Sabtu, 10 September 2016

Aku lelah dikatakan gendut.

Selamat malam kenangan. Malam ini hati kecil kembali berulah.  Aku tak sepenuhnya menikmati agenda jalan-jalan menyusuri sungai kalimas surabaya. Menahan agar seperti semuanya baik-baik saja.  Begitu harapku,  tapi tak bisa. Terlalu kuat untuk membuatnya sedikit tenang,  tak merajuk sedemikian kuatnya. Alhasil aku jalan sendiri dengan pollux. Yang setia dan tak pernah membiarkanku sendiri dalam rajukan hati kecil ataupun olok-olokan yg lain.  

Mungkin. Hati kecil sudah sedemikian lelahnya. Sedemikian bosannya dia mendengar olok-olokan betapa gendutnya aku. Mungkin.  Mungkin saja begitu. Aku lelah dikatakan gendut. Namun mungkin usahaku kurang keras, niatku kurang kuat untuk mengusir lemak-lemak jahat ini. Aku lelah dikatakan gendut. Namun mungkin aku kurang tegas menolak setan jahat yang memaksaku untuk makan melewati jam-jam larangan makan. Aku lelah dikatakan gendut. Aku lelah. Aku ingin pulang. Sepertinya hanya keluargaku yang tak pernah sekalipun membahas secara fisik seperti itu. Aku lelah. Aku ingin pulang.

Sedikit hiperbola mungkin hati kecil sekarang. Tapi tak apa, aku menikmatinya. Mungkin hanya perlu membuat jarak. Perlu jauh sejenak. Terima kasih pollux untuk malam ini. Tak apa untuk sementara ini gendut. Terima kasih untuk pelajaran hidup yang dengan sabar kau ceritakan ulang padaku, bagikan hal-hal baik tentang orang lain. Simpan hal yang jelek,  sampaikan secara personal karena menyampaikannya di depan umum sama saja dengan mempermalukannya. Meskipun maksudmu tidak begitu. 

Satu hal pelajaran hidup yang lain. Berhenti mengomentari fisik orang lain. Karena kamu tidak pernah tau betapa kerasnya orang itu memperbaiki ataupun berusaha keras membuat fisiknya lebih baik. Bukankah tulusnya hati sangat jauh lebih baik daripada sekedar cantiknya fisik?  

Terima kasih untuk setiap teguran yang dengan bahagia dilontarkan padaku. Aku lelah dikatakan gendut.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES