Monday, June 30, 2014

Melepas rindu sejenak

Malam ini entahlah kenapa mata belum juga terpejam. Masih setia memandang lekat layar laptop. Meskipun tengkuk rasanya sudah pegal-pegal karena seharian berkutat dengan desain dan teman-temannya. Entahlah, kalau sudah suka memang sering keterusan. Biarlah melepas rindu, berceloteh beberapa baris dan menebar suka cita ramadhan. 

Bersyukur, wajibnya memang gitu. Nikmat yang sungguh besar bisa berkumpul bersama saat-saat ramadhan seperti ini. Menikmati sahur bersama, ngabuburit bersama, tarawih bersama, dan jelas semuanya serba bersama. Kebersamaan yang selalu kurindukan saat ditanah perantauan. Hari ini hari puasa kedua ^^ Alhamdulilah diberikan kelancaran dalam menjalankan puasa. Semoga ibadah puasa yang dilakukan diterima oleh Allah SWT. Aamiin ya rabbal alamin. . 

Semoga hari-hari berikutnya juga diberikan kelancaran, tetap istiqomah menebar kebaikan. 4 hari lagi cukup untuk melepas rindu, selanjutnya Kota perjuangan telah menanti. Semester 5 ini, semoga bisa lebih totalitas dalam memberikan kontribusi. Selamat meningkatkan indeks prestasi, selamat kembali mengukir prestasi dan selamat menjajaki dunia. Ganbatte!

Tuesday, June 24, 2014

Writing is cool, as always

Sore ini, Caruban begitu memesona. Semilir angin menerobos angan, menabrak dinding-dinding kekecewaan. Menaburkan bahagia dan asa yang kian sempurna terajut. Syukurku haruslah selalu lebih, terlepas dari sakit sejak Sabtu lalu. Gastritis ternyata rindu pada sang empunya tubuh, rindu menggeliat dalam lambung yang mungkin sudah kemerah-merahan sama seperti beberapa tahun silam. Masih ingat benar bagaimana kamera endoskopi menjelajahi organ dalam. Mirisnya (juga) masih terasa sampai sekarang. 

Memang begini kondisinya, ketika semua capek dan lelah terakumulasi menjadi satu. Purifikasi dari dalam diri menjadi sangat susah walau sudah dibantu dengan obat-obatan herbal. Alhasil, obat-obat kimia dari dokter jadi terpaksa diminum. Satu yang tak kusuka dari obat kimia adalah efek kantuk setelah meminumnya membuatku mau tak mau untuk mendapat porsi tidur lebih banyak dari biasanya. Tapi tak apalah, mungkin Allah sengaja memberikan bonus ini padaku #wiselythougt. Cukup tentang sakitku akhir-akhir ini, doakan flu dan batuk yang tersisa juga segera sirna. Aamiin ^^

Ada hal lain yang ingin ku bagi. Ini tentang bagaimana harusnya menyukai seorang pria. Terkadang sebagai seorang wanita memiliki rasa suka pada pria menjadi serba salah. Satu hal, susah dan merasa ganjil untuk mengutarakan terlebih dahulu. Satu hal lainnya, jika tak cukup nyali untuk mengutarakan harus sangat sabar menunggu hingga waktu berbaik hati membukakan fakta bahwa sang pria ternyata tak pernah ada secuilpun perasaan. Yah, begitulah kiranya. Dalam kasus lain, rasa suka lainnya yang sudah berlabuh pada tempatnya. Berjalan harmonis di awal-awal pertama, diterjang badai kecil di tahun ketiga, dan sampai akhirnya tsunami datang menghancurkan segalanya termasuk kepercayaan dan ikrar kesetiaan. Entahlah, aku jadi tak begitu paham dengan semua urusan mengenai perasaan. Masih terlalu trauma untuk mengenang segala hal tentang suka cita dengan apa yang disebut cinta. Vakum dulu sepertinya, biarkan lebih tenang. Masih bergejolak setiap mengingat masa lalu. Bahkan sampai sekarang, yang bermasalah belum tau bahwa kejelekkannya sudah terbongkar seluruhnya. Entahlah, bagaimana nasib project yang sedang goal menuju babak akhir. Masih susah, sangat susah bahkan mengendalikan. 

Sekian cerita sore ini. Terima kasih sudah cukup meringankan beban di otak. Selalu, menulis adalah salah satu hal paling ampuh meredam amarah, membagi kesedihan dan menambah kebahagian. Sampai jumpa, malam ini aku ada jadwal nge-date dengan langit. Kamu, jangan cemburu ya :p

Friday, June 20, 2014

Terima kasih, akhirnya sadar

Hai malam. Bahagiaku hari ini bersama kelapangan hati yang kian membentang. Awalnya susah memang, namun apa daya menolak semua yang telah terjadi. Terus membujuk hati kecil dengan semua tawa yang masih ditawarkan semesta. Semuanya akan baik-baik saja, udara masih bisa dengan bebas dihembuskan. Kamu masih bisa bebas melihat banyak fakta bahwa kamu jauh lebih beruntung daripada yang lain.

Hari ini banyak menghela nafas panjang. Banyak terdiam bahkan tak jarang juga sekuat tenaga membentangkan kelapangan hati. Berharap bisa seluas-luasnya mensyukuri yang ada. Menghilangkan ego untuk selalu memandang ke atas tanpa pernah mau melihat kebawah. Ah Tuhan, mungkin ini teguranmu aku terlalu mengentengkan segala sesuatu. Tak apa Lucy, saatnya berubah. Hanya perlu terus memperbaiki diri.


Banyak kejutan hari ini. Kejutan untuk terus introspeksi diri. Kejutan yang membuka banyak pandangan. Berkaca pada pengalaman. Mengusahakannya agar tidak terulang lagi.Demikian penutup untuk malam ini, sampaikan rinduku pada Caruban. Aku begitu merindunya :’)

Cukup, Aku lelah

Selamat hujan tengah malam. Selamat menatap lorong harapan lebih dalam. Lebih lama merajuk agar hati kecil tak lagi mengutuki diri sendiri. Mengurung paksa rasa yang semakin tumbuh. Ya, mengubur dalam-dalam. Entahlah, aku tak pernah berpikir dua kali bagaimana bisa kudapatkan kembar baiknya ayahku. Hanya ingin seperti beliau. Begitu sempurna dalam kesederhanaan, tanpa ada keluhan ataupun cercaan. Mulianya tutur kata, tulusnya kasih sayang yang selalu diberikan. Ini yang membuatku begitu menghormatinya, selalu memegang teguh prinsip kejujuran dan kerja keras untuk mencapai bahagia dunia akhirat. Ah hujan, aku begitu merindukannya.

Selalu, masih sering keluhanku bermuara setiap dering telpon menyapa. Menyambung cerita antar kota. Merangkai mozaik harapan yang aku bahkan tak pernah tau bisa sempurna menjadi satu cerita. Lagi-lagi ini tentang rasa. Separuh rasa tersisa yang harus kupikirkan betul akan berlabuh dimana. Untuk pria spesial masa depan yang belum kutahu namanya. Jujur, trauma masih sering mendera. Mengingat yang pernah menjadi kesayangan ternyata melabuhkan hatinya ke dermaga berikutnya. Cukup, tak banyak waktu untuk mengingat atau merangkai rasa yang terlanjur membusuk. Sungguh, Allah punya rencana lebih indah di masa depan. Kamu hanya cukup percaya dan terus berusaha. Cukup untuk malam ini, aku lelah. 

Sunday, June 15, 2014

Hanya perlu percaya

Selamat tengah malam. Semangat menyusun bongkahan semangat. Malam ini, entahlah semuanya semu. Violet yang semakin pudar. Bahkan sudah kububuhi penguat warna tapi entahlah tetap saja. Aku rindu rumahku. Rindu bercengkerama bersama mentari pagi, rindu menatap lekat langit malam, rindu semuanya. Aku rindu, rindu semua yang disana. Meski sekarang kudapat banyak saudara disini , namun entahlah raguku kembali berpulang. Menerkam keyakinan yang mulai belajar merangkak. Mungkin aku hanya perlu satu hal, percaya dan terus berpikir positif semuanya baik-baik saja. Hanya perlu meyakinkan hati kecil, semuanya baik-baik saja entah akan menyenangkan atau meyakitkan. Cukup lucy, cukup. Semakin dipikirkan, keraguan akan semakin subur menjalar dahan-dahan keyakinan yang kian menua. Kamu hanya perlu tau dan percaya Tuhan tak pernah tidur. Sang Maha Baik selalu bersama orang-orang baik. Tak peduli orang lain berpikir jelek tentangmu, kamu hanya perlu untuk terus melakukan terbaik. Kamu bisa dan harus bisa!

Selamat pagi dari wisma Yasmine. Selamat pagi dari Natalie, seorang gadis cantik yang terus tersenyum melihat bahagia merekah meski tengah malam mereka terus mendendangkan lagu. Maaf putri, maafkan mereka. Mereka hanya terlalu terlarut dalam rasa yang biasa disebut bahagia. 

Tuesday, June 3, 2014

Untitled

Selamat pagi asa, yang masih tercecer bersama raga yang kian rapuh. Aku lelah, ingin sejenak beristirahat. Berkumpul dengan bintang penyemangat, mutiara terbaik dengan kasih dan sayangnya yang tulus menyelimuti lubuk hati. Merindu kampung halaman lebih cepat dari detik waktu yang baru saja menjejakkan tubuhnya. Ah Tuhan, jika Kau ijinkan detik waktu ini melambat dari biasanya. Sungguh aku ingin menembus lorong ruang dan waktu menuju kampungku. Kampung yang selalu membuatku merindu. 

Ragaku (pun) kian rapuh.. Dan juga asaku untuk melabuhkan apa yang sering disebut cinta pada seorang pria. Entahlah, sekarang ini percayaku sampai pada batas kritis dengan apa yang sering dieluh-eluhkan para pasangan muda. Kesetiaan, kasih sayang atau apalah itu namanya. Namun, tak bisa mengelak, tak selamanya hidup itu mudah dan penuh bahagia. Terkadang bumbu-bumbu kesedihan dan sakit hati membuatmu sadar bahwa kamu masih hidup. Rentetan peristiwa yang yah , aku bosan menceritakannya. Tapi biarlah, aku berceloteh sebentar. Agar setidaknya, aku lega. 

Berawal dari terbongkarnya sebuah rahasia besar. Yang tak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa ini benar-benar nyata dan seseorang yang dulunya istimewa sebagai lakon utamanya. Ah Tuhan, sungguh fakta itu menggugurkan semua harapan yang jujur ku rangkai diam-diam. Impian pergi bersama menjelajah dunia, melanjutkan jejak-jejak bersama atau bahkan berikrar untuk hidup bersama.Lenyap. Seperti tanpa bekas, tanpa harapan dan asa yang sudah terkadung lemas mendengar fakta yang ada. Aku sebenarnya masih bisa terima, jika dia melabuhkan cintanya untuk wanita lain, masih bisa berdalih bahwa jodoh pasti bertemu dengan segala aral dan rintangan yang menerpa. Tapi ini berbeda, aku sudah terlalu muak. Bagaimana bisa kau mencinta mukhrimmu. Sebegitu hilangkah seleramu dengan sosok yang disebut wanita? Hanya kamu yang tau alasannya, aku bosan dengan segala urusanmu yang sepenuhnya tak penting dan sengaja kuhiraukan. Selalu ucapan selamat tinggal dan sebaris doa untukmu, semoga kamu bahagia dan segera dapatkan wanitamu, agar aku lega dan lebih bahagia :') 

Kedua, ini cerita berbeda. Selalu asa dan rasa yang salah berlabuh. Akhirnya kembali dan pulang terseok-seok menuju tuannya. Aku terlalu cepat menarik kesimpulan, membuat spekulasi sendiri, mengkait-kaitkan semua yang terjadi untuk melambungkan bahagia. Kenyataannya tidak seperti itu, salah besar dan aku hanya bisa meringkuk bersama serpihan kecewa. Mengutuki diri sendiri, mematut diri lebih lama agar tak terlalu tinggi melepas angan-angan. You should know who you are ! Seorang teman bilang, terlalu pesimis. Dengan alasan dia terlalu baik dan aku tidak ada apa-apanya. Wanita dengan alasan yang terlalu klasik. Nyatanya seperti itu, dia sepenuhnya benar. Aku berada pada titik akhir bersama segenggam harapan yang hanya tinggal kurang dari seperempat bahkan.

Jujur, untuk kali ini aku lepas tangan. Mengaguminya diam-diam seperti perlahan terbongkar. Dan aku tak ingin itu terbongkar. Baiknya aku diam saja, jaga jarak sejauh mungkin, tetap bersikap normal. Ah Tuhan, bagaimana bisa semalam seperti itu -_- Sungguh sampai sekarang aku tak sedetikpun berhenti memikirkan tragedi itu, Aku yang salah, aku yang harusnya segera berubah. Sebelum terlanjur basah, wajarnya aku berdoa agar hujan segera reda. Dan aku bisa berhenti mengutuki diri sendiri. Satu hal, syukur ku untuk kejadian semalam. Aku jatuh tidak terlalu sakit, karena asa dan rasaku masih berada pada ketinggian sewajarnya. Masih sebatas gede rasa dan rasa percaya diri yang berlebih.Mungkin hanya bisa mengaguminya dalam diam. Bentuk cinta paling minimalis. Cinta bukan berarti harus bersama bukan ? 

Untuk seseorang yang tak bisa kusebutkan namanya, kamu lebih beraura sekarang. Negatifmu sudah banyak berkurang. Aku bahagia, semoga kamu selalu sukses dengan pilihanmu. Maaf jika setelah ini, kita tidak bisa saling bertukar cerita karena aku terlalu takut kekagumanku berlebih. Selamat pagi dari asa yang mulai terajut, semoga selalu sukses :')
COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES