Selasa, 24 Juni 2014

Writing is cool, as always

Sore ini, Caruban begitu memesona. Semilir angin menerobos angan, menabrak dinding-dinding kekecewaan. Menaburkan bahagia dan asa yang kian sempurna terajut. Syukurku haruslah selalu lebih, terlepas dari sakit sejak Sabtu lalu. Gastritis ternyata rindu pada sang empunya tubuh, rindu menggeliat dalam lambung yang mungkin sudah kemerah-merahan sama seperti beberapa tahun silam. Masih ingat benar bagaimana kamera endoskopi menjelajahi organ dalam. Mirisnya (juga) masih terasa sampai sekarang. 

Memang begini kondisinya, ketika semua capek dan lelah terakumulasi menjadi satu. Purifikasi dari dalam diri menjadi sangat susah walau sudah dibantu dengan obat-obatan herbal. Alhasil, obat-obat kimia dari dokter jadi terpaksa diminum. Satu yang tak kusuka dari obat kimia adalah efek kantuk setelah meminumnya membuatku mau tak mau untuk mendapat porsi tidur lebih banyak dari biasanya. Tapi tak apalah, mungkin Allah sengaja memberikan bonus ini padaku #wiselythougt. Cukup tentang sakitku akhir-akhir ini, doakan flu dan batuk yang tersisa juga segera sirna. Aamiin ^^

Ada hal lain yang ingin ku bagi. Ini tentang bagaimana harusnya menyukai seorang pria. Terkadang sebagai seorang wanita memiliki rasa suka pada pria menjadi serba salah. Satu hal, susah dan merasa ganjil untuk mengutarakan terlebih dahulu. Satu hal lainnya, jika tak cukup nyali untuk mengutarakan harus sangat sabar menunggu hingga waktu berbaik hati membukakan fakta bahwa sang pria ternyata tak pernah ada secuilpun perasaan. Yah, begitulah kiranya. Dalam kasus lain, rasa suka lainnya yang sudah berlabuh pada tempatnya. Berjalan harmonis di awal-awal pertama, diterjang badai kecil di tahun ketiga, dan sampai akhirnya tsunami datang menghancurkan segalanya termasuk kepercayaan dan ikrar kesetiaan. Entahlah, aku jadi tak begitu paham dengan semua urusan mengenai perasaan. Masih terlalu trauma untuk mengenang segala hal tentang suka cita dengan apa yang disebut cinta. Vakum dulu sepertinya, biarkan lebih tenang. Masih bergejolak setiap mengingat masa lalu. Bahkan sampai sekarang, yang bermasalah belum tau bahwa kejelekkannya sudah terbongkar seluruhnya. Entahlah, bagaimana nasib project yang sedang goal menuju babak akhir. Masih susah, sangat susah bahkan mengendalikan. 

Sekian cerita sore ini. Terima kasih sudah cukup meringankan beban di otak. Selalu, menulis adalah salah satu hal paling ampuh meredam amarah, membagi kesedihan dan menambah kebahagian. Sampai jumpa, malam ini aku ada jadwal nge-date dengan langit. Kamu, jangan cemburu ya :p

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES