Jumat, 17 Juni 2016

Tekan Laju Deforestasi – Bukan Sebuah Pilihan Namun Kewajiban

Hutan Indonesia Paru-paru Dunia (Sumber)
Indonesia sebagai paru-paru dunia dengan kekayaan hayati berupa hutan tropis yang memiliki luas terbesar ketiga setelah Brazil dan Zaire. Luas kawasan hutan Indonesia pada tahun 2012 mencapai 130,61 juta ha yang merupakan 68,6% dari total luas daratan Indonesia (Kementrian Kehutanan, 2011). Fungsi hutan yang sangat penting dalam menunjang keseimbangan lingkungan seperti mengatur tata air, mencegah dan membatasi terjadinya banjir, serta memelihara kesuburan tanah. Hutan juga menjadi salah satu unsur strategi pembangunan nasional melalui pemanfaatan hasil hutan secara bijaksana melalui program tebang pilih.

ANCAMAN KEBERADAAN KAWASAN HUTAN INDONESIA

Kerusakan Hutan di Indonesia Semakin Kritis (Sumber)
Seiring berkembang pesatnya pembangunan dan pertumbuhan penduduk yang meningkat setiap tahun membuat pemanfaatan hasil hutan menjadi tidak terkendali. Terjadi deforestasi besar-besaran sehingga mengakibatkan permasalahan lingkungan yang sangat serius. Laju deforestasi pada periode tahun 2000-2009 sebesar 1,51 juta ha/tahun, dengan laju deforestasi terbesar terjadi di Kalimantan yaitu 220.586 ha/tahun. Apabila laju deforestasi tidak ditekan, maka diperkirakan pada tahun 2020 kawasan hutan di Jawa akan habis dan pada tahun 2030 kawasan hutan di Bali-Nusa Tenggara juga akan habis (FWI, 2011). Selain itu, terjadinya alih fungsi lahan kawasan hutan menjadi pemukiman ataupun menjadi perkebunan kelapa sawit dengan tujuan industri komersil perlu mendapatkan penanganan yang serius. Bidikan ancaman yang sangat serius tersebut menimbulkan tingkat kerusakan hutan di Indonesia per tahunnya mencapai 45% terbagi menjadi 32% kawasan hutan dan 13% di luar kawasan  hutan (Kementerian Kehutanan, 2011). Hampir setengah dari luas hutan di Indonesia telah terfragmentasi oleh jaringan jalan, jalur akses lainnya serta berbagai kegiatan pembangunan seperti perkebunan dan industri.

Faktor ancaman lainnya yang perlu mendapatkan perhatian serius mengenai keberadaan kawasan hutan Indonesia yaitu pembalakan skala besar sampai pembukaan hutan skala kecil oleh keluarga petani, dari tebang habis untuk membuka lahan industri pertanian hingga kehancuran akibat kebakaran hutan yang berulang (FWI, 2011). Hutan alam di Sumatera hilang 1% setiap tahunnya akibat pembukaan lahan perkebunan kayu dan kelapa sawit yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan kita akan produk tisu, kertas, makanan dan pembersih yang berbahan baku komoditas tersebut. Sepanjang tahun 1990 hingga 2005, setidaknya 56 persen atau seluas 1,7 ha pembukaan lahan untuk perkebunan sawit banyak dilakukan pada kawasan hutan yang masih tertutup hutan (LP Koh dan DS Wilcove, 2008). Hingga Juni 2010, tidak kurang dari 2,8 juta ha kawasan hutan dilepaskan untuk keperluan ekpansi sawit sementara realisasi tanamnya baru mencapai 1,11 juta ha (Kemenhut RI, 2014). Beberapa laporan dari berbagai LSM maupun Badan Pemeriksa Keuangan yang memotret sepak terjang perusahaan perkebunan sawit di kawasan hutan bahkan memperlihatkan bagaimana okupasi sawit pada kawasan hutan dalam berbagai kasus sudah tidak segan-segan untuk melakukan pembukaan lahan dengan membabat hutan (land clearing) tanpa izin pelepasan kawasan.

AKIBAT HILANGNYA KAWASAN HUTAN

Prediksi bencana yang akan terjadi akibat hilangnya kawasan hutan yang merupakan habitat asli dari berbagai spesies yang hidup di hutan. Meskipun luas daratan Indonesia hanya 1,3% dari luas daratan permukaan bumi, namun di dalamnya memiliki tingkat keanekaragaman yang sangat tinggi dan sebagian besar spesies ini hidup di dalam hutan–hutan Indonesia. Spesies ini meliputi 11% spesies tumbuhan dunia, 10% spesies mamalia, dan 16% spesies burung (FWI/GFW, 2001). Selain itu, hutan Indonesia juga menjadi rumah beberapa mamalia paling disayangi di dunia, yaitu orangutan, harimau, gajah, dan badak. Terjadi penurunan populasi dari masing-masing mamalia akibat fragmentasi hutan dan pembangunan pertanian yang terjadi di kawasan hutan. Lebih dari 50% jumlah badak merosot selama sepuluh tahun terakhir (FWI/GFW, 2001). Fragmentasi dan konversi habitat yang terjadi secara khusus juga telah menghancurkan spesies primata.

Hutan-hutan Indonesia juga menyimpan jumlah karbon yang sangat besar dan mampu menghasilkan lebih dari 14 miliar ton biomassa yang setara dengan sekitar 20% biomassa di seluruh hutan tropis di Afrika. Jumlah biomassa ini secara kasar menyimpan sekitar 3,5 miliar ton karbon (FAO, 2001). Beberapa fragmentasi kawasan hutan yang secara ekstensif terjadi di Indonesia sementara hutan yang ditanami kembali masih sangat terbatas sehingga menyebabkan lebih banyak karbon yang dihasilkan daripada yang disimpan (FWI/GFW, 2001). Hal ini berarti karbon yang dihasilkan memberikan andil yang besar terhadap pemanasan global.

TEKAN LAJU DEFORESTASI DAN KERUSAKAN HUTAN
Kondisi hutan di Indonesia yang semakin memprihatikan menuntut aksi nyata untuk menekan laju kerusakan yang terjadi. Salah satu LSM lingkungan yang terbesar, Wahana Lingkungan Hidup (WALHI), telah menyerukan suatu penangguhan total terhadap semua industri pembalakan di areal hutan alam, yang dilakukan secara bertahap selama 2-3 tahun. Hal ini disampaikan pada Consultative Group on Indonesia (CGI). Namun kondisi yang ada, banyaknya masalah-masalah yang terjadi di berbagai bidang seperti politik, sosial dan ekonomi yang dihadapi Indonesia, dan hampir tidak adanya tindakan terhadap masalah-masalah agenda reformasi kebijakan kehutanan apa pun selama beberapa tahun yang lalu, membuat ramalan mengenai hutan-hutan Indonesia tetap suram.

12 Komitmen Indonesia kepada CGI Mengenai Hutan dan Kebijakan Kehutanan
Penekanan laju deforestasi dan meminimalisasi bahaya kerusakan hutan di Indonesia sebenarnya bisa dilakukan mulai dari hal yang paling sederhana, yaitu mengatur tingkat konsumsi terhadap bahan-bahan yang digunakan sehari-hari yang berbahan baku komoditas hasil hutan seperti tisu, kertas, dan diapers (pampers, pembalut). 
 
Aksi Pengurangan Penggunaan Tisu dan Kertas (Sumber)

Sebagai konsumen yang baik harus selektif serta cerdas dalam membeli produk dan pastikan memiliki ekolabel. Ekolabel merupakan label sertifikasi yang menginformasikan bahwa sebuah produk diproduksi dari sumber yang lestari serta melalui proses produksi yang bertanggung-jawab dan berkelanjutan. 

Beli Produk dengan Ekolabel (Sumber)
Aksi sederhana lainnya adalah melakukan penghijauan dan menerapkan prinsip satu jiwa satu tanaman. Hal ini merupakan cara sederhana gerakan penghijauan dan mengembalikan pohon-pohon yang telah ditebang bebas. Penanaman kembali hutan yang telah rusak menjadi satu cara untuk mengurangi bahaya pemanasan global yang semakin kritis. Penekanan laju deforestasi bisa dilakukan dengan melakukan reformasi UU dan Kebijakan Hutan yang ada dengan penerapan sanksi berat dan tegas terhadap siapapun yang dengan kesadarannya merusak hutan. Harapannya para oknum kerusakan hutan takut untuk melanggar peraturan yang ada.

Yuk, ikut berkontribusi menekan laju deforestasi dengan lebih peduli terhadap apa yang dilakukan dan dikonsumsi setiap harinya #beliyangbaik #nomoreconsumtifforbetterlife

REFERENSI:
Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO). 2001. Unasylva. No. 205, Vol. 52.
FWI. 2011. Potret Keadaan Hutan Indonesia Periode Tahun 2000-2009. Forest Watch Indonesia
FWI/GFW. 2001. Keadaan Hutan Indonesia. Bogor, Indonesia. Forest Watch Indonesia dan Washington D.C.: Global Forest Watch
Kemenhut RI: Jatah Lahan untuk Kebun Sawit Masih Ada 1,7 juta ha, ttp://riaubisnis.com/index.php/agriculturemainmenu-109/pertanian-news/42-pertanian/1014-kemenhut-ri-jatah-lahan-untukkebun-sawit-masih-ada-17-juta-ha.
Kementerian Kehutanan. 2011. Rencana Kehutanan Tingkat Nasional (RKTN) Tahun 2011-2030. Direktorat Perencanaan Kawasan Hutan:Jakarta
LP Koh dan DS Wilcove. 2008. Is oil palm agriculture really destroying tropical biodiversity? Conserv. Lett. 1:60-64.
www.beliyangbaik.org
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Artikel ini diikutsertakan dalam
Sayembara Blog Kependudukan 2016 BKKBN
Semoga bermanfaat dan menginspirasi. Yuk ikutan juga!
Tulis Opinimu Mengenai Kondisi Kependudukan Indonesia.
Penulis: Lucky Caesar Direstiyani

4 komentar:

  1. Miris sekali kalau liat kondisi hutan Indonesia sekarang :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa mbak. Miriis banget, banyak penebangan liar dimana-dimana. Ayok bersama beraksi mbak, bsa mulai tanam" pohon dilahan kosong. Hehehe. . #gogreen #hijauindonesia

      Hapus
  2. Kondisi hutan di Indonesia makin memprihatinkan. Semoga dengan langkah sederhana seperti mengurangi pemakaian kertas bisa turut membantu menekan laju deforestasi. Keep inspiring mbak 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakaat. Kondisi hutan makin menyedihkan :( banyak alih fungsi hutan padahal satwa" perlu tempat tinggal. Sakno ya dek :" suwuun sudah mampir 🙏

      Hapus

COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES