Wednesday, April 23, 2014

Bersama Senja

Hai senja. Rindu menatap elokmu dalam ceria dan sukacita. Menghirup dalam udara kehidupan lantas menghembuskannya kuat-kuat. Memejamkan mata, menerawang bebas nikmat Tuhan yang tiada tara. Senja ini, sungguh aku rindu. Aku rindu memelukmu tanpa beban, tanpa awang-awang deadline yang terus mengejar. 

Ini Minggu-minggu berat. Selalu berat mungkin. Ketika keluhanku ternyata tak juga berujung. Emosi yang cenderung naik dan bahkan susah kukuasai. Ah senja, aku lelah sebenarnya. Sibuk dengan urusan dunia yang pada akhirnya tak membawaku ke surga. Lelah sangat lelah ketika emosi terus membuntuti untuk hal-hal yang jelas tak pantas untuk mendapat perhatianku. Simpati berlebih, kadang justru membuatku susah sendiri. 

Entahlah, masih saja naluri peduli melekat. Padahal yang dipedulikan justru berkebalikan. Seenaknya sendiri dengan egoisme diri tinggi. lantas masih perlukah peduliku? Kadang aku lupa. aku punya duniaku sendiri. ya, tanpa harus terlalu peduli dengan orang yang seenaknya sendiri. orang yang selalu mengedepankan kepentingannya tanpa mau tahu keadaan orang lain nyaman atau tidak. Hukum alam pasti berlaku. Tenang saja pollux ! Kebaikan akan bersama orang-orang baik ^^

Apa yang kamu tanam itu yang akan kamu tuai. Junjung tinggi kejujuran. Tidak akan pernah membanggakan hasil yang diperoleh dengan jalan kecurangan. Kamu hanya perlu jadi diri sendiri. Kamu hanya perlu terus memandang kedepan penuh harapan. Sekali mendongak ke atas untuk terus memperbaiki diri. Sekali mendongak ke bawah agar terus mengucap syukur. Tak perlu ada kesombongan, karena sungguh semua yang dimiliki akan kembali pada Sang Maha Baik, Sang Maha Menciptakan segala sesuatu. Satu lagi, kamu hanya perlu terus tersenyum dan mengucap syukur karena tiap detikmu mungkin lebih beruntung dibanding dengan jutaan manusia lainnya diluar sana. 

Terima kasih senja. Selalu, pesonamu membuat perasaanku sedikit lega. Salam rindu untuk Dewa Langit :*


Saturday, April 19, 2014

Hai Kerajaan Baru!

Sekelilingku berubah. Ini baru. Nuansa perpaduan apik antara pink pastel dan kuning menyelimuti kerajaan baruku. Tak seluas kerajaanku yang lama, cukuplah untuk meneruskan perjuangan dan merangkai cerita. Cukup untuk berbagi bersama kembarku dan rasta. Cukup, Alhamdulilah semoga syukurku selalu lebih. 

Hari ini resmi. Ya resmi untuk kerajaan baruku. Semoga selalu bisa menyemangati setiap hariku dengan kenyamanan dan ketenangan yang selalu menaungi. Semoga bisa membuatku rindu untuk memeluk erat setiap inchi ragamu dan setia menemani malam-malamku yang panjang. Perjuangan untuk mencapaimu, memberikan banyak pelajaran berharga untukku. Mengerti benar arti persahabatan sebenarnya, paham bahwa teman yang baik tidak hanya datang ketika meminta sesuatu. Tapi, akan selalu ada disisi tanpa harus diminta sekalipun. Perjuangan mencapaimu, menggoreskan ketegasan pemahaman bahwa meski tidak semua orang baik namun satu hal yang harus kau percaya kebaikan akan selalu bersama orang-orang yang baik. 

Menerobos lorong ingatan. Banyak jejak tertinggal dikerajaan lamaku. Egoisme yang terlalu tinggi, bad time management dan masih sering menyalahkan masa lalu. Banyak (juga) kenangan lembur semalaman, berkutat dengan tugas yang tidak ada habisnya, deadline yang mencekik sampai pagi menjelang, keluh kesah mewarnai setiap curhatan dengan ayah. Cukup penuh buku kenangan kerajaan lama. Semoga kisah kelam tak terbawa ke kerajaan baruku. Semoga saja. 

Satu lagi, ketika banyak hal-hal negatif berlalu lalang dalam pikiran harusnya tetap fokus dan tidak peduli dengan kebisingan yang terjadi. Ya, kadang menjadi tidak peduli itu menyenangkan. Seperti sama menyenangkannya ketika tidak perlu peduli dengan orang yang sibuk membicarakan, mengomentari atau bahkan mencaci apa-apa yang kita lakukan. Hidup ini keras, bung. Stay strong !

Well, Selamat pagi. Selamat hari sabtu. Semoga selalu menjadi orang baik dan selalu menebar benih kebaikan. Kamu, semoga selalu sukses :D

Tuesday, April 15, 2014

Yang terkasih, kembarku

Suara kipas angin memenuhi ruang cukup luas bercat putih, menyisakan aku yang tetap tertuju pada layar si ovo. Menerobos lorong kata yang penuh dengan sarang laba-laba. Ternyata, cukup lama ku meninggalkannya. Terbengkalai dalam diam, tanpa cerita tanpa ceria. Sajak-sajakku beberapa menderu.

Kamu pun begitu. Akhir-akhir ini tatapanmu serasa ingin membunuhku. Melihat setiap jengkal apa yang kulakukan (hanya) dari jauh. Membiarkanku jatuh bangun dalam kotak penuh liku. Seolah memberikan sinyal cemburu, karena pikirku akhir-akhir ini terkuras untuk tugas bekal masa depan. Berkutat hingga pagi dengan rentetan angka, perencanaan, surat-surat atau bahkan slide-slide berisi teori terkemuka. Ah sudahlah maaf, ini dayamu. Menatapku dengan tajam. Tapi satu hal, kamu harus tau aku merindumu.

Ya, aku merindumu. Begitu merindu bahkan. Berceloteh tentang banyak hal. Menghayal bersama tentang kehadiran seorang pangeran. Meraba rasa, memupuk pemahaman baik, saling menguatkan untuk terus menyongsong bahagia di masa mendatang. Aku (juga) merindu senyummu. Senyum yang menenangkan, ketika ku bongkar laci-laci kekecewaan, kesedihan ataupun pengkhianatan. Senyum yang selalu menguatkan sama kuatnya dengan cinta kasih ayah ibuku. Ya kamu, aku merindumu. Merindu beradu dalam heningnya malam. Ditemani dengan suara jarum jam yang seirama dengan detak jantungku. Bercerita sepuasnya tentang hari ini, tentang dia, tentang apa yang harusnya dan tak harusnya ku lakukan. Kamu, selalu ada. Meski pada suatu waktu, aku tak sadar akan kehadiranmu. Kehadiran yang begitu nyata bagiku. Dalam setiap hembusan dan aliran darah dalam ragaku. Kamu, semoga memaafkanku. Ya kamu, kembarku. 

Untuk yang terkasih,
Kembarku.
COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES