenak untuk stretching dan melakukan workout ringan. Tidak perlu yang berat-berat. Cukup yang ringan saja, seperti sit-up, back-up, squat jump, ataupun yoga.

4. Mencoba hal baru dengan mengembangkan budidaya lidah buaya

Selama pandemi covid19, saya mencoba hal baru dengan membantu ayah mengembangkan budidaya lidah buaya yang ada di lantai atas rumah. Sudah dari 3 tahun lalu ayah merintis budidaya lidah buaya untuk terapi penyakit ibu. Hingga saat ini lidah buaya ayah sudah sebanyak lebih dari 120 pohon dengan ukuran jumbo bisa mencapai berat sekitar 900 gram sampai 1 kg per pelepah.

Berawal dari banyaknya lidah buaya yang dipanen setiap harinya, maka kakak saya memberikan ide untuk membuka toko online di shopee. Saya pun juga ingin mempromosikan mengenai banyak manfaat yang bisa didapatkan dari konsumsi tanaman super baik lidah buaya melalui instagram. Akhirnya lahirlah akun instagram @natalovera.store berisi foto-foto dan informasi mengenai lidah buaya. Selain itu, sudah terbentuk juga toko online di shopee dengan nama Natalovera Store untuk area Jakarta sekitarnya, dan Natalovera.store Madiun untuk area timur dan tengah Pulau Jawa.

Happy shopping natalovers di Shopee Natalovera 🌱

Sudah hampir dua bulan membuka toko online di shopee dan gencar melakukan promosi di instagram, akun toko Natalovera.store Madiun sudah menjadi star seller. Alhamdulillah, begitu senangnya saya mengetahui banyak orang yang mengonsumsi lidah buaya. Lebih bahagia lagi mengetahui kalau banyak customer yang mulai budidaya sendiri lidah buaya di rumah. Hal ini berarti banyak yang sudah paham mengenai manfaat lidah buaya dan mulai menjadikan lidah buaya untuk konsumsi hairan.

Kindly follow @natalovera.store 😁❤️
Kindly follow @natalovera.store 😁❤️

Teman-teman juga ingin budidaya lidah buaya? Tenang jangan khawatir, @natalovera.store punya banyak bibit kualitas super. Bisa main ke ignyaa yak, follow juga sangat boleh hehe #sekalianpromosi

5. Meluangkan waktu untuk membantu keluarga

Membantu keluarga selepas WFH juga bisa jadi salah satu refreshing. Kata ayah biar tidak spaneng alias terlalu serius. Kebetulan Ramadhan kali ini saya membantu kakak yang baru saja melahirkan untuk menjaga dua keponakan saya, Nariswari dan Samantha. Senang sekali setelah dua tahun tidak bertemu akhirnya bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan mereka.

Saya punya kesempatan untuk menjadi teman belajar, mengajari mereka untuk berkreasi dengan melukis, membuat kreasi origami, membuat mozaik warna-warni serta membacakan buku-buku dongeng. Menyenangkan sekali belajar sambil bermain bersama duo krucil meskipun juga sangat menguji kesabaran. Wajar namanya juga anak kecil.

Saya banyak belajar dari naris dan tata. Cepat sekali tertawa bahagia padahal satu menit yang lalu menangis kencang. Pun mereka juga mudah memaafkan padahal baru saja saya marah-marah dan sudah senyum-senyum manja minta dipangku. Selalu gemas melihat tingkah laku mereka yang seperti tidak ada capeknya, selalu full energy. Lol.

Sekian #ceritakudarirumah selama masa pandemi covid-19. Sederhana namun penuh makna dan ada manfaat dari setiap hal yang dilakukan.  Pun tentunya bisa tetap kreatif dan produktif di masa-masa sulit seperti sekarang ini. 

Ramadhan hanya tinggal beberapa hari meninggalkan kita. Masih ada kesempatan untuk bisa memaksimalkan ibadah dan terus berbagi manfaat serta kebaikan di hari-hari terakhir menjelang hari kemenangan. Apalagi di era digital seperti sekarang ini mudah sekali untuk berbagi kebaikan. Salah satunya bisa melalui dompet dhuafa, yaitu lembaga amil zakat yang sudah terpercaya sejak 27 tahun lalu. Oiya, jangan lupa juga untuk bayar zakat yaa teman-teman 😊

Yuk, siapkan hati dalam menyambut kemenangan yang sesungguhnya. Menang melawan nafsu dan ego diri yang lebih sering melambung tinggi. Terlebih saat masa-masa pandemi seperti sekarang ini. Tidak apa kalau tidak bisa mudik lebaran kali ini, yang penting keluarga di kampung halaman aman, sehat dan bahagia. Silaturahmi lewat online dulu yaaa, yuk bersatu #bersinergilawancovid19. Stay healthy and stay away from covid-19 ~ 

Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition "Ceritaku dari Rumah" yang diselenggarakan oleh Ramadhan Virtual Festival dari Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan.

Yuk langsung ikutan #CeritakuDariRumah 😁

Monday, May 18, 2020

Menilik Kondisi Terkini Pengelolaan Limbah B3 Medis dan SRT Infeksius Covid-19

Covid-19, topik yang terus menjadi bahasan dari akhir bulan Januari 2020 hingga sekarang. Mulai dari anjuran #stayathome di Busan hingga diteruskan untuk #workfromhome ketika sudah sampai di tanah air. Saat awal-awal berkembangnya covid-19 di Busan hampir tiap malam insomnia karena terlalu insecure. Terus update informasi dan paper penelitian yang membahas tentang perkembangan mutasi virus Sars-Cov2. Apalagi Februari lalu, case covid19 di Busan jumlahnya terus naik hingga mencapai angka ribuan hanya dalam kurun waktu 2 minggu. 

Sesampainya di Indonesia tanggal 2 Maret, baru ada 2 pasien terkonfirmasi positive covid19. Jumlahnya masih terus naik sampai sekarang dan  update hingga tanggal 15 Mei 2020, ada sebanyak 16.496 confirmed positive case, 1.076 meninggal dan 3.803 orang dinyatakan sembuh. Persebaran Covid19 tidak main-main rasanya, total di seluruh dunia sebanyak 4,53 juta orang terinfeksi covid-19, 1,63 juta telah sembuh dan 307 ribu meninggal dunia.


Sudah lebih dari 2 bulan sejak kembali ke tanah air, bersyukur senantiasa diberikan nikmat sehat dan bisa lebih intense berkumpul sama keluarga karena diberlakukan #WFH. Bosan? Wajar kok, nikmati saja bosannya nanti kalau udah bosan “bosan” pasti balik rajin lagi. Mencoba membiasakan semua anjuran untuk memutus rantai penyebaran covid19, termasuk physical distancing, anjuran di rumah, cuci tangan pakai sabun, tidak pergi ke tempat-tempat umum dulu. Berat memang apalagi untuk para extrovert, karena ambivert seperti saya lebih teradaptasi untuk stay di rumah karena emang mager buat keluar-keluar. Ehe. Tapi bukankah semua jadi biasa kalau sudah terbiasa ?

Baca juga: 

Ironi Permasalahan Sampah di Indonesia - Optimiskah Menuju Indonesia Bebas Sampah 2020? 

Well, selama anjuran #stayathome di masa pandemi seperti sekarang ini satu yang menjadi concern saya, yaitu mengenai pengelolaan limbah mulai dari limbah cair dan juga limbah padat. Di tengah pandemi seperti ini bisa bayangkan betapa beresikonya pahlawan kebersihan yang bekerja dalam mengelola limbah setiap harinya, mulai dari pengumpulan, penyimpanan sampai dengan pemrosesan akhir. Belum lagi limbah yang berasal dari kegiatan penanganan pasien covid-19 (positive+ pasien dalam pengawasan (PDP)) dikategorikan dalam limbah infeksius dan masuk kategori limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun). Sehingga dalam penanganan mulai dari pengumpulan dan pengelolaannya harus sesuai dengan peraturan limbah B3. Bisa bayangkan juga sebanyak apa limbah B3 baik dari RS (medis) ataupun sampah rumah tangga (SRT) yang dihasilkan ribuan pasien terkonfirmasi positif dan PDP yang jumlahnya juga sudah puluhan ribu sampai sekarang.

Beruntungnya saya bisa mengikuti webinar pada tanggal 28 april lalu yang diadakan oleh IATL ITB bersama Bappenas, Kesehatan Lingkungan Kementrian Kesehatan, dan DLH Provinsi Jakarta. Ada juga dari PT.Jasa Medivest sebagai perusahaan pengelola limbah B3 dan juga Nexus3 Foundation. 

Diskusi yang begitu komplit dan menarik serta informasi yang sangat bermanfaat rasanya sayang kalau hanya sampai di saya saja. Setelah terkendala waktu akhirnya bisa saya tuliskan di kontemplasi asa supaya banyak yang tahu kondisi terkini pengelolaan limbah khususnya limbah dari rumah sakit dan SRT yang terinfeksi covid19. Pun agar lebih aware lagi tentang apa yang harus dilakukan dalam pengelolaan sampah di  masa pandemi seperti sekarang ini.


Kebijakan pengelolaan limbah B3 menjadi agenda prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Termasuk diantaranya adalah pembangunan fasilitas pengolahan limbah B3 medis dan limbah B3 terpadu. Target pembangunan dilakukan di 4 wilayah diantaranya Sumatera, Sulawesi, Jawa Timur dan Kalimantan dengan perkiraan biaya mencapai 4.6 triliun rupiah. Tujuan extra pembangunan fasilitas pengolahan limbah B3 dikarena untuk memenuhi kapasitas pengolahan limbah B3 hingga mencapai 26.880 ton/tahun serta bisa mengurangi biaya transportasi untuk pengolahan limbah B3.


Bagaimana klasifikasi limbah dan regulasi yang mengatur?

Limbah terbagi menjadi limbah padat dan cair. Masing-masing limbah padat terdiri dari limbah padat B3 medis dan limbah padat domestik. Sementara limbah cair terbagi menjadi limbah cair B3 dan limbah cair domestik. Limbah padat domestik, limbah padat B3 dan limbah cair B3 diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PermenLHK) No.P-56/2015 mengenai Tata cara dan Persyaratan Teknis Pengelolaan Limbah B3 dari Fasilitas  Pelayanan Kesehatan (Fasyankes). Sementara itu, limbah cair domestik diatur dalam PermenLHK No.P-68/2015 tentang baku mutu limbah cair domestik.

Mengacu pada timbulan sampah per pasien di China (kapasitas pembuangan limbah medis meningkat hingga menjadi 6.067 ton/hari), menggunakan skenario intervensi mencapai 8.580 ton/hari belum termasuk status ODP yang berada di rumah. Timbulan yang dikonversi ke jumlah pasien, rata-rata untuk pasien terinfeksi menyumbang sebanyak 14.3 kg/hari.

Pengelolaan Air Limbah Spesifik Covid19 dari Fasyankes

Air limbah spesifik covid19 yang berasal dari Fasyankes merupakan semua air buangan termasuk tinja yang berasal dari kegiatan penanganan pasien Covid-19 (kemungkinan mengandung mikroorganisme khususnya virus Corona), bahan kimia beracun, darah dan cairan tubuh lain, serta cairan yang digunakan dalam kegiatan isolasi pasien meliputi cairan dari mulut dan/atau hidung atau air kumur pasien. Air cucian alat kerja, alat makan dan minum pasien dan/atau cucian linen, juga termasuk dalam limbah infeksius yang berbahaya bagi kesehatan.


Unit proses pada instalasi pengolahan air limbah (IPAL) sekurang-kurangnya terdiri dari proses sedimentasi awal, proses biologis (aerob dan/atau anaerob), sedimentasi akhir, penanganan lumpur . Pada pengolahan air limbah sekarang diberikan unit desinfeksi pada effluent air limbah yang sudah diolah desinfeksi dengan klorinasi (dosis disesuaikan agar mencapai sisa klor 0,5 ppm). Nah, pengukuran unit proses desinfeksi air limbah dengan kandungan sisa klor pada kisaran 0,5 ppm sekurang-kurangnya sekali dalam sehari

Harus dipastikan semua parameter kualitas air limbah hasil pengolahan memenuhi baku mutu air limbah domestik, meliputi parameter derajat keasaman (pH), Biochemical Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), Total Suspended Solid (TSS), Minyak dan lemak, amoniak, total coliform dan debit yang dilakukan sekurang-kurangnya setiap 1 minggu sekali.

Pengelolaan Limbah Domestik Padat Spesifik Covid19 dari Fasyankes

Limbah padat khusus diklasifikasikan sebagai masker sekali pakai, sarung tangan bekas, tisu/kain yang terkontaminasi (mengandung cairan/droplet dari hidung dan mulut). Untuk pengumpulan limbah domestik padat, disediakan wadah di lokasi yang mudah dijangkau orang, yaitu untuk limbah padat organik, non organik dan limbah padat khusus.


Untuk limbah padat organik dan non organik disimpan di Tempat Penyimpanan Sementara (TPS) sampah/limbah domestik paling lama 1x24 jam untuk kemudian dibawa oleh Dinas Kebersihan. Sementara itu, limbah padat khusus di simpan di TPS sampah/limbah B3 dengan perlakukan seperti limbah B3 infeksius.

Pengelolaan Limbah B3 Padat Spesifik Covid19 dari Fasyankes

Limbah B3 padat khusus termasuk masker bekas, sarung tangan bekas, perban bekas, tisu bekas, plastik  bekas minuman dan makanan, kertas bekas makanan dan minuman, alat suntik bekas, set infus bekas, dan alat pelindung diri (APD) bekas. Dilakukan disinfeksi menggunakan Klorin 0.5%, Lysol, karbol dll,  setelah selesai menggunakan wadah/bin. Selain itu, sampah/limbah B3 medis yang telah diikat juga dilakukan desinfeksi menggunakan desinfektan klorin 5% sebelum diangkut ke pengolah. Pengangkutan dilakukan menggunakan alat transportasi khusus limbah dan petugas juga harus menggunakan APD.

Limbah infeksius dari Fasyankes paling lama disimpan selama 2 hari. Pemusnahan dilakukan dengan menggunakan insenerator suhu pembakaran min 800o C atau menggunakan autoclave dengan shredder. Residu dimasukkan dalam TPS B3 untuk kemudian diserahkan ke Pengelola Limbah B3. Berdasarkan data yang ada, data limbah infeksius yang diolah insinerator terus mengalami peningkatan mencapai 4500 kg pada bulan Maret 2020 untuk limbah APD dan limbah Medis. Belum lagi hasil pembakaran yang dihasilkan oleh proses insinerasi berupa residu abu mencapai 585 kg pada bulan Maret 2020. Data residu limbah infeksius sendiri harus ditangani dengan prosedur penanganan limbah B3. Bisa dibayangkan masih sebanyak itu abu yang dihasilkan dan harus diperlakukan khusus sesuai dengan prosedur B3.



Saya sepakat dengan penuturan dari Ibu Yuyun Ismawati dari Nexus3 Foundation bahwasanya incinerator yang ada di RS-RS saat ini sebagian besar tidak memenuhi syarat dalam pembakarannya. Hal ini dikarenakan incinerator yang berfungsi dengan “benar” beroperasi pada suhu 850oC di ruangan pertama dan lebih dari 1200oC di ruangan kedua. Sedangkan faktanya sebagian fasilitas pengolah limbah B3 adalah tungku bekar, bukanlah incinerator. Hal lainnya yang perlu dipertimbangkan adalah residu yang dihasilkan, asap yang mengandung banyak kandungan kimia beracun.  Belum lagi residunya yang juga bersifat toxic. Perlu dilakukan pengecekan terhadap lingkungan sekitar mengenai paparan dari pembakaran dengan “tungku bakar”. Jangan sampai berusaha meminimalisir bahaya namun justru membuat bahaya yang lebih besar dengan merusak lingkungan secara tidak sadar.

Bagaimana dengan limbah Infeksius dari ODP di Rumah Tangga?

Seperti yang kita tahu ODP atau orang dalam pemantauan, adalah seseorang yang memiliki gejala panas badan atau gangguan saluran pernapasan ringan, dan pernah menggunjungi atau tinggal di daerah yang diketahui merupakan daerah penularan virus covid19. Berdasarkan surat edaran Menteri LHK Np.2/PSLB3/3/2020 mengenai Pengelolaan Limbah Infeksius (B3) dan SRT dari penanganan Covid19, limbah infeksius dari ODP di rumah tangga seperti masker, sarung tangan dan baju pelindung diri dikumpulkan dalam wadah tertutup bertuliskan limbah infeksius. Setelah itu mengangkut pada pengolahan limbah B3. Selanjutnya petugas dinas LH mengambil dari sumber dan mengangkut ke lokasi pengumpulan sebelum ke pengolah limbah B3.


Namun faktanya saya sebagai mantan ODP Maret lalu (kebetulan pulang dari Korea Selatan saat case covid2019 disana tertinggi nomor dua di dunia dan setelah hari ke 10 karantina mandiri saya terkena demam  + flu akibat minum es dan kecapekan lembur. Tenang, Alhamdulillah hasilnya negative setelah pemeriksaan di rumah sakit rujukan covid19 di Madiun. Sampai sekarang juga Alhamdulillah sehat 😊), anjuran mengenai pengumpulan dan pengelolaan limbah tidak disampaikan baik dari pihak rumah sakit ataupun pihak puskesmas yang sempat visit dan pendataan ke rumah. Kalau saya sendiri selama karantina mandiri mengisolasi diri di lantai 2, terpisah dengan ayah dan ibu yang ada di lantai 1. Benar-benar pakai masker kalau ada keperluan turun ke bawah. Sementara untuk sampah saya pisahkan di kantong plastik sendiri. Antisipasi saja meskipun sudah negative takutnya sebagai carrier virus covid19 nya. Huhuhu.

Nah, bagaimana dengan sampah RT dan sampah sejenis RT?

Menurut peraturan, masker sekali pakai dari orang sehat, sebelumnya dirobek/dipotong/digunting dan dikemas rapi sebelum dibuang ke tempat sampah untuk mencegah penyalahgunaan dari orang-orang tidak bertanggung jawab. Pemerintah daerah setempat juga menyediakan tempat sampah/drop box khusus masker di ruang publik. Mengenai drop box khusus masker ini yang saya belum pernah ketemu,eh apa juga karena saya tidak pernah keluar ya. Rasanya begitu, semoga memang sudah ada drop box di tempat umum sehingga bisa dieksekusi sesuai peraturan yang berlaku.

Untuk antisipasi penyebaran covid19, sampah yang telah dimasukkan dalam kantong sampah diikat rapat lalu dilakukan desinfeksi. Hal ini untuk meminimalisir resiko penularan pada para pahlawan kebersihan mulai dari proses pengangkutan, penyimpanan ataupun pengolahan sampah. Mereka ini yang sering terlupakan, padahal jasanya jelaslah sangat besar dengan pekerjaan yang begitu penuh resiko. Terimakasih banyak saya sampaikan beserta salam hormat dan salam sehat untuk para pahlawan kebersihan dalam bidang pengelolaan limbah, baik limbah padat ataupun cair. Sukses sehat selalu! 


Banyak sekali tantangan dalam implementasi dan rencana pengelolaan limbah medis yang sudah diterapkan dalam peraturan. Situasi sulit seperti sekarang ini menuntut kerjasama dari semua pihak, meskipun tidak dipungkiri juga memerlukan kesiapan dalam jumlah keseterdiaan sarana dan prasarana. Selain itu, perlu pertimbangan yang matang dalam melakukan seleksi teknologi untuk pengolahan limbah infeksius covid19 baik yang berasal dari rumah sakit ataupun dari rumah tangga. Mulai dari jumlah sampah yang bisa diolah, biaya, jenis sampah dan juga operasi serta maintenance dari teknologi tersebut. Jangan sampa asal pilih teknologi yang berakhir tidak efektif atau justru terlalu berlebihan dan memberikan dampak yang buruk ke lingkungan sekitar.


Last but not least, berikut ini adalah skema adaptasi pengelolaan sampah kota dan covid19 yang disampaikan oleh Bu Yuyun dari Nexus3 foundation mulai dari pengumpulan, penyimpanan dan pengelolaan sampah. Masuk juga di dalamnya mengenai skenario daur ulang sampah sampah organik. Semoga dalam masa pandemi covid19 seperti sekarang ini bisa lebih bijak lagi dalam menghasilkan sampah setiap harinya. Minimalisir produksi sampah dengan menggunakan barang-barang tidak sekali pakai. 

Yuk, saling bersinergi #bersatulawancovid19. Sekian, semoga bermanfaat. Sehat sehat selalu happy readers ~


Monday, May 11, 2020

Mencari Asuransi Kesehatan Terbaik? Yuk, Simak Ciri-cirinya

Asuransi kesehatan di zaman sekarang menjadi salah satu kebutuhan wajib yang harus dimiliki. Apalagi dalam kondisi pandemic covid 19 seperti sekarang ini, kesehatan harus menjadi prioritas utama yang diperhatikan. Asuransi kesehatan ini berguna sebagai proteksi dini jika di kemudian hari jatuh sakit dan memerlukan biaya untuk berobat atau perawatan.

Bagaimana cara memilih asuransi kesehatan terbaik?

Tenang, mudah banget kok caranya. Apalagi sekarang ini banyak sekali perusahaan asuransi yang menawarkan produknya dengan berbagai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Nah agar bisa mendapatkan manfaat yang maksimal, tentunya kita harus jeli dalam memilih produk asuransi kesehatan terbaik.  Untuk mendapatkan asuransi kesehatan terbaik, ketelitian menjadi salah satu kunci yang perlu diperhatikan. Kita tidak boleh gegabah dan asal pilih dalam membeli asuransi kesehatan karena beberapa produk ada yang ditawarkan dengan manfaat yang berbeda-beda.

Berikut beberapa ciri-ciri asuransi kesehatan dikatakan baik dan layak untuk dibeli, yuk-yuk simak penjelasan di bawah ini ~

1. Menerapkan sistem pembayaran cashless

Hal yang perlu diperhatikan pertama kali ketika membeli asuransi kesehatan adalah mengenai manfaat sistem pembayarannya. Secara umum, manfaat dari asuransi kesehatan dibagi menjadi dua jenis, yaitu asuransi kesehatan reimburse dan asuransi kesehatan cashless. Sebaiknya kita memilih asuransi kesehatan cashless. Alasannya untuk jenis ini kita akan lebih dimudahkan dalam urusan pembayaran, Dalam asuransi kesehatan cashless, kita tidak perlu membayar seluruh biaya kesehatan terlebih dahulu agar bisa berobat atau mendpatkan perawatan kesehatan. Biaya berobat atau perawatan rumah sakit akan dibayarkan oleh perusahaan asuransi dengan nasabah cukup menunjukkan kartu asuransi tanpa harus membayar uang muka lagi.

2. Memiliki jaringan rumah sakit yang luas

Masih menyambung poin sebelumnya, sistem pembayaran tunai hanya berlaku jika digunakan untuk berobat atau perawatan di rumah sakit yang sudah menjadi rekanan perusahaan asuransi pilihan. Oleh karena itu, agar lebih mudah dan nyaman berobat dimanapun lewat sistem pembayaran cashless, sebaiknya kita memilih produk asuransi kesehatan dengan jaringan rumah sakit yang luas. Sebaliknya, jika produk asuransi yang dibeli tidak bekerjasama dengan rumah sakit yang telah kita pilih sebaiknya membeli asuransi kesehatan dengan sistem pembayaran reimbursement, yang mana mewajibkan kita untuk membayar terlebih dahulu seluruh biaya perawatan.


3. Tidak memiliki limit untuk setiap perawatan.

Terdapat batas limit atau batas jumlah maksimum klaim biaya perawatan pada asuransi kesehatan. Perusahaan asuransi biasanya menerapkan dua jenis limit, yaitu limit gabungan semua perawatan dan limit per perawatan. Salah satu ciri asuransi kesehatan yang baik adalah menerapkan limit gabungan semua perawatan, dimana biaya setiap perawatan tidak ada limit. Hal ini tentu akan memudahkan nasabah dalam berobat selama limit total masih tersedia.

4. Menyesuaikan dengan plafond dan premi

Dalam mendapatkan asuransi kesehatan yang terbaik, penting untuk menyesuaikan kondisi keuangan dengan plafond dan premi asuransi. Hal penting yang perlu diketahui, semakin mahal harga kamar rumah sakit, maka semakin mahal juga harga plafond dan premi asuransi yang harus dibayarkan oleh nasabah.

5. Memprioritaskan rawat inap

Sebaiknya kita fokus memilih asuransi kesehatan yang bisa menanggung biaya rawat inap karena biasanya pengeluaran jenis ini cenderung lebih besar ketika dirawat di rumah sakit. Perusahaan asuransi yang baik biasanya memiliki dua manfaat pada produk asuransi kesehatannya, yaitu manfaat rawat inap dan rawat jalan. Nah hal ini bisa kita temukan pada asuransi Astra lewat Astra Life yang menawarkan manfaat dasar, seperti rawat inap, rawat jalan, dan pembedahan. Selain itu, kita juga bisa mendapatkan manfaat tambahan, seperti maternity, perawatan gigi, dan perawatan mata. Sehingga produk dari asuransi Astra bisa menjadi pertimbangan bagi kita yang sedang mencari produk asuransi kesehatan terbaik dari ilovelife.co.id bagi diri sendiri maupun keluarga.

Nah, sekarang sudah tahu kan ciri-ciri asuransi kesehatan terbaik. Mengingat pentingnya asuransi kesehatan untuk diri sendiri dan orang-orang tersayang tentunya harus pilih yang terbaik ya. Masa iya buat yang tersayang mau asal pilih? 


Sehat- sehat semuanya, stay away from covid19 yes, this too shall pass soon ~ 

COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES