Rabu, 24 September 2014

Malam ini, Celotehku terlalu

Hai langit. Selalu. Masih terjaga didepan layar yang mungkin tak segan berteriak jika punya pita suara. Kadang aku tiba-tiba rindu masa lalu. Saat aku leluasa membagi cerita, bernostalgia berdua. Denganmu, tanpa ada yang mengganggu. Kamu baik ? Aku harap begitu. Kamu berhak marah, karena bahkan aku kadang tak pernah ada walau sekedar menoleh, melambaikan tangan, ataupun melempar senyuman. Memang tak sebanding, dengan tatapanmu yang selalu memberikan semangat setiap waktu. Bahagiamu yang selalu terpancar malu-malu dibelakang mentari pagi. Pesonamu yang selalu hadir bersama bintang malam. Kamu langit, masih memesona, Kamu tak perlu tau, bahwa diam-diam aku merindukanmu. 

Satu hal langit, aku (juga) merindu senja. Selalu tak ada waktu, walau sekedar menyapa. Ini jelas aku yang salah, waktu selalu memburuku. Banyak alasan ini itu hingga melupakannya. Ah senja, aku rindu tatapanmu. Tatapan yang begitu sempurna. Tatapan yang selalu mengingatkanku, bahwa dunia ada batasnya. Bahwa kita hanyalah tamu, yang suatu saat harus pergi. 

Ah senja. Kamu baik ? Semoga tidak cemburu bahwa banyak waktuku bertemu langit. Tak terbatas. Kapanpun.Dimanapun. Ini hanya masalah waktu. Kita hanya terpisah oleh waktu. Yang dengan puasnya tertawa melihat rindu yang semakin menggebu. Aku begitu merindu ocehanmu tentang badanku yang tak kunjung kurus. Selalu bahagia berdua denganmu, memeluk semua kenangan yang telah berlalu dari hari ke hari. Senang, bahagia , susah atau bahkan penuh haru biru semuanya terlukis jelas dilangit-langit tubuhmu. Bahagia yang begitu cantik berwarna lembayung, bahagia yang merindukan, begitu sederhana dan penuh mantra-mantra cinta. 

Ah ya ada banyak cerita yang perlu kau dengar. Tentang merahku yang sampai sekarang tak ada peningkatan. Satu sisi aku bahagia, karena kagum diam-diam lebih istimewa. Dengan banyak spekulasi yang mungkin muncul dan membuat hati berbunga-bunga. Satu sisi lain, kehidupan memaksaku untuk tetap melihat keadaan yang ada. Dan bahagia bukan harus bersama. Entahlah, aku tidak mau terlalu berandai-andai dengan kondisi takutku masih mendominasi bahkan hanya untuk sekedar menyapa atau membagi asa.

Satu hal, malam ini celotehku terlalu panjang. Maaf langit, aku hanya tidak bisa terus menahan. Sekian, titipkan salam diam-diam ini. terima kasih atas kesediaan selalu mendengarkan. Doakan, semoga besok aku bisa bertemu senja.Dan merah, semoga beraniku cukup untuk sekedar menyapa atau bertanya kabar. Selamat merangkai sukses! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES