Jumat, 20 Juni 2014

Cukup, Aku lelah

Selamat hujan tengah malam. Selamat menatap lorong harapan lebih dalam. Lebih lama merajuk agar hati kecil tak lagi mengutuki diri sendiri. Mengurung paksa rasa yang semakin tumbuh. Ya, mengubur dalam-dalam. Entahlah, aku tak pernah berpikir dua kali bagaimana bisa kudapatkan kembar baiknya ayahku. Hanya ingin seperti beliau. Begitu sempurna dalam kesederhanaan, tanpa ada keluhan ataupun cercaan. Mulianya tutur kata, tulusnya kasih sayang yang selalu diberikan. Ini yang membuatku begitu menghormatinya, selalu memegang teguh prinsip kejujuran dan kerja keras untuk mencapai bahagia dunia akhirat. Ah hujan, aku begitu merindukannya.

Selalu, masih sering keluhanku bermuara setiap dering telpon menyapa. Menyambung cerita antar kota. Merangkai mozaik harapan yang aku bahkan tak pernah tau bisa sempurna menjadi satu cerita. Lagi-lagi ini tentang rasa. Separuh rasa tersisa yang harus kupikirkan betul akan berlabuh dimana. Untuk pria spesial masa depan yang belum kutahu namanya. Jujur, trauma masih sering mendera. Mengingat yang pernah menjadi kesayangan ternyata melabuhkan hatinya ke dermaga berikutnya. Cukup, tak banyak waktu untuk mengingat atau merangkai rasa yang terlanjur membusuk. Sungguh, Allah punya rencana lebih indah di masa depan. Kamu hanya cukup percaya dan terus berusaha. Cukup untuk malam ini, aku lelah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES