Monday, August 8, 2016

Biomonitoring Lingkungan Sungai Kalibokor Surabaya


Biomonitoring lingkungan menjadi satu hal yang diperlukan dan wajib dilakukan untuk mengetahui kondisi lingkungan yang ada. Selain itu, biomonitoring menjadi pedoman untuk menganalisis kerusakan lingkungan yang terjadi sehingga bisa dilakukan penangangan secara tepat pada kerusakan atau pencemaran yang terjadi. Mengingat saat ini lingkungan berada pada kondisi yang memprihatinkan dengan jumlah penduduk yang semakin tidak terkendali tanpa dibarengi upaya penyelamatan lingkungan yang berarti. 

Beberapa bulan yang lalu saya bersama teman-teman berkesempatan untuk melakukan biomonitoring terhadap sungai Kalibokor, Surabaya. Biomonitoring ini dilakukan dengan menganalisis parameter fisik, kimia dan biologis. Parameter fisik yang diteliti yaitu pH dan suhu. Sementara parameter kimia yaitu BOD5 dan parameter biologi dengan bioassessment makroinvertebrata. Lokasi pengambilan sampel yaitu di sungai Kalibokor Surabaya. Terdapat 4 titik pengambilan sampel dengan jarak masing-masing titik 10 meter. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode grab sampling.

Lokasi Pengambilan Sample
4 Titik Pengambilan Sampling
Hasil Biomonitoring Parameter Fisik
Berdasarkan pengukuran pH dan suhu pada ke empat titik sampling didapatkan hasil sebagai berikut: 


Hasil Pengukuran pH
Hasil Pengukuran Suhu
Pengukuran pH pada ke empat titik sampling berada pada rentang pH 8-9. Pada titik sampling 2 terjadi peningkatan nilai pH dikarenakan pada titik tersebut terdapat efluent dari penjual bakso yang langsung dibuang ke sungai. Untuk suhu masing-masing titik sampling masih termasuk dalam suhu normal. 

Hasil Biomonitoring Parameter Kimia
Hasil Pengukuran Konsentrasi BOD5
Konsentrasi BOD5 pada ke empat titik sampling berada pada rentang 14-26 mg BOD/L. Kondisi ini melebihi baku mutu lingkungan untuk parameter BOD sungai kelas IV yaitu 12 mg/L sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.82/2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.

Hasil Biomonitoring Parameter Biologi
Untuk penentuan kualitas air sungai secara biologis dilakukan bioassessment. Bioassessment yaitu metode evaluasi terhadap kondisi badan air menggunakan survei secara biologis dan pengukuran langsung terhadap organisme yang hidup di biota air permukaan. Kelebihan dari evaluasi dengan menggunakan parameter biologis ini adalah:

a. Komunitas biologis mencerminkan keseluruhan integritas ekologi (yaitu kimia, fisik, dan biologis).
b. Komunitas biologis mengintegrasikan efek stres yang berbeda.
c. Komunitas biologis mengintegrasikan tekanan lingkungan dari waktu ke waktu.
d. Pemantauan rutin terhadap komunitas biologis dapat relative lebih murah.
e. Apabila kriteria dampak lingkungan yang spesifik tidak ada komunitas biologis dapat menjadi satu-satunya cara praktis untuk evaluasi.

Namun, evaluasi dengan indikator parameter biologis ini memiliki kekurangan  seperti tidak dapat diketahui secara spesifik polutan yang mempengaruhi kualitas lingkungan serta terdapat faktor lain yang mempengaruhi kehidupan komunitas biologis (seperti cuaca, makanan, dan pemangsa) dapat membuat hasil analisis menjadi tidak akurat.

Pada bioassessment ini, bioindikator yang digunakan adalah makroinvertebrata dengan dasar bahwa makroinvertebrata sangat peka terhadap perubahan kualitas air tempat hidupnya,  ditemukan hampir di semua perairan, jenisnya cukup banyak dan memberikan respon yang berbeda terhadap gengguan,pergerakannya terbatas, tubuhnya dapat  mengakumulasi racun serta mudah dikumpulkan dan diidentifikasi.  Makroinvertebrata yang teridentifikasi pada bioassessment ini sebagai berikut:

 
 
Hasil Identifikasi Makroinvertebrata (Dok.Pribadi)

Metode yang digunakan dalam penelitian ini untuk menentukan kualitas air berdasarkan makroinvertebrata, yaitu Trent Biotic Index, Belgian Biotic Indexdan Biological Monitoring Working Party (BMWP ASPT). Metode BBI, EBI, dan BMWP ASPT memiliki prinsipperhitungan skor indeks biotik yang berbeda. BBI dan EBImenggunakan prinsip intepretasi makroinvertebrata yangpaling sensitif, sedangkan metode BMWP menggunakanprinsip skor rata-rata dari indeks biotik setiap family makroinvertebrata yang teridentifikasi (tidak hanya yangpeling sensitif).Hasil perhitungan ketiga metode tersebutdapat dilihat lebih jelas seperti berikut:

Trent Biotic Index (TBI)
Trent Biotic Index (BBI) merupakan suatu metode analisis yang dilakukan untuk mengukur kualitas air dengan menggunakan indeks biotik dari kelompok organisme yang digunakan, seperti makroinvertebrata, serta jenis kelompok organisme indikator dalam suatu badan air atau sampel yang diteliti.

Pada metode TBI ini, makroinvertebrata yang teridentifikasi memiliki skor masing – masing kemudian dijumlahkan dengan skor jenis makroinvertebrata lainnya.Setelah didapatkan akumulasi skor dirata-rata dan didapatkan hasil yang selanjutkan dibandingkan dengan skor TBI yang ada.Skor dari masing – masing makroinvertebrata seperti berikut: 
Skor TBI (Dok. Pribadi)
Selanjutnya dilakukan perhitungan skor TBI yang dipengaruhi oleh jumlah makroinvertebrata dan jenis makroinvertebrata yang teridentifikasi.Semakin tinggi skor TBI, maka kualitas badan air semakin baik (Bersih) sementara semakin rendah skor BBI maka kualitas badan air semakin buruk (kotor). Skor penilaian TBI beserta kategorinya terdapat pada table berikut:
SKOR TBI
KATEGORI
0
Luar Biasa Kotor
1 – 2.9
Sangat Kotor
3 – 4.9
Kotor
5 – 5.9
Sedang
6 – 7.9
Agak Bersih
8 - 10
Sangat Bersih
Identifikasi dari makroinvertebrata yang ditemukan pada masing-masing titik sampling dengan metode TBI sebagai berikut:
Pada setiap titik yang diidentifikasi mendapatkan skor dengan kategori kualitas air sedang dan kotor, sehingga dilakukan perhitungan rata – rata untuk menentukan kualitas air kali Bokor, seperti berikut
 Skor total        = Skor titik 1 + skor titik 2 + skor titik 3 + skor titik 4
                                                 Jumlah titik
                        =  3 + 5,5 + 4 + 5
                                          4
                        = 5,6 (SEDANG)

Dari identifikasi yang dilakukan dengan metode TBI didapatkan total skor 5,6 sehingga sungai Kali Bokor termasuk dalam kualitas badan air kategori Sedang.

Belgian Biotic Index (BBI)
Belgian Biotic Index (BBI) merupakan suatu metode analisis yang dilakukan untuk mengukur kualitas air dengan menggunakan indeks biotik berdasarkan tigkat kepekaan (toleransi) kelompok organisme yang digunakan, seperti makroinvertebrata, serta jumlah kelompok organisme indikator dalam suatu badan air atau sampel yang diteliti. 

Pada metode BBI ini identifikasi berdasarkan famili dari makroinvertebrata yang ditemukan.Famili makroinvertebrata yang teridentifikasi memiliki nilai toleransi atau kepekaan masing – masing. Nilai toleransi makroinvertebrata menunjukan kepekaan terhadap kondisi lingkungan atau badan air disekitarnya.Semakin tinggi nilai toleransi, maka makroinvertebrata tersebut semakin tahan terhadap perubahan kondisi lingkungan sekitar.Sementara itu, semakin rendah nilai toleransi maka semakin peka makroinvertabrata terhadap perubahan kondisi lingkungan yang terjadi.  Nilai toleransi famili makroinvertebrata seperti berikut: 

 

Selanjutnya dilakukan perhitungan skor BBI (Tolerance Value) yang dipengaruhi oleh jumlah makroinvertebrata dan nilai toleransi makroinvertebrata tersebut.Semakin tinggi skor BBI, maka kualitas badan air semakin buruk (Kotor) sementara semakin rendah skor BBI maka kualitas badan air semakin baik (bersih). Skor penilaian BBI beserta kategorinya terdapat pada table berikut:
SKOR BBI
KATEGORI
> 6
Bersih
6 – 7.5
Sedang
7.6 – 8.9
Kotor
≥ 9
 Sangat Kotor

Identifikasi dari makroinvertebrata yang ditemukan pada masing-masing titik sampling dengan metode BBI sebagai berikut:
Pada setiap titik yang diidentifikasi mendapatkan skor dengan kategori kualitas air sedang dan bersih, sehingga dilakukan perhitungan rata – rata untuk menentukan kualitas air kali Bokor, seperti berikut
 Skor total        = Skor titik 1 + skor titik 2 + skor titik 3 + skor titik 4
                                                 Jumlah titik
                        =  6 + 6,67 + 5,58 + 4,3
                                          4
                        = 5,64 (SEDANG)

Dari identifikasi yang dilakukan dengan metode BBI didapatkan total skor 5,64 sehingga sungai Kali Bokor termasuk dalam kualitas badan air kategori Sedang.

Biological Monitoring Working Party (BMWP)
Biological Monitoring Working Party (BMWP) merupakan suatu metode analisis untuk mengukur kualitas air menggunakan family dari makroinvertebrata atau indikator biologi. Skor indeks biotik (family makroinvertebrata) terdapat pada tabel berikut:
Famili
Skor
Siphlonuridae, Heptageniidae, Leptophlebiidae, Ephermerellidae,Potamanthidae, Ephemeridae, Taeniopterygidae, Leuctridae, Capniidae, Perlodidae, Perlidae, Choloroperlidae, Aphelocheiridae, Phryganeidae, Molannidae, Beraeidae, Odontoceridae, Leptoceridae, Goeridae, Lepidostomatidae, Brachycentridae,
Sericostomatidae
10
Pyralidae
9
Astacidae, Lestidae, Agriidae, Gomphidae, Cordulegasteridae, Aeshnidae, Corduliidae, Libellulidae, Psychomyiidae, Philopotamidae
8
Caenidae, Nemouridae, Rhyacophilidae, Polycentropodidae, Limnephilidae
7
Neritidae, Viviparidae, Ancylidae, Hydroptilidae, Unionidae, Corophiidae, Gammaridae, Platycnemididae, Coenagriidae
6
Mesoveliidae, Hydrometridae, Gerridae, Nepidae, Naucoridae,Notonectidae, Pleidae, Corixidae, Haliplidae, Hygrophilidae,Dytiscidae, Gyrinidae, Hydrophilidae, Clambidae, Helodidae, Dryopidae, Eliminthidae, Chrysomelidae, Curculionidae, Hydropsychidae, Tipulidae, Simuliidae, Planariidae,
Dendrocoelidae, Decapoda
5
Baetidae, Sialidae, Piscicolidae
4
Valvatidae, Hydrobiidae, Lymnaeidae, Physidae, Planorbidae,Sphaeriidae, Glossiphonidae, Hirudidae, Eropobdellidae, Asellidae
3
Chironomidae
2
Oligochaeta (semua kelas)
1

Semakin tinggi skor BMWP maka menandakan bahwa semakin bagus kualitas badan air tersebut karena family makroinvertebrata dengan skor tinggi hanya dapat hidup di air yang mempunyai kualitas air bagus.Sedangkan semakin rendah skor BMWP maka semakin buruk kualitas badan air tersebut karena family makroinvertebrata dengan skor rendah yang teridentifikasi dapat hidup di air dengan DO level kritis. Skor BMWP berserta kategorinya dapat dilihat pada table berikut: 

SKOR BMWP
KATEGORI
0 – 10
Sangat Kotor
11 – 40
Kotor
41 – 70
Sedang
71 – 100
Agak bersih
>100
Bersih

Identifikasi dari makroinvertebrata yang ditemukan pada masing-masing titik sampling dengan metode BMWP sebagai berikut:
Pada setiap titik yang diidentifikasi mendapatkan skor dengan kategori kualitas air Kotor, sehingga kualitas air kali Bokor :
Skor total         = Skor titik 1 + skor titik 2 + skor titik 3 + skor titik 4
                                                 Jumlah titik
                        =  23 + 13 + 28 + 19
                                          4
                        = 20,75 (KOTOR)

Dari identifikasi yang dilakukan dengan metode BMWP didapatkan total skor 20,75 sehingga sungai Kali Bokor termasuk dalam kualitas badan air kategori Kotor.

Kesimpulan dari ketiga metode yang digunakan, didapatkan hasil bahwa kualitas air Kali Bokor adalah kotor (Metode BMWP) dan Sedang ( MetodeTBI – BBI). Berdasarkan hasil analisis, diketahui bahwa hasil perhitungan dengan metode BBI merepresentasikan kualitas air lebih baik dari metode TBI dan BMWP karena kelengkapan famili yang ada pada metode tersebut. Selain itu, metode BBI telah memilikiintepretasi kualitas air berdasarkan indeks biotik, sedangkan metode lain hanya memiliki sistem scoring indeks biotik saja. Sehingga disimpulkan bahwa kualitas kali bokor untuk parameter biologi ada pada kategori Sedang dengan potensi Tercemar (Kotor).

Dari biomonitoring lingkungan yang dilakukan dengan berpedoman pada parameter fisik, kimia dan biologi dapat disimpulkan bahwa kualitas sungai Kalibokor  ada pada kategori Sedang dengan potensi Tercemar (Kotor) jika tidak dilakukan usaha perbaikan lingkungan seperti pembersihan sungai dari sampah ataupun pelarangan pembuangan limbah domestik ataupun limbah industri langsung ke sungai.

No comments:

Post a Comment

COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES