Sabtu, 29 Oktober 2011

Kesenian Dong-Krek :D

Sore ini begitu menyenangkan. Wifi asrama sudah bisa digunakan lagi. Yeyy, . :D Blogger deh jadinya. Iseng-iseng aku buka file-file yang tersimpan di laptopku. ehh, ternyata aku punya satu cerpen menarik yang patut di share buat teman-teman semua.. Hhhe.. :D Selamat membaca yak.. :D

Dong-Krek 


            Hujan Gerimis menari-nari indah jatuh ke bumi. Membawa aroma tanah yang sangat khas. Membasahi jalan-jalan yang baru saja di aspal. Memberikan kesegaran pada tanaman dan pepohonan di pinggir-pinggir jalan. Hujan memang selalu memberi berkah pada setiap khalifah di bumi.
            Sore itu sejuk sekali. Ditambah lagi hujan gerimis yang menyapa dengan cerianya. Menambah kenyamanan untuk tinggal di bumi. Melupakan sejenak tentang isu-isu global warming yang sedang booming akhir-akhir ini.
            Di desa kecil ini aku tinggal. Desaku tepat berada di sebelah selatan kota Madiun atau sering dikenal dengan sebutan Kota Gadis. Aku bangga lahir di desa ini. Banyak cerita menarik yang terjadi disini. Ibuku sering bercerita padaku tentang itu semua. Benarlah, agar budaya itu tetap lestari sampai anak cucuku nanti.
            Berbicara tentang budaya membuatku teringat tentang seorang pahlawan yang menyelamatkan desaku seabad yang lalu. Pahlawan yang tak terlupakan untuk semua penghuni desa ini.  Pahlawan yang menyelamatkan desa ini dari wabah penyakit yang mematikan.
***
1864 M
            Pagi ini desa Mejayan kembali di gemparkan dengan kabar meninggalnya anak Pak RT. Itu menjadi berita korban ke-16 setelah kemarin 2 warga lainnya juga meninggal dengan penyakit yang sama. Sungguh memperihatinkan keadaan desa ini. Banyak warganya yang perlahan-lahan meninggal karena penyakit misterius mewabah sejak sebulan lalu.
            Penyakit itu sungguh aneh, ketika siang sakit sore hari meninggal dunia atau pagi sakit malam hari meninggal dunia. Hal itu semakin meresahkan warga. Semuanya khawatir kalau penyakit itu mengenai keluarga atau kerabat dekatnya.
            Dalam kesedihannya, Raden Prawirodipuro sebagai pemimpin rakyat Mejayan mencoba merenungkan metode atau solusi penyelesaian atas wabah penyakit yang menimpa rakyatnya. Praworodipuro akhirnya memutuskan untuk renungan, meditasi dan bertapa di wilayah Gunung Kidul Caruban.
***
            Prawirodipuro memutuskan mencari wangsit ke Gunung Kidul Caruban. Tekadnya bulat ingin menyelesaikan masalah penyakit mematikan yang menyerang warganya. Dua hari dua malam ia bertapa di gunung itu. Namun belum juga ia mendapatkan wangsit yang diharapkan.
            Beruntungnya di hari ketiga kesempatan itu terbuka. Yang Memberi Kehidupan akhirnya luluh akan kesabaran Prawirodipuro. Wangsit itu ia dapatkan. Wangsit itu menggambarkan pasukan gondoruwo menyerang penduduk desa Mejayan.  Pasukan Genderuwo itulah pembawa wabah penyakit mematikan yang meresahkan warga Mejayan.Dalam tapanya Prawirodipuro diberikan petunjuk bahwa pasukan Genderuwo dapat diusir dengan menggiring mereka keluar dari desa Mejayan.
            “Aku harus segera pecahkan masalah ini. Kalau tidak semakin banyak yang akan menjadi korban” tuturnya dalam hati.
            Akhirnya Prawirodipuro pulang kembali ke desa Mejayan. Disana warganya sudah menunggu kedatanggannya. Berharap-harap cemas, takut kalau pemimpin desanya juga menjadi korban keganasan penyakit itu.
***
            Sore setelah kepulangan Prawirodipuro, seluruh warga desa Mejayan berkumpul di Balai desa. Mereka semua tampak serius membahas tentang wangsit yang Prawirodipuro dapatkan dari Gunung Kidul Caruban.
            “Selamat malam seluruh rakyatku”
            “Selamat malam Raden”
            “Kita disini akan membahas tentang hal-hal apa saja yang harus kita lakukan untuk memberantas wabah penyakit mematikan yang sudah meresahkan desa kita akhir-akhir ini”
            “Nggih1 Raden” jawab salah seorang warga
            “Menurut wangsit yang saya dapat kita harus melakukan sesuatu untuk bisa menggiring para penyebar penyakit itu keluar dari desa kita” jelas Prawirodipuro meyakinkan.
            Para Warga bingung mendengar penjelasan Prawirodipuro. Namun, salah seorang warga disana ternyata paham dan langsung angkat bicara.
            “Apakah maksud Raden wabah penyakit itu berhubungan dengan hal mistis seperti Gondoruwo ?” tanya seorang Kakek terbata-bata.
            Prawirodipuro hanya mengangguk. Warga lainnya mulai gaduh. Tak menyangka ternyata penyakit mematikan itu berhubungan dengan roh halus.
            “Menurut penelusuran saya, Gondoruwo itu takut pada hal-hal yang ramai dan gaduh” ucap warga lainnya.
            “Benar. Saya juga berpikiran seperti itu” jawab Prawirodipuro.
            “Bagaimana jika kita menciptakan satu kesenian untuk mengusir roh halus itu ?” ucap Prawirodipuro lagi.
Warga saling berpandangan satu sama lain. Mereka berpikir dan mulai bertukar pendapat tentang rencana Prawirodipuro dalam pengusiran roh halus keluar dari desa Mejayan. Dengan perundingan yang rumit dan banyak perdebatan maka diputuskan dibuatlah semacam kesenian yang melukiskan fragmentasi pengusiran roh halus yang membawa pagebluk2 tersebut.  
***
            Segala persiapan akhirnya selesai. Hari pembalasan itu tiba. Para warga sudah siap dengan alat tempurnya masing-masing. Ada yang membawa beduk, kendang ataupun alat musik korek3. Mereka tampak bersemangat sekali hari itu.
            Dung…dung…dung krek..
            Dung krek..
            Dung krek…
             Musik mulai dimainkan. Orang tua sakti, barisan buto kolo, dan kedua perempuan tua paruh baya mulai membentuk formasi.  Para perempuan berada dalam posisi lemah sedang dikepung oleh para pasukan buto kolo4 yang ingin membunuh perempuan tersebut. Tiba-tiba muncul sesosok lelaki tua dengan tongkatnya mengusir para barisan roh halus tersebut untuk menjauh dari para perempuan paruh baya. 
Cerita berlanjut lebih menarik lagi. Peperangan berlangsung cukup sengit, pertarungan antar rombongan buto kolo dengan orang tua sakti akhirnya dimenangkan oleh orang tua sakti. Orang tua tersebut berhasil menyelamatkan kedua perempuan dari ancaman para buto kolo  dan kemudian rombongan buto kolo itu mengikuti dan patuh terhadap kehendak orang tua sakti. Orang tua sakti didampingi dua perempuan itu menggiring pasukan buto kolo keluar dari desa Mejayan.
***
Pagi ini seluruh warga bersorak-sorai. Keceriaan dan kepuasan terpancar di raut wajah mereka. Setelah kemarin acara arakan5 kesenian keliling desa Mejayan, tak ada lagi berita korban kematian akibat wabah menyakit mematikan lagi. Pagebluk yang menyerang rakyat desa Mejayan akhirnya lunas hilang tak terbekas.
            Seluruh warga akhirnya sepakat menjadikan kesenian itu menjadi tradisi dan ciri kebudayaan masyarakat Mejayan.  Dari bunyi ‘dung’ pada kendang dan ‘krek’ pada alat musik korek akhirnya kesenian ini disebut dengan Dongkrek.
***
Keterangan :
1  Iya
2 Dalam keadaan yang sulit seperti banyak masalah, wabah penyakit menyebar, kekurangan pangan.
3 Alat korek ini berupa kayu berbentuk bujur sangkar, di satu ujungnya ada tangkai kayu bergerigi yang saat digesek berbunyi krek.
4 Roh halus yang jahat
5 Keliling / mengitari
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES