Monday, July 31, 2017

Merawat Tradisi, Lestarikan Upaya Konservasi: Wujud Nyata Menjaga Bumi

Bumi ini terlalu baik, apalagi pada Indonesia. Katanya, tanah kita adalah tanah surga. Tongkat kayu dan batu pun bisa tumbuh jadi tanaman. Betapa suburnya Indonesia, hamparan luas kawasan hutan Indonesia mencapai 130,61 juta ha pada tahun 2012 yang merupakan 68,6% dari total luas daratan Indonesia. Kecintaannya pada Indonesia menjadikan negeri ini sebagai paru-paru dunia dengan kekayaan hayati berupa hutan tropis terbesar ketiga setelah Brazil dan Zaire. Kurang baik apa Bumi ini? Namun teganya banyak rakyat Indonesia yang semena-mena padanya 😖.

Tingkat kerusakan hutan mengalami peningkatan setiap tahunnya
Kerusakan Bumi benar-benar terjadi di banyak sektor. Tidak hanya banyak kawasan hutan yang hilang berganti pemukiman, flora dan fauna menuju kepunahan karena perburuan liar hingga sungai-sungai penuh sesak dengan sampah rumah tangga. Bumi pun semakin panas, climate change is real. Perubahan musim penghujan dan kemarau di Indonesia tidak menentu. Semuanya sadar, semuanya pun tahu akibat dari setiap perbuatan yang dilakukan. Tapi nyatanya, tidak banyak yang tergerak untuk memperbaiki. Pun tidak banyak yang bertindak untuk memulihkan kembali. Hanya segelintir orang yang peduli, yang sadar diri, yang takut betapa dahysatnya bencana ketika Bumi ini kembali murka.

Pencemaran sungai akibat limbah domestik dan industri semakin merajalela

Sibuk. Mungkin begitu alasannya. Saya pun tidak memungkiri bahwa etiap orang mempunyai prioritas masing-masing. Sejenak, luangkan waktu untuk menengok begitu banyak kerusakan yang tanpa kita sadari membuat Bumi, negeri ini khususunya, berada di ujung tanduk. Di ujung kerusakan hasil perbuatan sendiri. Miris sekali, apa kabar Bumi ini untuk anak cucu kita nanti? 

Kerusakan pun sekarang tidak pandang bulu. Kawasan terlindungi pun masih sering jadi sasaran aksi memenuhi kepentingan untuk keuntungan diri. Jangankan sungai yang bebas mengalir dan tanpa dilindungi bisa bebas dari kerusakan tangan jahil manusia, kawasan ekosistem leuser yang merupakan salah satu wilayah konservasi paling penting di muka bumi juga dalam bayangan kepunahan manusia.

Kawasan ekosistem Leuser dengan luas 2,63 juta hektare terdiri dari hutan tropis dataran rendah dan juga berbukit. Kawasan yang sangat kaya akan keanekaragaman hayatinya dengan topografi dramatis mendukung kehidupan lebih dari 4 juta orang yang tinggal di sekitarnya. Kawasan ekosistem Leuser menjadi sumber air bagi rakyat dan sangat berjasa untuk mitigasi bencana ekologi.

  Leuser, Warisan Alam Tak Tergantikan (Sumber Video)

Tidak hanya itu, Leuser juga merupakan hutan hujan tropis dengan beragam satwa dan tanaman penting yang wajib dilindungi. Leuser menjadi rumah bagi spesies langka hewan-hewan Sumatera seperti orangutan, badak, gajah, harimau, macan dahan dan beruang madu. Istimewanya lagi, Leuser menjadi habitat untuk bunga terbesar dan tertinggi, Rafflesia dan Amorphophallus, serta dipenuhi dengan beragam tumbuhan langka lainnya. Ilmuan dan konservationist dunia menyebut kawasan ekosistem Leuser sebagai high conservation value. Istimewa banget kan.

Leuser, Surga Hayati Indonesia

Sayangnya, keistimewaan yang ada terusik dengan tangan-tangan jahil manusia demi memuaskan hasrat pribadi untuk memperkaya diri. Awal tahun 2017, terus berlanjut aktivitas illegal yang terjadi di Leuser dalam berbagai cara. Mulai dari perburuan, perambahan, pembangunan jalan serta pembalakan liar. Total kerusakan Leuser akibat kasus pembalakan liar (illegal logging) sebesar 6.312 meter kubik kayu dan 5,415 hektare akibat perambahan. Leuser berada diambang kerusakan dengan deforestasi pada bulan Januari - Mei 2017 sebesar 2.686 hektare. 

Manusia semakin membabi-buta untuk melakukan alih fungsi lahan dari hutan yang rindang menjadi kebun sawit dengan iming-iming miliaran rupiah keuntungan. Menebang pohon-pohon untuk kepentingan industi, alih-alih investasi namun merusakan kelestarian alam. Salah satu fungsi dari kawasan ekosistem Leuser adalah sebagai daerah penyangga serta penahan air. Hilangnya ribuan hektare hutan tiap tahunnya membuat hutan kehilangan salah satu fungsinya untuk penahan air.
Benarkah Leuser Diambang Kemusnahan?

Penurunan debit air di sekitar 80%  sungai kawasan ekosistem Leuser mencapai sebesar 50%. Tidak ada lagi proses penyimpanan air oleh akar-akar pohon, alhasil bencana banjir tidak bisa dihindari. Menurut data Walhi, Aceh sudah mengalami banjir sebanyak 1.119 kali pada rentang waktu 2007-2014. Pun demikian dengan alih fungsi hutan untuk ekspansi lahan gambut membuat produksi gas rumah kaca makin meningkat. Lahan gambut yang berperan sebagai penyerap karbon terbesar kehilangan fungsinya sehingga menyebabkan efek pemanasan global semakin meningkat. 

Betapa banyak dan besar fungsi hutan dalam menjaga keseimbangan alam. Begitu rusak tanpa ada usaha untuk mengembalikannya, banyak bencana besar yang mengintai. Konservasi menjadi jalan yang wajib ditempuh untuk meminimalisir dampak kerusakan yang terjadi. Selain itu juga bertujuan untuk melindungi dan memelihara agar alam ini tetap lestari. Pada dasarnya, Konservasi bertujuan untuk menjaga keberadaan dan kualitas lingkungan untuk jangka waktu yang panjang. Menjaga bumi agar bisa tetap nyaman dihuni untuk anak cucu nanti.
Perubahan Lahan juga terjadi di Taman Nasional Gunung Leuser

Adanya Lestari memberikan kesegaran di tengah rentetan fakta-fakta kerusakan alam yang telah terjadi. Menjadi penyemangat untuk terus melestarikan konservasi. Sesuai dengan namanya “Lestari” yang berarti abadi, merupakan proyek pengelolaan hutan secara berkesinambungan dengan banyak tujuan baik. Utamanya sebagai upaya konservasi keanekaragaman hayati serta membantu mengurangi dampak kerusakan yang ada, salah satunya emisi gas rumah kaca yang semakin hari membuat dampak pemanasan global menjadi semakin nyata. 

Lestari  bekerja di enam lanskap salah satunya adalah Lanskap Leuser, berlokasi di Aceh, dengan pondasi kokoh proyek USAID IFACS dengan menerapkan pendekatan lanskap berupa tata kelola penggunaan lahan terintegrasi untuk menyinergikan kebijakan lintas sektor guna menyelaraskan pembangunan dan tujuan konservasi. Lestari bekerja sama dengan pemerintah daerah, sektor swasta dan komunitas lokal melalui mekanisme sub-kontrak, hibah maupun aktivitas implementasi secara langsung.

Lestari: Menjaga Keanekaragaman Hayati Lanskap Leuser

Semangat dan inspirasi Lestari dalam menjaga serta merawat Lanskap Leuser dari kemusnahan yang kian mengancam berhasil membuat saya semakin semangat untuk ikut turut melakukan konservasi. Konservasi untuk membuat Bumi ini tetap lestari. Pentingnya konservasi untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari mulai dari hal yang paling sederhana, terus dilakukan berkali-kali untuk memberikan perubahan yang nyata dan bermakna. Mulai diterapkan agar terbiasa untuk melakukan. 

Saya sudah mencoba menerapkan beberapa aksi sederhana sebagai wujud peduli pada Bumi ini. Oiya, setelah direnungkan ternyata tradisi juga berpengaruh besar pada aksi peduli Bumi ini lho. Aksi sederhana konservasi agar Bumi tetap lestari 😊. Yuk bisa diaplikasikan juga lo buat teman-teman 😄

Mengikuti kegiatan peduli lingkungan, memupuk semangat konservasi
Banyak sekali komunitas-komunitas yang menyelenggarakan kegiatan peduli lingkungan. Saya beruntung sekali bisa beberapa kali ikut beraksi bersama mereka. Beberapa diantaranya adalah kegiatan penanaman bibit Mangrove di Bozem Wonorejo, aksi hemat energi pada peringatan Earth Hour, dan juga tree planting activities dalam kegiatan tahunan summer camp di ITS.  Betapa beruntungnya bisa mengikuti kegiatan-kegiatan positif dan menebar kebermanfaatan untuk lingkungan.

Yuk, lestraikan aksi tanam pohon - satu jiwa satu tanaman - 😄

Perkembangan teknologi juga memberikan banyak dampak positif, salah satunya mempermudah dalam menyalurkan donasi untuk program-program lingkungan yang sedang dikembangkan di Indonesia. Pun juga sebagai media untuk menggaungkan semangat konservasi dan ikut beraksi bersama untuk menjaga kelestarian bumi pertiwi. 

Membuang sampah pada tempatnya, sungai bukan wc umum/tempat sampah bersama
Air merupakan sumber daya alam yang rentan dengan pencemaran. Kebutuhan air bersih terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk yang makin tidak terkendali. Tidak hanya itu, pencemaran air sungai yang notabene digunakan sebagai air baku PDAM pun makin meningkat. Sekitar 75% dari 58 sungai besar di Indonesia sudah tercemar. Diperkirakan 60% polutan berasal dari limbah rumah tangga dan sisanya dari aktivitas industri.

Aksi Ecoton dalam pembersihan popok di kawasan - kawasan sungai #sungaibebaspopok2020 (Sumber Gambar)

Miris sekali ketika melihat banyak sampah yang mengapung disungai. Pada perayaan Hari Air setiap tahunnya, teman-teman dari Teknik Lingkungan menggelar kegiatan susur sungai di Kali Rolak Surabaya. Tidak hanya itu, LSM “Ecoton" juga secara rutin mengadakan konservasi sungai dari popok sekali pakai yang banyak mengapung di sungai-sungai mulai dari kawasan Surabaya, Sidoarjo serta kawasan sungai lainnya.

Save energy, save future, save life!
Penggunaan energi secara bijaksana perlu dibiasakan sejak dini, agar terbiasa untuk melakukannya. Tidak jarang dari kita masih sering abai untuk mencabut charger setelah selesai charging, mematikan lampu tidur disiang hari, kipas angin yang dibiarkan menyala meskipun tidak ada penghuninya atau yang paling sering membiarkan tv menyala sampai pagi karena ketiduran. Pemborosan dalam menggunakan energi yang secara tidak langsung juga semena-mena pada bumi. 
Hemat Energi, Aksi Nyata Selamatkan Bumi!
Kok bisa? Jelas, karena proses untuk menghasilkan listrik melalui proses panjang, salah satunya pembakaran  sumber energi fosil (batu bara, minyak bumi dan gas). Semakin banyak energi listrik yang digunakan maka semakin besar kebutuhan energi yang diperlukan dan semakin besar pula bahan bakar yang dibutuhkan. Alhasil pencemaran yang terjadi juga makin besar, mulai dari pencemaran udara (hujan asam dan pemanasan global) hingga kelangkaan sumber energi yang digunakan. Yuk mulai dari sekarang lebih bijak menggunakan energi! 😊

Minimalisasi produksi sampah, menerapkan tradisi “Gunakan dengan Bijaksana, Jangan Berlebihan”
Belajar dari tradisi sejak kecil, “gunakan dengan bijaksana, jangan berlebihan”. Begitu pesan Ibuk pada saya ketika melakukan apapun. Termasuk dalam hal makan, belanja, ataupun belajar. Sedih kalau lihat saat makan di kantin banyak sekali piring yang nasi dan lauknya masih banyak namun dibuang. Sebagai informasi, sebanyak 51% jumlah sampah yang dihasilkan setiap hari merupakan sampah makanan. Begitu kurang bersyukur, selain mencemari lingkungan banyak sekali orang-orang diluar sana bahkan kesulitan untuk makan.

Terapkan etika lingkungan dalam setiap kegiatan. Hindari gaya hidup konsumtif yang merugikan lingkungan!
Selain sampah makanan, perlu sekali meminimalisasi penggunaan kantong plastik saat belanja. Pun juga sangat baik menghemat pemakaian kertas saat belajar. Gunakan dua sisi kertas sebagai aksi kencintaan agar Bumi tetap lestari.

Membeli produk yang baik dan ramah lingkungan
Jeli saat membeli perlu dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi konsumen yang cerdas serta selektif dengan membeli produk yang memiliki ekolabel. Ekolabel merupakan label sertifikasi bahwa produk diproduksi dari sumber yang lestari serta melalui proses produksi yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Pastikan beli yang baik ya sebagai aksi nyata menjaga Bumi. 

Ayo Beli Produk dengan Ekolabel #beliyangbaik

Mulai dari aksi sederhana yang dilakukan terus menerus demi membawa perubahan nyata untuk kelestarian Bumi. Aksi nyata juga digaungkan oleh Lestari untuk menebar inspirasi serta semangat lestarikan upaya konservasi melalui perhelatan akbat tari saman dengan jumlah sebanyak 10.001 penari. Wiik, banyak banget ya sepuluh ribu satu penari Saman akan mengawal perhelatan akbar Leuser 2017 😅

USAID-Lestari menggelar perayaan Pra-Event Tari 10.001 Saman Pengawal Leuser 2017 pada tanggal 5 Agustus 2017 nanti dan puncaknya dilaksanakan pada tanggal 13 Agustus 2017. Perhelatan akbar Saman Pengawal Leuser ini mengambil tema "Merawat Tradisi Melalui Konservasi" yang bertujuan untuk merawat tradisi sekaligus melestarikan upaya konservasi Leuser agar tetap lestari. Selain itu juga mengingatkan betapa pentingnya menjaga keindahan alam dan kebaikan yang diberikan bumi selama ini dengan beriringan bersama tradisi yang dimiliki.

Keindahan Tari Saman melengkapi pesona Leuser sebagai warisan alam yang begitu indah serta sumber kehidupan rakyat Aceh pada khususnya. Oiya acara Saman Pengawal Leuser 2017 yang dilaksanakan di Kabupaten Gayo Lues ini juga direncanakan akan memecahkan kembali rekor MURI dengan Tari Saman penari terbanyaak. Waah, wow banget yaa 😄

Saman Pengawal Leuser, Simbol Merawat Tradisi untuk Terus Lestarikan Konservasi Leuser

Sebanyak 10001 penari saman akan mengiringi perayaan leuser tahun ini. Tarian istimewa yang syarat akan makna dalam setiap gerakan dan syairnya. Simbol kebersamaan untuk terus menjaga dan melestarikan Leuser agar terhindar dari berbagai ancaman kepunahan. Leuser dan Saman adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan, saling menghidupkan dan sama-sama menjadi warisan dunia yang harus terus dijaga dan dilestarikan. Salam Leuser Lestari! Semangat merawat tradisi dan lestarikan upaya konservasi untuk bumi pertiwi!
Saman dan Leuser: Satu Kesatuan Warisan Dunia dari Indonesia

Kerusakan di bumi ini terus merajalela bukan karena terlalu banyak orang jahat atau sudah tidak ada orang baik sekalipun, namun karena terlalu banyak orang baik yang hanya diam dan terlalu asik menyaksikan.

Referensi: 
[1] Erzansyah, Hafiz. 2017. HAkA dan FKL: Aktivitas Ilegal di Kawasan Ekosistem Leuser Terus Berlanjut. Diakses tanggal 21 Juli 2017.
[2] Gumelar, Ofi Sofyan. 2016. Kelirumologi  RTRW Aceh dan Dampaknya Pada Ekosistem Leuser. Diakses tanggal 21 Juli 2017.
[3] Lestari Indonesia. Lanskap Leuser. Diakses tanggal 21 Juli 2017.
[4] Lestari Indonesia. Lestari: Mengurangi Emisi dan Memelihara Keanekaragaman Hayati. Diakses tanggal 21 Juli 2017.
[5] Leuser Lestari. 2016. Saman dan Leuser. Diakses tanggal 21 Juli 2017.
[6] Zulkarnaini. 2017. Untuk Leuser Dia Mengabdi. Diakses tanggal 24 Juli 2017.
[7] 1001Indonesia. 2017. Kawasan Ekosistem Leuser, Penyangga Kehidupan Manusia. Diakses tanggal 24 Juli 2017.

32 comments:

  1. Huaaa...ini pasti ikut karya ilmiah yaa..keren banget ulasannya Mbak Lucky..kapan yaa bisa meet up kita Mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haai mbaak diraaa. .

      Hehehe semogaa bermanfaaat mbaj yaaa. . Iyaa mbaak kapan ya kitaa bisa meetup :" hmmm

      Delete
  2. Ah Lucy, betapa harus bangganya Indonesia punya pemuda seperti kamu, yang begitu peduli dan mengilhami banyak pembaca. Sibuk, memang kita semua sibuk, tapi apakah terlalu sibuk untuk memperdulikan lingkungan? Seperti yang kamu tulis, instasi mancanegara lah yang kadang lebih peduli dan menobatkan gunung leuser sebagai high conservation value. Orang Indonesianya sendiri? ngikut saja. Aku kadang heran, banyak pemuda Jerman yang tiap hari lalu lalang di pinggiran jalan demi mempromosikan penjagaan lingkungan hidup dan perlindungan satwa di Indonesia, khususnya di Sumatra. Orang Indonesianya? Hmm,,, tapi aku percaya, kamu salah satu buktinya, bahwa pemuda Indonesia mulai sadar akan pentingnya menjaga lingkungan ketimbang eksploitasi demi keuntungan beberapa pihak saja. Terima kasih Lucky atas sharingnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbaak indraaa. .
      Aamiin mbaak semoga bisa istiqomah dan terus berbagi manfaat untuk sekitaar. .

      Iyaa mbak, kadang jd malu sendiri kalau liat org indonesia dgn sadar mengotori sungai atau menebang hutan"nya tanpa ada rasa bersalah :( semogaa kedepaannya makin banyak generasi Indonesia yg peduli begitu pentingnya melestarikan upaya konservasi yg ada untuk menjaga bumi ini tetap lestari. Aamiin. . 😄😊

      Delete
  3. Andaikan Alam ini bisa bicara, pasti mereka pada marah ke manusia yang tidak bertanggung jawab merusak lingkungan. Semoga kita semua bisa berinstropeksi diri betapa pentingnya lingkungan tanpa ada pencemaran..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener bangeet mas, itu yg saya takutkan. ketika bumi ini murka pasti manusia sendiri yang bakal menyesal.

      Aamiin, semogaa bisa segera sadar bahwa lingkungan sudah sangat baik ke manusia :" tidak lagi ada kerusakan atau pencemaran :) pasti senang bsa hidup tenang, sehat dan bahagia . .

      Delete
  4. Awal baca aku jadi pengen nyanyi lagu favorit bapaku ini mba :)
    Makasi mba sharing tentang ini, kesadaran lingkungan seharusnya bukan milik para pecinta lingkungan dalam komunitas tertentu ini milik kita semua dan akupun merasa tertampar jangan-jangan aku ga aware sama lingkungan?yes mba Lucy dalihku pasti bilang maaf aku sudah mamak2 yang sibuk padahal ga demikian dari hal kecil juga seperti tidak sia2kan makanan ini bentuk kepedulian agar sampah rumah tangga tidak bertumpuk betul kan y mb?tapi sulit banget untuk komitmen hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hhaha mbak bella lo, nyanyi dulu yuk mbak :D wkwkwk

      sama-samaa mbak belll, semoga bermanfaat yaaa. Aamiin :D nah, bener banget mbaak, tanggung jawab semua umuat manusia di bumi ini. . iyaa mbaak, usahakan bisa meminimalisasi sampah rumah tangga yang dihasilkan supaya lingkungan tidak semakin tercemar oleh sampah" rumah tangga yg kian menggunung. .

      Hikss, ayo mbaak mulai membangun komitmen :D perlahan tapi pasti, Semangaaat mbak belll :*

      Delete
  5. Leuser yang kaya akan biodiversitas harus rela terluka karena ulah tangan orang-orang dan instansi tak bertanggungjawab. Sedih memang, sering lihat di televisi berita tentang kerusakan hutan di Indonesia. Ribuan pohon dan ratusan hewan harus rela mati demi keuntungan beberapa pihak saja. Mereka seolah tak memikirkan dampak panjang ke depan dan hanya mementingkan ego semata :(

    semoga dengan adanya gerakan kepedulian terhadap leuser, leuser tetap lestari dan mampu menjadi penopang utama kekayaan hayati di Indonesia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas wisnu, sedih ya kalau banyak kerusakan terjadi akhir-akhir ini. manusia jd makin beringas tak terkendali. hmmm semogaaa dengan mulai merawat tradisi dan melestarikan upaya konservasi yg ada membuat leuser tetap lestari dan senantiasa menjadi surga hayati negeri ini. . Aamiin. .

      Delete
  6. Seperti biasa Lucky. Keren.
    Lucky menulisnya dengan lengkap dan cerdas, lengkap dengan infografisnya pula.

    Penurunan debit air di sekitar 80% sungai kawasan ekosistem Leuser mencapai sebesar 50% --> ini mengerikan ya, Lucky? Semoga kesadaran makin meningkat dengan adanya perayaan Leuser. Paling tidak, bumi tidak bertambah rusak kalau belum bisa bertambah baik.

    Sukses ya Lucky.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih mbaaak, semogaa bermanfaat mbaak ya ulasannyaa. .
      iyaa ngeri banget mbak, kalau hutannya terus ditebang seenaknya pasti persediaan air didalam tanah juga makin sedikit dan bahaya longsor-banjir akan semakin mengancam. hnnn

      Aamiin mbaak, hmmm miris mbak yaa. setidaknya bumi ini bertahan, jangan bertambah rusak. Suksess jugaa buat mbaak yaa :D

      Delete
  7. Aku tuh paling sedih kalau baca soal kerusakan hutan, Mbak. Sedih banget ngebayangin kondisi bumi kita semakin memburuk. Tapi lebih sedih lagi aku pun enggak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan bumi. Semoga semakin banyak orang yang peduli terhadap bumi ya. Melestarikan hutan, menyemalatkan bumi untuk generasi ke depan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbaak, ku jugaa.
      Ayoo mbaak, bisa mulai beraksi untuk menyelamatkan bumi ini dari kegiatan sederhana sehari-hari. Perlahan namun pasti insya Allah dampak positifnya juga makin besar untuk bumi :D Semangaaat menjaga bumi mbak! :)

      Delete
  8. Andai semua orang menyadarinya... Mungkin negara akan bisa sedikit berhemat. Bayangkan, berapa banyak petugas kebersihan yg harus di bayar hanya untuk terus-menerus mengeruk got, membersihkan saluran air yg setiap detiknya di lempari botol2 bekas oleh tangan2 tak bertanggung jawab

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget mas, kalau semuanya sadar dan peduli selain negara bsa berhemat, pasti lingkungan jd lebih bersih dan sehat :)

      Delete
  9. Mungkin kita terlalu sibuk dengan aktifitas kita, tanpa sadar kita telah melupakan lingkungan kita yang benar-benar menjadi tempat untuk kita berpijak... Dengan tulisan ini, dengan karya ini, dengan semua besutanmu tentang alam... akan mengingatkan kita kembali untuk terus menjaga bumi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah mas kamu jangan sibuk-sibuk. hahaha
      Aamiin, yuk jaga bumi sama-sama. Lakukan langkah sederhana setiap hari untuk menjaga bumi agar tetap lestari :D

      Delete
  10. Replies
    1. Semogaa ulasannya bermanfaat ya kak. Yuk sama-sama menjaga bumi ini tetap lestari. Semangaat kak :D

      Delete
  11. Wow lengkap mba,makasi sudah diingatkan jangan membuang makanan sisa, berhemat dan cintai lingkungan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haaii mbaak erna, sama-sama mbaak ya. Semogaa bermanfaat ya :)
      Iya mbak, harus bener-bener bijaksana dalam setiap tindakan yang dilakukan agar tidak merugikan lingkungan :)

      Delete
  12. menyelamatkan hutan Indonesia bisa dimulai dari diri sendiri seperti hemat energi atau belanja dan makan secukupnya sehingga mengurangi food waste. Yang terakhir ini aku masih perlu lebih milih-milih lagi, sayang lihat makanan busuk yang harus dibuang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepakaat mbak helenaa, semuanyaa harus dimulai dari diri sendiri :) supaya bisa menularkan semangat ke yang lain . . hehehe

      iyaa mbaak, bisa diolah untuk kompos mbak hell. Komposnya nanti bisa dipakai buat tanaman. Mengolah sampah jadi sesuatu yang lebih bermanfaat untuk bumi :)

      Delete
  13. Keren Mba.... Semangat terus untuk selalu peduli :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semogaa bermanfaat mbaak Ida. Semangaaaat menjaga bumi mbak yaa :)

      Delete
  14. Infografisnya keren banget Mbak, sangat terbantu dengan penjelasan di infografisnya. Ajarin dong cara buatnya, ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semogaaa bermanfaat mbaak ya ulasan dan infografisnya :)
      yuk, yukk belajaar bareng. . kapan ya bisa meetup :"

      Delete
  15. Semoga pemerintah tiap daerah menggalakkan satu jiwa satu pohon ya mbak, sangat disayangkan jika tanah yang subur makmur jadi tandus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa mbaak elvaa, biar Bumi bisa kembali hijau kaya dulu lagi :)
      Sayang banget kalau tanah surga ini musnah karena keserakahan tangan-tangan dan nafsu manusia. . Ayo mbak jadi bagian menjaga bumi ini dari kerusakan :) Semangat menjaga bumi mbaaak :)

      Delete
  16. Lengkap sekali Mbak Lucky, mantab sekali. Suka bacanya nggak ngebosenin. Bisa sedetil itu, keren deh Mbak.

    Yg kulihat sehari2 sih ngebuang sampah nih loh. Susah banget sih buang pada tempatnya ya Mbak? kesadarannya bener2 nol. Tapi kalo dibilangin alasannya berlipat ganda hikksss

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semogaaa bermanfaaat ya mbak ulasannyaaa. .jd penambah semangat untuk terus semangat menjaga bumi tetap lestari. . 😊

      Iyaa mbak masih banyak yg bandel buang sampah seenaknya. Ndak ada kesadaran diri buat buang di tempatnya. Hmmm. . Miris kalau liat sungai penuh sama sampah yg mengapung-apung. . Moga makin banyak yg sadar diri mbak ya. Aamiin. . Terus berdoa dan mengingatkan ke arah yg benar. Semangaaaaaat 😊😊

      Delete

COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES