Sabtu, 29 Oktober 2011

Berbagi Keceriaan Bersama Capung dan Alam


Teringat masa kecil yang penuh dengan keceriaan. Berlarian di sawah yang becek, lapangan rumput yang luas serta sungai yang dangkal. Suasana sejuk selalu menemani aku dan 4 teman sepermainanku saat menghabiskan waktu selepas pulang sekolah.

Tepatnya 7 tahun lalu, saat aku duduk dibangku sekolah dasar ditahun ke-4.  Di desaku, desa mejayan salah satu desa yang terletak di Kabupaten Madiun sedang musim-musimnya mencari capung atau sering kami sebut kinjeng dalam bahasa Jawa.  Menurut kami yang saat itu masih tergolong anak kecil awam, hewan dengan dua pasang sayap tersebut sangatlah unik dan menarik untuk dibuat mainan. Tubuhnya yang beraneka warna seperti merah, kuning, dan biru semakin membuat kami berlomba untuk menangkapnya. Apalagi untuk capung yang tubuhnya bermotif loreng seperti macan. Menambah antusias kami untuk menjadi pemburu capung yang handal.

Susah-susah gampang untuk mendapatkan mangsa seekor capung. Dengan berbekal alat sederhana yaitu dua buah gelas plastik, dalam 10-15 menit setidaknya kami bisa mendapatkan 2-3 capung. Itupun harus berbekal kesabaran yang tinggi menghadapi capung yang terbang sana-sini setiap kali kami mencoba menangkapnya. Jangankan menangkap, mendekati dalam radius 50 centi pun terkadang capung sudah membaca derap langkah kami.

Capung biasa lebih mudah kami tangkap daripada capung dengan motif loreng karena selain jumlahnya yang lebih banyak, capung biasa lebih jinak daripada capung loreng. Capung loreng berukuran 2 kali lebih besar dari capung biasa. Motif tubuhnya yang unik dan menarik, membuat aku dan temanku terkadang memasang taruhan untuk mendapatkannya. Sungguh capung yang istimewa. Biasanya temanku bertaruh untuk satu capung loreng, diganti dengan 3 capung biasa dari 4 teman yang lain. Aku termasuk anak yang sering kalah taruhan. Alhasil aku harus rela memberikan capung tangkapanku pada temanku yang menang.

Merupakan suatu kebanggan bagi kami saat bisa menangkap capung dengan jumlah terbanyak.  Wajah serius kami saat beraksi menangkap capung selalu membuat orang-orang yang lewat tersenyum. Kami memang masih anak-anak polos yang senang bermain dengan alam. Strategis sekali dengan desa tempat kami tinggal yang belum banyak terkena polusi.

Saat menangkap capung, aku juga sering mengamati kebiasaanya. Ada saat itu capung yang sedang melakukan perkawinan. Capung yang sedang dalam proses perkawinan pasti terlihat tumpuk. Capung jantan diatas capung betina. Pikirku beruntung sekali bisa mendapat dua capung sekaligus. Kalau capung bisa bicara, pasti capung itu akan sangat marah padaku. karena aku mengganggu proses perkawinan mereka.

Menyenangkan sekali mengamati capung yang hinggap di dedaunan. Ekornya yang bergerak-gerak, semakin membuatku tertarik menangkapnya. Ekornya elastis bisa melengkung kedalam ataupun keluar. Lucu sekali.

Aku jadi teringat sesuatu. Menurut cerita orang-orang didesaku, capung bisa digunakan untuk menghentikan kebiasaan mengompol anak kecil. Untuk membuktikannya, aku mengujinya pada adikku laki-laki. Saat itu adikku yang berumur 4 tahun masih suka mengompol dicelana. Kasihan sekali adikku yang sering dimarahi ibuku karena mengompol di celana. Aku memegang satu capung dan memainkannya diatas pusar adikku. Adikku tampak geli sekali. Katanya seperti digelitikin.

Hari pertama, gagal. Hari kedua, belum berhasil. Hari ketiga dan keempat,hampir berhasil. Aku mulai putus asa. Namun aku terus sugesti baik bahwa capung itu bisa menghentikan kebiasaan mengompol  adikku. Akhirnya, hari kelima usaha itu tidak sia-sia. Adikku menjadi tidak mengompol  lagi. Senang sekali mengetahui pengujianku berhasil. Senang pula bisa membuat orang lain senang. Aku senang, adik senang, ibupun pasti juga senang.

Setelah capung kami terkumpul, kami memutuskan untuk menghitungnya.Setelah puas bermain-bermain dengan capung. Kami memutuskan untuk melepaskannya kembali ke alam. Kami berlari-lari menuju tengah sawah. Membuat barisan satu lengan dan mulai melepaskannya satu persatu. Senang sekali melihat capung-capung itu bisa terbang lagi ke alam bebas. Capung-capung itu nantinya bisa membantu petani memberantas hama-hama padi.

Kadang aku berfikir, kenapa aku menangkap capung-capung itu kemudian melepaskannya.  Rasa ingin tahuku yang membuat seperti itu. Mengenal capung lebih dekat, mengamati kebiasaan dan struktur tubuhnya.

Hewan dengan sepasang mata menawan yang didalamnya  terdapat 30.000 lensa berbeda ini mengajarkan kami bagaimana hidup bersama alam. Hidup dalam pandangan kesabaran, kesetiaan serta saling berbagi keceriaan dengan orang-orang yang ada disekitar. Hewan yang merupakan serangga tercepat di dunia ini juga mengajarkan kami ketepatan dan kecepatan dalam melakukan tindakan. Capung mengingatkan kami bahwa hidup ini selalu berubah, maka kami juga harus cepat beradaptasi dan mengendalikan perubahan itu.

Aku masih teringat dengan kata-kata kami saat melepaskan capung-capung itu. Kata-kata polos 5 anak kecil sahabat alam.

“ Terbang yang tinggi capung ! Bawa terbang mimpi-mimpi kami dan kami akan menggapai mimpi-mimpi itu”

Kata-kata yang tak pernah aku lupakan. Capung itu menjadi janji kami selalu berusaha yang terbaik untuk menggapai semua impian kami.

Let's do our best for everyone :D let's world knows who you are :D


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES