Tuesday, April 15, 2014

Yang terkasih, kembarku

Suara kipas angin memenuhi ruang cukup luas bercat putih, menyisakan aku yang tetap tertuju pada layar si ovo. Menerobos lorong kata yang penuh dengan sarang laba-laba. Ternyata, cukup lama ku meninggalkannya. Terbengkalai dalam diam, tanpa cerita tanpa ceria. Sajak-sajakku beberapa menderu.

Kamu pun begitu. Akhir-akhir ini tatapanmu serasa ingin membunuhku. Melihat setiap jengkal apa yang kulakukan (hanya) dari jauh. Membiarkanku jatuh bangun dalam kotak penuh liku. Seolah memberikan sinyal cemburu, karena pikirku akhir-akhir ini terkuras untuk tugas bekal masa depan. Berkutat hingga pagi dengan rentetan angka, perencanaan, surat-surat atau bahkan slide-slide berisi teori terkemuka. Ah sudahlah maaf, ini dayamu. Menatapku dengan tajam. Tapi satu hal, kamu harus tau aku merindumu.

Ya, aku merindumu. Begitu merindu bahkan. Berceloteh tentang banyak hal. Menghayal bersama tentang kehadiran seorang pangeran. Meraba rasa, memupuk pemahaman baik, saling menguatkan untuk terus menyongsong bahagia di masa mendatang. Aku (juga) merindu senyummu. Senyum yang menenangkan, ketika ku bongkar laci-laci kekecewaan, kesedihan ataupun pengkhianatan. Senyum yang selalu menguatkan sama kuatnya dengan cinta kasih ayah ibuku. Ya kamu, aku merindumu. Merindu beradu dalam heningnya malam. Ditemani dengan suara jarum jam yang seirama dengan detak jantungku. Bercerita sepuasnya tentang hari ini, tentang dia, tentang apa yang harusnya dan tak harusnya ku lakukan. Kamu, selalu ada. Meski pada suatu waktu, aku tak sadar akan kehadiranmu. Kehadiran yang begitu nyata bagiku. Dalam setiap hembusan dan aliran darah dalam ragaku. Kamu, semoga memaafkanku. Ya kamu, kembarku. 

Untuk yang terkasih,
Kembarku.

2 comments:

COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES