Wednesday, January 23, 2019

Perihal memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri

Memaafkan, susah-susah mudah. Membutuhkan kelapangan hati, menerima bahwa kesalahan yang terjadi memang sudah sewajarnya mendapatkan maaf. Menyadari bahwa setiap insan pernah dan bisa saja khilaf. Bukan hal yang mudah, pastinya. Butuh banyak hal. Keikhlasan dan waktu. Waktu untuk menerima,  everything always happens for a reason. Jadi sebenernya tidak ada yang serba kebetulan, pasti ada alasan dan pelajaran yang menyertai.

Pun memaafkan, bukan hal yang sederhana bagi saya. Karena di baliknya banyak yang harus dilepaskan, negative thoughts dan tentunya ego. Digantikan dengan penerimaan dan pikiran positif. Memaafkan, sebenarnya juga menyembuhkan. Menyimpan masalah dan benci dalam hati rasanya membuat diri sendiri jadi makin terbebani.

Senja dan melepaskan. 
Terlihat mudah, namun susah menerapkannya. Saya masih terus berjuang, memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri. Banyak hal yang dipendam sebenernya, belum bisa sepenuhnya mengikhlaskan apa yang sudah terlanjur membuat hati kecil terluka. Mind your words, mind your actions. Setiap perkataan dan tingkah laku yang dilakukan sudah layaknya dipikirkan akibat yang akan ditimbulkan, tidak sekedar berkata dan bertingkah.

Saya ingin banyak curhat di postingan kali ini. Kontemplasi asa rasanya selalu penuh sesak dengan curhat colongan, sambatan yang seperti tidak ada habisnya. Banyak-banyak istighfar, sudah ganti tahun namun belum bisa sepenuhnya mendewasa. Kali ini curhatan saya mengenai kehidupan lab, yang sebagian keluarga, sahabat baik dan teman-teman seperjuangan saya pasti tahu jatuh bangun hingga akhir semester ini.

Bersyukurnya saya bisa diterima di lab ini, Lab yang memang sesuai dengan topik impian sejak selesai sidang S1. Anammox berhasil membuat saya jatuh cinta dan penasaran untuk mengeksplore lebih jauh. Perjalanan yang tidak mudah, sejak pertama kali gabung di lab banyak hal yang harus disesuaikan. Teman-teman baru, lingkungan baru serta belum lagi harus dealing dengan homesick yang rasanya selalu awet kalau jauh dari rumah.

Baca juga:
Truly beyond blessed
6th Busan Global Water Forum, Well done Lucy! 

Pertama kali ikut Lab meeting, sempat stress karena Lab meeting menggunakan bahasa korea dan hanya saya dan mbak Evy (mahasiswa S2 dari Indonesia juga) yang menggunakan bahasa Inggris. Satu semester berlalu, sudah terbiasa namun tetap bahasa adalah barrier utama. Meskipun sudah bisa sedikit memahami apa yang mereka bicarakan, tetap saja lebih baik menggunakan bahasa inggris untuk komunikasi.

Tergabung dalam tim Anammox yang semuanya orang Korea kecuali saya yang alien begitu penuh tantangan. Mereka baik, yah meskipun tetap beda rasanya dengan mbak mas seperjuangan dari Indonesia yang sekolah di sini. Mulai dari obrolan tim di grup kkaotalk yang full bahasa korea dengan huruf cacing. Sudah bisa ditebak pasti ya. Setting mute jadi sebuah kewajiban. Tingkat kekepoan juga menurun seiring berjalannya waktu. Bagaimana tidak? setengah hari kadang bisa mencapai 300 chat dan rasanya buang waktu untuk translate satu persatu. Positifnya, saya tidak lagi sekepo dulu.

Masalah utamanya, ada satu senior di tim yang yah tipikal kurang bisa menerima pendapat dan agak sentimen ke saya karena masalah pribadi. Banyak tragedi tidak menyenangkan hampir 2 semester kemarin. Mulai dari sampel saya yang entah bagaimana dia jatuhkan dan tidak bisa dianalisis. Kacau rasanya. Marah, sedih, benci campur aduk. Dia bahkan tertawa, bukan takut atau merasa berdosa mempersulit kehidupan orang lain.

Masalah lainnya adalah sampel saya yang dia interupt saat sedang proses analisis di mesin. Bukan minta maaf namun justru marah balik ke saya. Kemarahan dia yang selalu tidak masuk akal. Pun saya selalu hanya bisa tarik nafas panjang, menahan diri agar tidak berdoa yang jelek ke dia. Menahan diri, jatuh terduduk, nelangsa rasanya. Iktikad baik dia untuk menyelesaikan masalah tidak pernah ada. Pun niat baik saya untuk sekedar bicara baik-baik atau hanya menyapa mendapat respon ketus atau bahkan tidak ada respon balik sama sekali.

Sebenarnya sabarnya seorang muslim haruslah tidak berbatas. Maka keputusan saya untuk menjauh, let toxic person go, saya rasa cukup bijaksana. Berdamai dengan diri sendiri dari ekspektasi bisa memperbaiki hubungan dengan rekan satu tim. Selama saya tidak menyalahi dan merugikan orang lain, rasanya langkah saya untuk menjauh dari hal-hal yang memicu pertengkaran dan merugikan salah satu pihak adalah hal yang benar. Meskipun kadang hati kecil masih sering bertanya, apa saya jahat bertindak seperti ini?

Namun rasanya tidak, saya juga harus egois untuk kesehatan mental. Masih ingat benar saya turun 8 kg dalam satu minggu karena banyak drama yang tidak berperikemanusiaan. Stress berat, nyeri dada kambuh terus-terusan, insomnia parah dan banyak hal berlebihan lainnya karena terlalu dipikir dan dirasa. Tak pantas harusnya memakan space dan waktu sebanyak itu hingga kondisi jiwa raga  tidak karuan.

Saya menyesal? tidak, justru berterima kasih sekarang bisa menjadi lebih tangguh, lebih cuek, dan lebih menghargai diri sendiri. Memang benar, kita tidak bisa memaksakan setiap orang suka dengan apa yang kita lakukan. Pun tidak bisa membuat setiap orang bahagia. Keep doing good things, masalah tetep ada yang julid, mencibir, meremehkan atau bahkan malah membenci kamu. It's fine, just stay true to yourself. 

Drama di lab terbaru, dua hari yang lalu box sampel saya yang berisi DNA mikroba rusak dan sampel di dalamnya kacau berantakan. Padahal dua hari lalu baik-baik saja. Saya prediksi box sample saya jatuh. Entahlah siapa pelakunya.Tidak ada yang mengaku or even say sorry.

Bukan kejadian yang pertama seperti ini, setelah semester sebelumnya bahkan sampel saya hilang dan saya temukan tubenya sudah dibuang. Entahlah mungkin kesabaran dan keikhlasan  ini benar-benar diuji.

Drama korea ini nyata ternyata. Korea oh korea, so tough. Perjuangan di lab belum berakhir. Masalah akan terus ada, jadi harus makin tangguh. Makin tua juga sudah seharusnya makin mendewasa.


Dari semua kejadian yang telah terjadi, saya belajar untuk lebih mencintai diri sendiri. Setiap hati kecil merengek karena perlakuan tidak mengenakan dari mereka, saya cukup memberikan ruang untuk diri sendiri. Melihat langit, menatap banyak hal yang memang sudah sepatutnya disyukuri bukan justru dikeluhkan. Toh kehidupan di dunia ini sementara, hanya mampir sebentar.

Gak papa, besok kita bikin cerita lebih baik lagi. Lebih tangguh ya, Lucy! Semangat berdamai dengan diri sendiri ~

4 comments:

  1. Sukaaaa banget bacanya mba..
    Semacam vitamin semangat bagi saya untuk memaafkan dan mengikhlaskan.

    Sulit banget emang ya.
    Terlebih memaafkan orang terdekat kita, yang tiap hari kita lihat dan temui.
    Rasanya, memandangnya saja, seolah melihat lagi kesalahannya.

    Tapi waktu akan membantu kita.
    Dan biarkanlah racun dendam itu lepas :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa mbak, masih dalam proses melepaskan.
      susah sekali rasanyaa mbak melupakan semua kesalahan yg udah pernah diperbuat :"

      makasih yaa mbaak supportnya :')

      Delete

COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES