Minggu, 14 Agustus 2016

Bijak menggunakan energi, aksi nyata peduli bumi #iniaksiku

Listrik menjadi kebutuhan pokok yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-sehari. Seiring dengan pesatnya pembangunan di berbagai bidang, seperti teknologi, industri dan informasi membuat kebutuhan energi listrik semakin meningkat. Tidak hanya itu, peningkatan kebutuhan energi listrik juga terjadi akibat peningkatan jumlah penduduk dan tingkat konsumsi energi listrik yang terus meningkat. Sejak tahun 1992, kebutuhan energi listrik nasional meningkat mencapai 18% rata-rata per tahun. Hal ini disebabkan oleh tingginya pertumbuhan ekonomi nasional kaitannya dengan pertumbuhan industri dan jasa konstruksi.

Kondisi pelaksanaan penyediaan energi listrik, dalam hal ini PT. PLN (Persero) selaku lembaga resmi yang ditunjuk oleh pemerintah untuk mengelola perihal kelistrikan di Indonesia, saat ini belum dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan energi listrik secara keseluruhan. Penyediaan listrik di Indonesia saat ini hanya mampu menjangkau 73% dari masyarakat Indonesia. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor penghambat penyediaan energi listrik dalam skala nasional, diantaranya kondisi geografis negara Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau dan kepulauan, tersebar dan tidak meratanya pusat-pusat beban listrik, rendahnya tingkat permintaan listrik di beberapa wilayah serta terbatasnya kemampuan finansial.

Selain itu, faktor lainnya yang sangat penting dan perlu untuk diberikan perhatian khusus yaitu semakin berkurangnya ketersediaan sumber daya energi fosil, khususnya minyak bumi, yang sampai saat ini masih menjadi tulang punggung dan komponen utama penghasil energi listrik di Indonesia. Kebutuhan energi listrik yang kian meningkat dan kondisi sumber daya alam untuk pemenuhan energi yang makin terbatas menjadi tugas besar yang harus segera diselesaikan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengembangan implementasi penyediaan energi listrik dengan sumber energi alternatif terbarukan yang ramah lingkungan.

Potensi sumber daya energi terbarukan, seperti; matahari, angin dan air, ini secara prinsip memang dapat diperbarui, karena selalu tersedia di alam. Namun faktanya, potensi yang dapat dimanfaatkan adalah terbatas. Sumber daya alam ini tidak tersedia di setiap daerah pada setiap waktu. Keterbatasan-keterbatasan tersebut membuat nilai sumber daya energi sampal saat ini belum sepenuhnya mampu menggantikan kedudukan sumber daya energi fosil sebagai bahan baku produksi energi listrik. Oleh karena itu, energi terbarukan ini menjadi  sumber daya energi tambahan untuk memenuhi peningkatan kebutuhan energi listrik, serta mengurangi peranan sumber daya energi fosil.

Pembangunan sistem pembangkit energi listrik dengan memanfaatkan sumber daya energi terbarukan, terutama air, sudah banyak diimplementasikan di Indonesia. Pemanfaatan energi angin banyak diterapkan di daerah pantai, seperti di Jepara, pulau Lombok, Sulawesi dan Bali. Sementara energi matahari telah dimanfaatkan di beberapa wilayah di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan wlayah timur Indonesia.

Hal lain yang perlu diperhatikan yaitu jumlah penduduk berbanding lurus dengan kebutuhan atau konsumsi energi listrik. Pengendalian laju pertumbuhan penduduk akan memberikan dampak yang signifikan terhadap tingkat kebutuhan energi listrik. Pengendalian jumlah penduduk ini juga harus dibarengi dengan peningkatan kesadaran para penduduk dalam menggunakan listrik. Aksi nyata yang dapat dilakukan setiap individu dalam mengurangi kebutuhan enegri listrik adalah dengan bijak menggunakan listrik dalam kehidupan sehari-hari. Meminimisasi penggunaan listrik #iniaksipedulibumi dapat dilakukan melalui langkah sederhana berikut:
  1. Mematikan peralatan elektronik ketika sudah tidak digunakan lagi.
  2.  Mengatur panas setrika, mesin cuci, suhu lemari es/AC sesuai dengan kebutuhan, karena semakin dingin/panas maka semakin besar energi listrik yang dibutuhkan.
  3. Menghindari pengisian baterai laptop yang berlebihan. Listrik yang terus mengalir ke baterai laptop sementara laptop sudah penuh akan menjadi sia-sia dan terbuang percuma. Selain itu, baterai laptop juga akan cepat rusak. 
  4. Menggunakan pompa air saat air di dalam bak penampungan sudah hampir habis.
  5. Menggunakan lampu LED. Lampu LED 9,6 watt bisa menghasilkan cahaya setara dengan lampu neon 13,6 Watt. 
  6. Menggunakan TV LED. Listrik TV LED 32 inci hanya 55 watt sedangkan TV Tabung 32 inci membutuhkan lebih dari 100 Watt. 
  7. Memilih dispense timer digital. Menggunakan dispenser selama 24 jam dengan daya 300-500 Watt sangat menyedot energi listrik.
 
Use energy at home wisely! (Sumber Gambar)

Melakukan aksi-aksi penghematan energi dalam kehidupan sehari-hari diharapkan mampu mengurangi jumlah kebutuhan energi dan membantu mengatasi problematika krisis energi yang terjadi. Selain itu, aksi penghematan penggunaan energi listrik ini secara tidak langsung membantu meningkatkan kesejateraan Indonesia. Kenapa bisa begitu? 

Alokasi subsidi terbesar pemerintah Indonesia adalah untuk penyediaan energi, yaitu sebesar 114 triliun rupiah. Jumlah ini 3x lipat lebih banyak dibandingkan dengan subsidi pendidikan, kesehatan, pangan dan pajak jika digabung. Aksi hemat energi jelas akan memberikan pengaruh pada besarnya subsidi penyediaan energi dan dapat dialikhan untuk peningkatan sektor lain. Selain itu dengan aksi hemat energi ini dapat diinventasikan untuk membangun pembangkit tenaga listrik di daerah terpencil.  
 
 
Yuk semakin bijak dalam menggunakan energi listrik. Save energy, save future, save life! #iniaksiku 

Referensi: 
Pengembangan Energi Terbarukan Sebagai Energi Aditif di Indonesia

2 komentar:

  1. Sepakat ^^ Hemat listrik selain juga aksi penyelamatan lingkungan juga hemat pengeluaran bulanan. hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setujuuu. Jabat tangan dulu lah mbak 🙌

      Hapus

COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES