Minggu, 23 Oktober 2016

Cegah, Obati dan Lawan Diabetes – Antara Sehat, Syukur dan Bahagia

Menjadi sehat tentu merupakan impian setiap orang, termasuk saya. Memiliki track record yang tidak begitu baik mengenai kesehatan membuat saya begitu bersyukur dan menikmati masa-masa sehat saya dengan sebaik mungkin. Syukuri masa sehatmu, sebelum masa sakitmu.

Memiliki riwayat penyakit yang cukup sering dan serius
Saat kuliah semester 3, penyakit gastritis saya sering kambuh dengan frekuensi kambuh setiap dua minggu sekali. Setiap kambuh, saya selalu dibawa ke IGD dan diinfus karena tubuh dalam kondisi kurang cairan. Sampai waktu itu, gastritis saya kambuh untuk kesekian kalinya sehingga ayah dan ibu membawa saya pulang ke Madiun untuk dirawat di salah satu rumah sakit islam di Madiun.

Dokter menganjurkan saya untuk menjalani endoskopi. Endoskopi dilakukan dengan memasukkan selang yang diujungnya telah terpasang kamera untuk melihat kondisi lambung agar bisa tahu apakah ada penyebab kambuh terlalu sering. Dokter mengkhawatirkan tumbuh bakteri jahat yang berbahaya pada lambung sebagai penyebab gastritis saya kambuh terlalu sering. Secara sadar saya bisa merasakan bagaimana dimasukkan selang dan itu menyakitkan #harussehat #cukupsekaliendoskopi. Satu kali uji endoskopi membutuhkan biaya sekitar hampir 2 juta rupiah. Benar kalau sehat itu mahal harganya :) Dari hasil endoskopi didapatkan hasil bahwa saya mengidap penyakit gastritis kronis jenis atropi.

Selain gastritis, saya sering mengalami migrain, kaki kesemutan dan juga nyeri dada bagian kiri beberapa bulan lalu. Setelah medical check up ternyata ditemukan adanya penyumbatan di pembuluh darah jantung sehingga detak jantung tidak normal. Penyumbatan terjadi karena tertutup oleh lemak-lemak akibat terlalu seringnya saya mengonsumsi makanan berlemak tinggi dan kolesterol tanpa diimbangi konsumsi buah ataupun sayur serta olahraga fisik. Ayah dan ibu saya membawa saya ke pengobatan alternatif dan saya diberikan obat alami yang berfungsi untuk melarutkan lemak-lemak yang menempel pada pembuluh darah sehingga penyumbatan yang terjadi bisa hilang. Tidak hanya itu, banyak hal yang harus saya lakukan sebagai usaha untuk sembuh. Menahan diri untuk tidak sering mengonsumsi makanan berlemak tinggi, es krim, coklat, gorengan dan makanan-makanan cepat saji lainnya.

Sakit adalah salah satu penebusan dosa, tapi saya merasa sangat berdosa terus mendzalimi diri saya dengan tidak menjaga kesehatan tubuh dengan baik. Banyak hal jahat yang sering dengan sadar saya lakukan sampai saat ini #mybad. Belum bisa dengan seutuhnya meninggalkan kebiasaan buruk yang sering saya lakukan. Padahal jelas kebiasaan buruk tersebut tidak sehat dan bisa jadi sumber dari penyakit yang sering saya derita saat ini. Hal yang paling susah adalah mengatur pola makan dan rajin berolahraga, sedikit-sedikit tapi saya paksa untuk rutin dilakukan setiap hari agar terbiasa. Karena kebiasaan adalah biasa melakukan alias terbiasa.

Rentetan kebiasaan buruk yang sudah mulai saya kurangi, jauhi, tinggalkan tidak membuat saya sempurna tenang dari rasa was-was. Apalagi fisik saya yang cenderung rentan terhadap datangnya penyakit membuat saya serba awas. Apalagi sekarang, ibu sedang tidak dalam kondisi seutuhnya sehat. Penyakit gulanya sering kambuh akhir-akhir ini membuat saya lebih was-was dan semakin awas dan penyakit diabetes melitus merupakan salah satu jenis penyakit keturunan (Baca juga: Kenangan Masa Lalu dan Memutus Rantai Diabetes, Mungkinkah?)

Gejala Penyakit Diabetes Tipe 2
Kakek dan ibu menderita penyakit diabetes tipe 2. Faktor resiko terbesar untuk penyakit diabetes tipe 2 ini adalah riwayat keluarga. Beberapa gejala yang mengindikasikan seseorang menderita diabetes tipe 2 yaitu: 
Ada beberapa gejala yang sudah mulai terlihat dari beberapa tahun yang lalu nih, saya sangat sering sekali kesemutan padahal baru duduk bersila 5 menit saja. Hmm jadi makin was-was :"

Dengan memahami gejala-gejala diabetes maka bisa lebih waspada dan segera mengambil sikap untuk mencegah penyakit diabetes datang terlalu dini (bagi saya) karena adanya faktor keturunan. Berdasarkan Kementerian Kesehatan, faktor resiko diabetes dibagi menjadi faktor yang dapat dimodifikasi dan faktor yang tidak dapat dimodifikasi. Faktor keturunan termasuk dalam faktor resiko yang tidak dapat dimodifikasi. Sedangkan untuk faktor resiko yang dapat dimodifikasi erat kaitannya dengan perilaku hidup yang kurang sehat, seperti kurang aktivitas fisik, merokok setiap hari, diet tidak seimbang serta konsumsi makanan berlemak dan minuman beralkohol atau bersoda setiap hari. Secara detail faktor resiko diabetes dapat dilihat pada gambar berikut:
Beberapa hari terakhir kondisi Ibu saya tidak kunjung membaik. Kadar gula darahnya kemarin bahkan mencapai 548 mg/dL. Semoga segera membaik ya Buk :) Aamiin. . Ibu saya memang tipe pemikir dan orang yang tergolong mudah stress. Sedikit saja ada masalah, kondisi Ibu pasti langsung drop. Penyakit diabetes khususnya sebenarnya tidak hanya disebabkan oleh faktor makanan dan faktor lingkungan, namun juga dipengaruhi oleh faktor pikiran. Faktor pikiran ini mempengaruhi bagaimana mengendalikan pikiran menjadi lebih positif, tanpa beban. Faktor pikiran disini bisa mengendalikan diri dari datangnya stress sehingga potensi resiko diabetes dapat diminimalisir.

Cegah, Lawan dan Obati Diabetes – Antara Sehat, Syukur dan Bahagia
Usaha mencegah, melawan dan mengobati diri dari penyakit diabetes dengan pengaruh dari faktor pikiran tentu tak lepas dari dua hal, yaitu syukur dan bahagia. Tiga hal yang saling berhubungan satu sama lain. Untuk menjadi sehat, mustahil apabila dirinya tidak bahagia. Tidak bahagia bisa terjadi karena tidak bersyukur atas apa yang dimiliki selama ini. Sementara itu, usaha menjadi sehat dan sembuh dari penyakit Diabetes dapat dicapai dengan banyak bersyukur dan bahagia bahwa masih diberikan kesempatan untuk sembuh.
Untuk menjadi sehat, patut perbanyak bersyukur sehingga hati menjadi lebih bahagia. Hati yang bahagia terbebas dari stress dan fikiran menjadi lebih jernih dalam mengambil tindakan termasuk melestarikan gaya hidup sehat dalam sehari-hari. Semakin banyak bersyukur tingkat bahagia semakin tinggi dan tingkat sehat pun semakin menaik. Bersyukur disini tercermin dalam banyak hal, seperti berikut:

Bersyukur diberikan fisik yang utuh sehingga menjaganya dengan olahraga secara rutin. Olahraga yang rutin bisa menjadikan tubuh sehat.

Bersyukur diberikan rezeki sehingga menggunakannya untuk membeli makanan dan minuman yang halal dan menyehatkan. Mengatur dan menjaga pola serta porsi makan sehingga tubuh tetap sehat dan terhindar dari resiko penyakit.

Bersyukur diberikan keluarga, kesempatan menuntut ilmu, berkah melimpah setiap waktu sehingga berusaha untuk selalu melakukan yang terbaik pada setiap kesempatan, memberikan kebermanfaatan, perbanyak ibadah dengan lebih banyak senyum, banyak berbagi dan mengendalikan pikiran agar tidak sampai stress

Senam diabetes bisa menjadi solusi mudah dalam menjaga kesehatan tubuh khususnya bagi saya yang notabene malas untuk bergerak ataupun berolahraga. Gerakan yang mudah dan ringan bisa dilakukan disela-sela aktivitas harian yang padat. Yuk tengok lebih lanjut videonya :D

Mudah bukan ? 
Yuk senam diabetes, salah satu cara bersyukur dengan merawat serta menjaga kesehatan tubuh. 

Masih banyak hal yang patut untuk disyukuri. Banyak hal juga yang bisa membuat bahagia. Sesederhananya bahagia mensyukuri hal-hal kecil yang bahkan sering tidak disadari ataupun terabaikan,  yaitu nikmat sehat. Antara sehat, syukur dan bahagia sebagai salah satu trik jitu mencegah, melawan dan mengobati penyakit diabetes #LawanDiabetes menuju Indonesia#lebihbaik. 

Referensi: 
-----
Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Penulisan Blogger 
Hari Kesehatan Sedunia 2016: Cegah, Obati, Lawan Diabetes
Semoga bermanfaat :)

13 komentar:

  1. Syukur, sehat, bahagia. 3 hal yang saling berhubungan ya. kalau banyak syukur jadi makin sehat dan bahagia #lihatgrafik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaaap saling berhubungan satu sama lain :D
      Semangat hidup penuh syukur, selalu sehat, dan melimpah bahagia =)
      Grafiknya ngefek banget ya? wkwkww

      Hapus
    2. heheehe iya ngefek banget
      Semoga menang ya. . atau udah menang ini ?

      Hapus
  2. Berarti harus banyak bersyukur ya biar makin sehat dan selalu bahagia. Hmmm aku kurang banget bersyukur padahal banyak banget yang dikasih Allah ke aku, hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, kudu banyak bersyukur biar gak kufur :D Allah Maha Baik, kita yang banyak salah, khilaf dan dosa begini kalau minta tetep aja dikabulin :' Hmmm. . Astaghfirullah. .

      Hapus
  3. Semangat hidup sehat dan bahagia mulai dari banyak" bersyukur. .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yukkk semangaaaatssss 😁😂💪

      Hapus
  4. Menarik sekali artikelnya :) Banyak yang tidak menyadari bahwa banyak syukur adalah dasar dari kesehatan dan kebahagiaan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semogaa bermanfaaat yaa 😁😂
      Iyaaa padahal syukur, sehat dan bahagia saling berhubungan satu sama lain. Syukur sebagai pondasi dasarnya 😇

      Hapus
  5. Sepakat dengan grafiknya. Kalau kurang bersyukur berarti kurva sehat dan bahagianya juga kritis. Jadi harus banyak bersyukur biar jauh dr stress dan perasaan tidak bahagia. Jadi banyak syukur = bahagia dan sehat terus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaaaak betull. .#tossdulu
      Semoga bermanfaat yaa. .salam kenal dan terima kasih sudah berkunjung 😁

      Hapus
  6. Kudu banyak bersyukur 😇 Apik mbak infografis e. . Mantap

    BalasHapus
    Balasan
    1. Suwuun dekkk semogaaa bermanfaaat 😊

      Hapus

COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES